
Warta Kema – Pembagian jas almamater (almet) untuk mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad) 2026 mengalami berbagai kendala lantaran adanya kekurangan stok untuk beberapa ukuran tertentu. Hal ini menyebabkan banyak mahasiswa harus datang kembali pada hari-hari selanjutnya untuk melakukan pengambilan. Pihak kampus kemudian berjanji untuk menghubungi mahasiswa yang belum mendapatkan almet setelah stok sudah tersedia. Akan tetapi, informasi mengenai ketersediaan stok sering kali tidak sesuai dengan fakta yang ada. Sejumlah mahasiswa mengaku telah dihubungi oleh pihak kampus melalui Whatsapp untuk mengambil almet, tetapi setibanya di lokasi pengambilan, stok yang dibutuhkan justru dinyatakan telah habis.
“Teman-teman aku dapat chat dari Unpad untuk ambil almet, tapi ternyata pas datang masih gak bisa ambil. Mereka kecewa karena banyak menguras tenaga dan biaya untuk mobilitas ke Unpad,” ujar X, salah satu mahasiswa baru.
Permasalahan pembagian almet ini berlanjut hingga hari terakhir Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru – Penerimaan Raya Mahasiswa Baru (PKKMB – Prabu) 2026. Pada hari tersebut, terdapat sejumlah mahasiswa yang masih belum mendapatkan kepastian mengenai pembagian almet mereka. Padahal, almet merupakan salah satu atribut yang wajib digunakan dalam rangkaian acara Prabu. Namun, permasalahan ini membuat almet tidak lagi menjadi atribut wajib bagi peserta Prabu. Mahasiswa yang belum mendapatkan almet terpaksa harus mengikuti rangkaian Padjadjaran Opening Ceremony tanpa mengenakan almet. Informasi terakhir yang mereka dapatkan menyebutkan bahwa pembagian almet akan dilakukan melalui fakultas. Meski demikian, belum ada kepastian mengenai waktu pembagian tersebut.
“Sampai sekarang aku juga belum dapet kabar lagi dari Unpad untuk waktu pastinya,” tutur N, salah satu mahasiswa baru.
Atas permasalahan ini, beberapa mahasiswa mengaku sangat kecewa dan sedih lantaran tidak bisa merasakan euforia Prabu seperti mahasiswa baru lainnya. Mahasiswa menilai bahwa almet merupakan salah satu hal yang telah dinantikan sejak masa persiapan perkuliahan.
“Seharusnya masa Prabu ini aku merasakan senangnya pakai almet, foto-foto. Tapi aku kecewa banget sampai prosesi Prabu selesai belum juga dapet hak aku,” keluh NR, salah satu mahasiswa baru.
Mahasiswa berharap pihak kampus dapat berbenah mengenai sistem pembagian almet. Menurut mereka, sistem pembagian seharusnya sesuai dengan prosedur pengisian dan penjadwalan yang sudah ditentukan.
“Kedepannya, pembagian almet harus sudah direncanakan sebelumnya, dihitung stoknya., Kalau almetnya enggak dibagikan secara rata, apalagi sampai Prabu sudah mulai, menurut aku itu kurang profesional dan sangat wajar apabila orang tua dan mahasiswa marah, ” harap NR.
Selain itu, mahasiswa berharap penerapan regulasi dapat lebih konsisten lantaran permasalahan yang disinyalir dipengaruhi oleh kurang tegasnya pihak kampus. Pihak kampus dinilai terlalu memberikan kelonggaran kepada mahasiswa baru untuk melakukan pengambilan dan penukaran almet di luar jadwal yang sudah ditentukan.
“Dan kedepannya untuk lebih tegas lagi, karena di regulasi sudah tertulis untuk tukar dan ambil almet itu waktunya kapan. Jadi, jika ada yang mau ambil atau tukar di luar waktu ketentuan bisa untuk tidak dikasih izin,” tutup NR.
Penulis: Fadhil Mafaza
Editor: Anindya Ratri Primaningtyas, Rofi Roudhiatin Dwi Andini, Fernaldhy Rossi Armanda
