(Owa jawa, Sumber: commons.wikimedia.org)

Halo Sobat Warta!

Tahukah kalian bahwa tepat seminggu yang lalu merupakan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia .

Sejak tahun 2000, setiap tanggal 22 Mei telah disepakati bersama oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Hari Keanekaragaman Hayati. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran, serta menumbuhkan kecintaan terhadap keanekaragaman hayati atau biodiversitas di bumi.

Indonesia sendiri merupakan negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia yang meliputi spesies daratan dan perairan. Dengan lebih dari 16.000 pulau yang di dalamnya terdapat 10% dari spesies tumbuhan tinggi dunia, 515 spesies mamalia, 791.000 spesies reptil, 35 spesies primata, 1.592 spesies burung, 270 spesies amfibi, dan masih banyak lagi.

Maka, tidak heran kalau negara kita ini disebut-sebut sebagai megadiverse countries. Namun, pada tahun 2019 Indonesia tercatat menempati urutan ke-6 dunia untuk tingkat kepunahan biodiversitas tercepat. Dampak dari terkikisnya biodiversitas tersebut terlihat dari banyaknya bencana yang timbul akibat ketidakseimbangan ekologis yang terjadi.

Hutan-hutan secara drastis telah tereduksi melalui penebangan kayu yang tidak terkendali, serta kebakaran hutan yang menyebar luas telah mendegradasi ekosistem hutan secara besar-besaran. Padahal, keanekaragaman hayati di Indonesia terbukti turut mendukung kesejahteraan penduduk terutama dalam aspek ketahanan pangan nasional.

Akan tetapi, tidak terkendalinya peningkatan populasi penduduk yang berujung pada peningkatan pola konsumsi dan perubahan tata guna lahan. Hal tersebut saat ini masih menjadi tantangan dalam upaya pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Kita sebagai generasi muda sudah sepatutnya khawatir akan dampak dari situasi ini kedepannya. Apakah nantinya kita akan mampu bertahan menghadapi kondisi lingkungan yang kian memburuk?

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, langkah pertama yang dapat kita lakukan ialah mengenali potensi keanekaragaman hayati di sekitar kita. Dengan mengenali dan mengetahui pemanfaatannya, kita dapat terus melestarikan sekaligus mengelolanya secara berkelanjutan.

Misalnya saja pohon bambu yang hingga kini masih terus dibudidayakan oleh masyarakat. Hal tersebut terjadi karena masyarakat kita mengetahui manfaatnya dari segi ekonomi maupun sosial budaya sehingga merasa membutuhkannya.Untuk itulah arboretum Unpad hadir sebagai sarana edukasi dan eksplorasi para generasi muda khususnya mahasiswa Unpad itu sendiri.

Hingga saat ini, di atas lahan seluas 12,5 ha, arboretum Unpad telah menyimpan kurang lebih 25 jenis tanaman langka khususnya yang ada di Jawa Barat terdiri dari 16 tanaman obat, 7 pohon produksi, kolam percobaan, dan berbagai jenis satwa liar. Hingga saat ini telah tercatat ada lebih dari 200 jenis tanaman, 25 jenis burung, 16 jenis kupu-kupu, 9 jenis laba-laba serta beberapa satwa lain yang belum terdata seperti reptil, serangga, dan musang.

Hilangnya keanekaragaman hayati erat kaitannya dengan hilangnya pemanfaatan oleh masyarakat. Dengan keanekaragaman hayati yang tersimpan dalam arboretum Unpad, kita dapat memanfaatkannya sebagai media pembelajaran untuk lebih mengenal potensi alamiah di lingkungan kita.

Sebelum pandemi melanda, arboretum Unpad juga kerap digunakan sebagai sarana mahasiswa untuk melakukan kegiatan lapangan. Namun, keterbatasan yang dialami selama 2 tahun belakangan ini membuat arboretum Unpad tidak lagi ramai dikunjungi.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengenai suasana terkini di arboretum Unpad. Apakah masih sama seperti sebelum pandemi melanda?

Pada kesempatan ini, Lensa Fotografi Warta Kema telah berhasil menangkap beberapa gambar di kawasan arboretum Unpad untuk menjawab rasa penasaran kalian. Simak potret arboretum Unpad terkini.

1. Rindang Asri

Keanekaragaman hayati yang tersimpan dalam arboretum Unpad pada akhirnya menciptakan sebuah ekosistem yang baik bagi makhluk hidup di sekitarnya. Salah satu dampak yang dapat kita rasakan langsung ialah hadirnya kawasan pepohonan rindang nan asri yang menciptakan suasana segar dan tenang. Hal ini membuat arboretum Unpad juga menjalankan fungsinya dalam aspek ekologis.

2. Cekdam Unpad, Pusat Ekosistem Perairan

Cekdam Unpad merupakan salah satu ekosistem perairan umum yang termasuk ke dalam kawasan arboretum. Cekdam Unpad ini dibangun sekitar tahun 1997 dan mulai beroperasi pada tahun 1998 dengan peruntukan awal sebagai penampung air di musim kemarau dan pengendali air di musim hujan. Hingga saat ini, fungsi hidrologi tersebut masih berjalan dengan baik.

3. Flora dan Fauna yang Tetap Eksis

Apakah kalian pernah mendengar tentang buah huni?, bisbul?, atau namnam? Buah-buahan tersebut merupakan jenis buah khas daerah Jawa Barat yang memiliki segudang manfaat lho. Berbagai kandungan vitamin dan zat antioksidan pada buah-buahan tersebut sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh bahkan menyembuhkan berbagai penyakit. Sayangnya tanaman-tanaman tersebut sudah tergolong langka saat ini. Tapi tenang saja, kalian tetap bisa menemukan tanaman-tanaman tersebut ketika mengeksplor arboretum Unpad.

Reporter: Shofwatul Auliya

Fotografer: Nisrina N. A.

Editor : Fahmy Fauzy Muhammad

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 999990036

article 999990037

article 999990038

article 999990039

article 999990040

article 999990041

article 999990042

article 999990043

article 999990044

article 999990045

article 999990046

article 999990047

article 999990048

article 999990049

article 999990050

article 710000081

article 710000082

article 710000083

article 710000084

article 710000085

article 710000086

article 710000087

article 710000088

article 710000089

article 710000090

article 710000091

article 710000092

article 710000093

article 710000094

article 710000095

article 710000096

article 710000097

article 710000098

article 710000099

article 710000100

article 710000101

article 710000102

article 710000103

article 710000104

article 710000105

article 710000106

article 710000107

article 710000108

article 710000109

article 710000110

article 710000111

article 710000112

article 710000113

article 710000114

article 710000115

article 710000116

article 710000117

article 710000118

article 710000119

article 710000120

cuaca 638000021

cuaca 638000022

cuaca 638000023

cuaca 638000024

cuaca 638000025

cuaca 638000026

cuaca 638000027

cuaca 638000028

cuaca 638000029

cuaca 638000030

cuaca 638000031

cuaca 638000032

cuaca 638000033

cuaca 638000034

cuaca 638000035

cuaca 638000036

cuaca 638000037

cuaca 638000038

cuaca 638000039

cuaca 638000040

cuaca 638000041

cuaca 638000042

cuaca 638000043

cuaca 638000044

cuaca 638000045

cuaca 638000046

cuaca 638000047

cuaca 638000048

cuaca 638000049

cuaca 638000050

cuaca 638000051

cuaca 638000052

cuaca 638000053

cuaca 638000054

cuaca 638000055

cuaca 638000056

cuaca 638000057

cuaca 638000058

cuaca 638000059

cuaca 638000060

cuaca 638000061

cuaca 638000062

cuaca 638000063

cuaca 638000064

cuaca 638000065

cuaca 638000066

cuaca 638000067

cuaca 638000068

cuaca 638000069

cuaca 638000070

cuaca 638000071

cuaca 638000072

cuaca 638000073

cuaca 638000074

cuaca 638000075

cuaca 638000076

cuaca 638000077

cuaca 638000078

cuaca 638000079

cuaca 638000080

cuaca 638000081

cuaca 638000082

cuaca 638000083

cuaca 638000084

cuaca 638000085

cuaca 638000086

cuaca 638000087

cuaca 638000088

cuaca 638000089

cuaca 638000090

cuaca 638000091

cuaca 638000092

cuaca 638000093

cuaca 638000094

cuaca 638000095

cuaca 638000096

cuaca 638000097

cuaca 638000098

cuaca 638000099

cuaca 638000100

cuaca 898100101

cuaca 898100102

cuaca 898100103

cuaca 898100104

cuaca 898100105

cuaca 898100106

cuaca 898100107

cuaca 898100108

cuaca 898100109

cuaca 898100110

cuaca 898100111

cuaca 898100112

cuaca 898100113

cuaca 898100114

cuaca 898100115

cuaca 898100116

cuaca 898100117

cuaca 898100118

cuaca 898100119

cuaca 898100120

cuaca 898100121

cuaca 898100122

cuaca 898100123

cuaca 898100124

cuaca 898100125

cuaca 898100126

cuaca 898100127

cuaca 898100128

cuaca 898100129

cuaca 898100130

cuaca 898100131

cuaca 898100132

cuaca 898100133

cuaca 898100134

cuaca 898100135

article 868100071

article 868100072

article 868100073

article 868100074

article 868100075

article 868100076

article 868100077

article 868100078

article 868100079

article 868100080

article 868100081

article 868100082

article 868100083

article 868100084

article 868100085

article 868100086

article 868100087

article 868100088

article 868100089

article 868100090

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

article 328000646

article 328000647

article 328000648

article 328000649

article 328000650

article 328000651

article 328000652

article 328000653

article 328000654

article 328000655

article 328000656

article 328000657

article 328000658

article 328000659

article 328000660

news-1701