
Warta Kema – Pasar Unpad, atau yang akrab disebut Paun, menjadi salah satu destinasi setiap hari Minggu yang ramai di Jatinangor. Berlokasi di dekat gerbang menuju Kiarapayung, pasar ini menawarkan berbagai kuliner, aksesoris, hingga kebutuhan sehari-hari dengan harga terjangkau. Selain berbelanja, masyarakat Jatinangor juga kerap memanfaatkan area sekitar Paun untuk berolahraga sekaligus menikmati suasana kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) yang rindang.
Namun, di balik keramaian tersebut, ada persoalan yang luput dari perhatian yaitu ketiadaan tempat sampah di area sekitar Paun. Kondisi ini membuat banyak pengunjung akhirnya membuang sampah di lingkungan Unpad ataupun ditumpuk sementara di titik-titik tertentu yang tidak semestinya. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, sampah menumpuk hingga siang hari, bahkan terlihat berserakan hingga Senin pagi di sekitar pintu gerbang Unpad.
Masalah ini kemudian memunculkan pertanyaan siapa sebenarnya pihak yang bertanggung jawab mengelola sampah di Paun? Pedagang menyebut adanya petugas kebersihan, namun kondisi lapangan menunjukkan penanganan yang belum optimal.
Salah satu pedagang di Paun, Rani Purwani, mengaku bahwa selama ini terdapat petugas kebersihan yang berasal dari Paguyuban Warga Jatinangor (PWJ) yang akan datang mengangkut sampah tersebut. Ia sendiri tidak pernah melihat langsung proses pengangkutannya, namun tetap meyakini bahwa petugas tersebut rutin datang setelah pasar selesai beroperasi.
“Katanya suka ada petugas dari PWJ yang ngangkut, pakai seragam, bawa truk sampah. Biasanya diangkut sesudah pasar ini beres, sekitar jam 12 siang,” ujar Rani.
Efektivitas Pengelolaan Sampah Dipertanyakan

Rani menyampaikan bahwa selama ini pedagang berusaha mengelola sampah dengan menyediakan kantong sampah sendiri. Menurutnya, setelah sampah dikumpulkan, petugas kebersihan akan datang untuk menangani sampah di area pasar.
“Kita sih nyediain trash bag sendiri, jadi dikumpul mandiri dulu. Nanti kalau udah dikumpul bakal diangkut sama petugas PWJ.” ujar Rani.
Namun fakta di lapangan menunjukkan masih banyak sampah berserakan di sekitar Paun, termasuk di gerbang kampus Unpad. Hal ini mengindikasikan adanya celah dalam koordinasi atau pelaksanaan pengelolaan sampah. Terkait ketiadaan tempat sampah di area Paun, Rani mengakui pengunjung kerap kesulitan.
“Emang (tempat sampah) enggak ada sih. Paling (sampahnya) dibawa sendiri, kalau enggak ya nitip ke penjual dulu.” tambahnya.
Ia berharap ke depannya setiap penjual menyediakan penampungan sampah kecil di depan stand masing-masing, sehingga pengunjung tidak lagi kebingungan mencari tempat untuk membuang sampah saat berkunjung ke Paun.
“Harusnya penjual nyediain trash bag di depan lapak masing-masing, jadi pembeli yang bingung mau buang kemana bisa langsung buang ke situ.” ujarnya.
Sementara itu, Firman, salah satu pengunjung yang sudah rutin datang sejak kecil, mengaku nyaman dengan suasana Paun. Meski begitu, ia juga menyadari minimnya keberadaan tempat sampah di area Paun.
“Dari kecil memang suka ke sini. Suasananya asri kalau lihat Unpad, enak buat jalan jalan di hari Minggu sambil jajan. Tapi kalau tong sampah di sekitar pasarnya nggak pernah lihat, jadi saya biasanya cari tong sampah di Unpad.” ujar Firman.
Baik pedagang maupun pengunjung sepakat bahwa pengelolaan kebersihan Paun perlu ditata agar tidak menimbulkan permasalahan baru. Dengan adanya perhatian terhadap isu ini, masyarakat berharap pihak terkait dapat memberikan solusi yang lebih jelas dan terpadu sehingga kebersihan lingkungan tetap terjaga tanpa mengurangi kenyamanan beraktivitas di area Paun dan sekitarnya.
“Harusnya untuk meningkatkan kebersihan, ya diperbanyak tempat sampah, supaya masyarakat yang berkunjung nggak bingung mau buang sampah dimana.” ucap Firman.
Penulis : Hilma Nurul Adzkia
Editor : Wulan Suciyati Maharani, Fernaldhy Rossi Armanda, Alifia Pilar Alya Hasani
