Suasana kantin Unpad saat mahasiswa berkumpul dan berbincang (Warta Kema/Muhammad Hasbi Al Farizi)

Warta kema – Keberagaman sudah menjadi hal yang lumrah di lingkungan kampus. Perbedaan asal daerah sudah melekat di Universitas Padjadjaran (Unpad). Mahasiswa yang merantau jauh ke Unpad menghadapi lebih dari sekadar tuntutan akademik. Perbedaan bahasa, budaya, hingga lingkungan sosial menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi dalam proses adaptasi, bahkan memengaruhi cara mereka berkomunikasi dan mengekspresikan diri.

Keputusan untuk merantau sering kali didorong oleh keinginan untuk berkembang. Beberapa mahasiswa rantau percaya bahwa merantau adalah salah satu kesempatan untuk mandiri dan keluar dari zona nyaman. Kilmanto Dowansiba, mahasiswa Fakultas Keperawatan (Fkep) asal Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, sudah memiliki niat tersebut sejak lama.

“Alasannya pertama itu bisa dibilang dari SMP itu udah niat, lah, aku SMA mau merantau keluar, pengen cari pengalaman terus bisa belajar sama temen-temen yang bisa dibilang ga dari satu daerah, lah, jadi bisa belajar dari temen-temen berbagai daerah,” ujar Kilmanto.

Meninggalkan rumah mungkin bukan keputusan yang mudah. Victorya Prapaskah Putry Cantika, mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) asal Kota Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), menganggap merantau adalah cara untuk mengembangkan potensi diri. Ia percaya jika hanya diam di tempat yang sama, ia tidak akan mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

“Dari lingkungan aku SMA di Jawa, kan pasti lebih maju secara pendidikan, kan. Aku ngerasa cara belajar mereka pasti lebih bagus dari aku dan aku bisa banyak belajar,gitu,” ujar Victorya.

Selain menyesuaikan diri secara personal, mahasiswa perantau juga menghadapi proses adaptasi budaya dan sosial yang tidak kalah kompleks. Raki Ahmad Hazim, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) asal Medan, Sumatera Utara, membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan budaya dan gaya bahasa di Jatinangor. Baginya, perbedaan cara berkomunikasi, gaya bercanda, penggunaan bahasa, hingga norma sosial yang berlaku di lingkungan baru sering menjadi tantangan tersendiri. 

“Paling terasa itu bedanya di bahasa dan cara berinteraksi. Aku lihat dulu cara mereka ngobrol, bercanda, cara mereka menyikapi sesuatu. Lama-lama aku paham, bukan berarti aku harus berubah total, tapi aku belajar menyesuaikan tanpa kehilangan diri sendiri,” ujar Raki.

Beradaptasi dengan perbedaan bahasa memang sudah pasti. Namun, perbedaan cara berbicara dan logat bisa menjadi suatu hal yang sulit dalam lingkungan kampus. Logat yang unik bisa menjadi hal yang baru bagi beberapa orang. Lateefa Humaira Aaravi, mahasiswi Fikom asal Pekanbaru, Provinsi Riau, merasa culture shock dengan perbedaan cara berbicara ketika datang ke Jatinangor. Awalnya, hal tersebut membuatnya tidak percaya diri karena logat ketika berbicara bukan hal yang biasa bagi orang di sekitarnya.

“Karena kalau misalnya aku pakai logat, tuh, rasanya kasar. Terus juga kayak kalau aku pakai logat, tuh, terlalu cepat gitu, loh, ngomongnya. Kadang orang gak ngerti, jadinya aku kalau ngomong emang bahasa Indonesia asli aja, gitu. Kalau misalnya aku kayak kelepasan, tuh, kadang suka di call out, gitu. Jadi aku kayak malu aja gitu, kayak dibilang ‘eh keluar, eh keluar’ digituin aja sebenarnya tapi kayak cuman bercandaan aja,” ujar Lateefa.

Miskomunikasi sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bahasa dan kata memiliki penyebutan dan arti yang berbeda. Seperti yang dialami Raki, kata “motor” memiliki penyebutan yang berbeda dalam bahasa Medan. Oleh karena itu, ia membutuhkan usaha yang lebih untuk menjelaskan dan meluruskan beberapa makna kata sehari-hari. 

“Aku di Medan nyebut motor itu kereta, sementara di sini orang paham kereta ya kereta api. Pernah aku nanya ke temen, ‘Kamu bawa kereta gak?’ terus dia bingung, ‘Kereta apa?’ dari situ baru aku sadar ternyata istilah yang buat aku biasa, di sini bisa bikin miskomunikasi. Kalau ada kejadian kayak gitu biasanya aku jelasin. Memang kadang butuh usaha lebih buat menjelaskan hal-hal kecil yang sebenarnya kita anggap biasa,” ujar Raki.

Raki mengungkapkan bahwa ia sempat kesulitan mengikuti praktikum ketika teman kelompoknya membahas materi menggunakan bahasa daerah. Hal tersebut membuatnya tidak memahami materi dan kesulitan mengikuti jalannya praktikum. 

“Kalau di luar akademik mungkin masih bisa dimaklumi ya pakai bahasa daerah, tapi kalau di lingkup akademik, seperti praktikum, aku sempat ngerasa agak susah juga. Soalnya ada beberapa yang pakai bahasa daerah, sementara aku gak ngerti. Jadi, kadang harus nanya lagi maksudnya apa,” Ujar Raki.

Raki juga berpendapat, seharusnya dalam tingkat akademik, orang-orang harus profesional dalam berkomunikasi dan lebih baik menggunakan bahasa Indonesia saja. Agar semua mahasiswa dari daerah mana pun bisa mengerti dan tidak perlu mengalami kesulitan. 

“Menurut aku, kalau di pendidikan, apalagi situasi formal seperti praktikum, seharusnya bisa pakai bahasa Indonesia biar semua orang paham. Karena kita datang dari daerah yang beda-beda, jadi lebih profesional juga kalau komunikasinya pakai bahasa yang semua orang ngerti,” ujar Raki. 

Meski menghadapi berbagai tantangan, lingkungan yang suportif perlahan membantu para mahasiswa rantau untuk kembali membangun kepercayaan diri. Seiring waktu, mereka menemukan orang-orang yang mampu menerima perbedaan sebagai bagian dari keberagaman dan bukan sesuatu yang harus diubah. 

“Ada juga yang ngerasa itu, tuh, gak apa-apa kok. Lucu, kok. Kayak ngerasa nangkepnya unik gitu,” ujar Lateefa.

Rasa nyaman dan berani untuk jadi diri sendiri seharusnya dirasakan oleh semua kalangan. Rasa tidak percaya diri atau insecure dengan identitas asal daerah seharusnya tidak dirasakan oleh siapa pun. Raki yakin bahwa lingkungan yang sehat dan inklusif harus tertanam di setiap sudut kampus. Ia merasa lingkungan yang ideal akan akan membantu kehidupan masyarakat. 

“Menurut aku kalau lingkungannya sehat dan suportif, kita gak merasa harus ninggalin identitas kita supaya diterima. Justru karena orang-orang di sekitar terbuka, aku tetap bisa bawa cara aku, logat aku, dan kebiasaan dari daerah asal tanpa takut dihakimi. Adaptasi itu buat menyesuaikan, bukan menghilangkan siapa kita,” ujar Raki.

Identitas dan budaya daerah adalah bagian penting dari kehidupan. Logat dan bahasa merupakan hal yang melekat dalam diri kita dan produk budaya yang kita bawa ke mana pun kita pergi. Victorya berpendapat, rasa percaya diri bisa tumbuh dari lingkungan yang menerima keberagaman budaya dan mendukung kita. Ia percaya, bahwa  sudah menjadi tanggung jawab setiap orang untuk melestarikan budaya masing-masing. 

“Kita cuman berada di tempat yang emang gak cocok sama kita aja gitu. Dan aku percaya kita semua tuh bakal ketemu tempat di mana kita tuh bakal bisa diterima. Jadi jangan merubah diri kamu seperti apa yang orang inginkan tapi tetaplah jadi diri kamu sendiri. Karena bakal ada lingkungan tuh yang bisa mendukung dan men-support kamu,” ujar Victorya.

Penulis : Muhammad Yudhistira Magis Widiawanto

Editor : Anindya Ratri Primaningtyas, Rofi Roudhiatin Dwi Andini, Fernaldhy Rossi Armanda

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *