
Warta Kema – Berbeda dengan banyak institusi pendidikan yang membatasi akses publik, Universitas Padjadjaran (Unpad) dikenal dengan kebijakan kampus yang terbuka. Kondisi ini menciptakan lingkungan akademik sekaligus ruang interaksi bagi masyarakat, termasuk para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mayoritas duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Mereka berjualan gorengan setelah pulang sekolah, sekitar pukul 12.00 WIB hingga sore. Menunya bervariatif, menyesuaikan selera mahasiswa, mulai dari yang asin seperti martabak telur dan tahu crispy hingga yang manis seperti keju aroma, donat gula, dan pisang cokelat.
ES, siswi kelas 5 SD berjualan pisang coklat selalu ditemani kakaknya, TF (kelas 1 SMP), kadang bersama sepupu mereka, SI (sekolah TK). ES mengaku bahwa pisang coklat yang ia jual dibuat langsung oleh ibu dan neneknya.
“Ini buatan mama sama nenek, aku sama kakak yang jualin” ujar ES.
Berbeda dengan ES yang berjualan bersama keluarga, SB (11 tahun), berjualan donat gula sendirian. Meskipun berjualan sendiri, SB memiliki teman bermain, yaitu sepupunya GN, penjual keju aroma. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di area Masjid Raya Unpad (MRU) sambil menunggu jualannya habis. SB tidak memproduksi jualannya sendiri, ia mendapatkan pasokan dari teman ayahnya dan mengambil upah dari setiap donat yang terjual, seperti bisnis reseller.
“Ini dari temen ayah, aku jualin lagi terus ngupahin,” ujar SB.
Keduanya memilih berjualan di Unpad karena dinilai memiliki basis pelanggan yang besar. Interaksi dengan pembeli juga menjadi daya tarik, sebab mayoritas mahasiswa dikenal ramah dan baik.
“Aku jualan di Unpad karena banyak yang beli, terus pada baik mahasiswanya,” ujar ES.
“Apalagi di Vokasi. Soalnya di Vokasi gak ada yang jualan nasi,” tambah SB, menunjukkan strategi kekosongan pasar.
Tidak hanya mahasiswa, ES mengatakan bahwa konsumennya menjangkau kalangan yang lebih luas. Para dosen dan masyarakat umum di sekitar area MRU juga meminati jualannya, meski tidak sesering mahasiswa..
“Dosen sama masyarakat umum di MRU juga suka beli, tapi kadang-kadang,” kata ES.
Meskipun sibuk berjualan, mereka tidak menomorduakan kewajiban belajar. Sebelum tidur, mereka mengaji dan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) terlebih dahulu.
“Belajar dulu, ngerjain PR. Ngajinya bukan di masjid, tapi sama mama di rumah,” ucap ES.
Menariknya, di waktu senggang berjualan, SB secara sukarela mengumpulkan anak-anak yang lebih kecil darinya (kelas satu sampai dua SD) untuk belajar bersama di rumahnya. SB bercerita, hal ini dilakukan atas dasar keinginan dan inisiatifnya sendiri.
“Pulang ngaji masih ada waktu, aku pake buat ngerjain PR. Tapi aku sambil ngajar anak – anak juga. Itu aku ngajak belajar bareng – bareng, ngaji, muroja’ah, ngerjain hafalan,” cerita SB.
Dari hasil jerih payah berjualan, mereka mampu membiayai sendiri perlengkapan pendidikannya, seperti baju pramuka, sepatu, tas, buku, dan berbagai alat tulis lainnnya.
“Aku udah beli baju pramuka, tas, sepatu sekolah, buku, pensil sama penghapus,” papar SB dengan bangga.
Pencapaian yang paling mengharukan adalah saat Hari Ayah, 12 November lalu, di mana penjual donat gula berhasil memberikan hadiah istimewa berupa sebungkus rokok, serenceng kopi, dan sejumlah uang untuk ayah tersayang.
“Waktu tanggal 12 November, ‘kan Hari Ayah. Terus, aku ngasih rokok sebungkus, kopi serenceng, sama uang. Aku bilang kayak gini, ‘tadaaaa, selamat Hari Ayah,’” dengan penuh semangat SB bercerita.
Di Hari Ibu mendatang, ia bertekad menghadiahi ibunya dua buah daster dan celana. Ia juga menyiapkan hadiah manis berupa dua batang cokelat dan minuman herbal sebagai penawar sakit kaki ibunya.
“Nanti, pas Hari Ibu aku mau beli daster dua sama celana, soalnya (celananya) udah sobek-sobek. Aku mau ngasih cokelat dua biji sama minuman pereda sakit kaki, Mahkota Dewa namanya,” tambah SB.
Meskipun menjalani hidup sebagai penjual gorengan, semangat belajar mereka tetap tinggi. Mata pelajaran kesukaan ES adalah matematika. Ia menganggap matematika pelajaran yang menyenangkan karena memerlukan logika perhitungan. Kecintaannya pada angka ini linier dengan cita-cita mulianya, seorang guru.
“Matematika itu tinggal menghitung, seru. Bisa pusing, bisa juga enggak. Kalau udah besar, cita-citaku mau jadi guru matematika,” ucap ES.
Sedangkan, SB menyimpan ambisi besar di bidang kesehatan, cita-citanya menjadi seorang dokter. Kelak, ia akan mewujudkan mimpi tersebut di universitas tempatnya sekarang berjualan, Unpad.
“Aku mau jadi dokter. Nanti juga mau kuliah di sini, di Unpad,” ucap SB.
Dibandingkan dengan bermain, mereka lebih memilih berjualan karena menganggap lebih bermanfaat. Bagi mereka, berjualan dan berinteraksi langsung dengan mahasiswa adalah sebuah pengalaman yang lebih berharga dibandingkan bermain dengan teman sebaya.
“Aku lebih suka jualan soalnya lebih bermanfaat. Mending kayak gini, sambil main juga sama mahasiswa. Aku, sih mending main sama mahasiswa daripada sama temen-temen, soalnya temen-temen, mah gampangan,” oceh SB.
ES menunjukkan manajemen waktunya antara berjualan (Senin sampai Sabtu) dan bermain (hari Minggu). Namun, ia lebih tertarik berjualan karena memberikan pengalaman, sekaligus kesempatan bermain dan bersosialisasi dengan teman.
“Aku jualan dari Senin sampai Sabtu. Jadi, Minggu itu emang khusus buat main. Tapi, lebih seru jualan. Selain dapat pengalaman, bisa sambil main-main juga, jadi seru, ” ungkap ES.
Penulis : Rofi Roudhiatin Dwi Andini
Editor : Fernaldhy Rossi Armanda, Alifia Pilar Alya Hasani
Fotografer : Marcello Lintang Drestanta
