
Warta Kema – Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) pada bulan November kemarin menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat. Momen ini juga menjadi ruang refleksi bagi para akademisi dan mahasiswa yang berkecimpung di bidang kesehatan untuk menegaskan kembali peran HKN dalam mendorong perilaku preventif dan gaya hidup sehat di tengah tingginya prevalensi penyakit yang memerlukan kewaspadaan preventif.
Dinda Prima, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad), menilai bahwa HKN bukan sekadar seremoni, tetapi refleksi berkelanjutan atas upaya menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif.
“Pada (tahun) 2025 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengangkat tema generasi sehat, masa depan hebat. Ini merupakan langkah Kemenkes untuk membangun generasi yang tidak hanya sehat saat ini, tetapi juga produktif hingga (tahun) 2045 nanti,” ujar Dinda.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Aufa Nabil, mahasiswa FK Unpad, menekankan bahwa HKN memiliki makna preventif bagi masyarakat. Aufa menyebutkan bahwa HKN memberi ruang edukasi yang lebih luas bagi mahasiswa kedokteran untuk berperan aktif.
“HKN itu semacam bentuk celebration dunia kesehatan sekaligus raising awareness bagi masyarakat maupun mahasiswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Ini momen yang mendorong kita melakukan upaya preventif, agar masyarakat lebih memahami pencegahan penyakit sebelum terjadi,” ungkap Aufa.
Peringatan HKN tahun ini pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan peningkatan kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab seluruh lapisan, termasuk komunitas akademik yang berperan dalam edukasi dan pelayanan kesehatan. Menanggapi hal ini, Fakhri Abdurrahman Khafid, mahasiswa FK Unpad, menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam membangun kesadaran akan perilaku hidup sehat.
“HKN itu penting karena banyak mahasiswa yang masih belum sadar akan kesehatan. Adanya HKN bisa meningkatkan kesadaran mahasiswa. Selain itu, dengan jumlah mahasiswa sangat banyak, mereka berpotensi menjadi agen perubahan untuk membentuk perilaku hidup sehat di masyarakat,” terang Fakhri.
Dinda menanggapi bahwa keberhasilan program kesehatan memerlukan peran aktif dari berbagai sektor, termasuk sivitas akademika. Peran ini dapat diwujudkan melalui kegiatan kolaboratif antara dosen dan mahasiswa untuk mendorong gaya hidup sehat.
“Dosen sebaiknya menjadi teladan dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti olahraga, naik tangga, atau datang tepat waktu. Selain itu, mereka bisa membuat program bersama mahasiswa agar akademik dan kesehatan berjalan seimbang,” ujar Dinda.
Menjaga kesehatan menjadi hal penting bagi mahasiswa, karena kondisi fisik dan mental yang prima sangat mempengaruhi prestasi akademik. Dinda menekankan bahwa meskipun kampus telah menyediakan fasilitas kesehatan, keberhasilan menjaga kesehatan tetap bergantung pada kesadaran dan perilaku mahasiswa itu sendiri.
“Kesehatan sangat berpengaruh pada prestasi mahasiswa. Kalau sering sakit atau absen, akan sulit mengejar akademik meski fasilitas kesehatan di kampus tersedia. Oleh karena itu, menjaga kesehatan, baik fisik maupun mental, adalah tanggung jawab mahasiswa sendiri melalui olahraga, pola makan sehat, dan manajemen stres,” ucap Dinda.
Hal ini dibenarkan oleh Aufa, yang mengatakan bahwa pola hidup, seperti jam tidur, pola makan, dan olahraga, merupakan kunci untuk mencegah masalah kesehatan. Menurutnya, hal ini sangat penting bagi mahasiswa yang menghadapi berbagai tantangan akademik maupun lingkungan agar tetap terhindar dari masalah kesehatan.
“Kesibukan mahasiswa memang membatasi waktu untuk istirahat dan olahraga, tapi sebenarnya olahraga bisa dilakukan dengan mencicil per hari, misalnya 120–300 menit per minggu untuk intensitas sedang atau 75–150 menit untuk intensitas tinggi. Selain itu, pola makan juga penting, pilih makanan sehat dan imbangi dengan buah serta sayur, serta atur jadwal tidur agar tubuh tetap seimbang meski aktivitas padat,” terang Aufa.
Di samping itu, Fakhri menyampaikan harapannya akan pentingnya kesadaran dari mahasiswa maupun kampus untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan. Menurutnya, kesadaran ini tidak hanya berdampak pada kesehatan pribadi, tapi juga memengaruhi lingkungan sekitar.
“Harapannya, mahasiswa lebih sadar akan pentingnya kesehatan, soalnya kalau kesadaran mahasiswa rendah, pasti akan memengaruhi aspek lainnya. Selain itu, dari pihak kampus juga sebaiknya menyelenggarakan seminar kesehatan agar mahasiswa lebih peduli terhadap hal tersebut,” ucap Fakhri.
Aufa berharap kampus dapat mengambil peran aktif dalam meningkatkan kesadaran kesehatan di kalangan mahasiswa. Menurutnya, kolaborasi antar fakultas penting untuk menciptakan kegiatan yang mendorong gaya hidup sehat. Dengan inisiatif ini, mahasiswa dan masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungannya.
“Harapannya kampus bisa berkolaborasi antar fakultas, termasuk Fakultas Kedokteran, untuk merayakan HKN dan mendorong mahasiswa serta masyarakat menjalani gaya hidup sehat. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan diri dan mengedukasi orang lain,” ujar Aufa.
Sejalan dengan hal tersebut, Dinda berharap mahasiswa lebih peduli terhadap pola hidup sehat dan aktif memanfaatkan program kesehatan dari pemerintah. Ia menilai HKN dapat menjadi momen refleksi untuk mengukur pemahaman serta praktik gaya hidup sehat di lingkungan kampus maupun masyarakat.
“Harapannya, HKN bisa menjadi tolak ukur seberapa paham kita tentang kesehatan, bukan hanya sekadar peringatan satu hari. Semoga kesehatan, baik fisik maupun mental, bisa dijaga oleh generasi muda untuk mendukung pembangunan di masa depan. Diharapkan mahasiswa juga mau mengikuti program pemerintah yang ada untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh,” ucap Dinda.
Penulis: Wanda Rahmawati Azahra
Editor: Alifia Pilar Alya Hasani, Fernaldhy Rossi Armanda
Fotografer: Razan Jayaputra Partadinata
