
Warta Kema – Pungutan liar (pungli) bukan hal yang baru di jalanan. Fenomena ini seringkali kita temui saat berkunjung ke toko-toko atau minimarket di jalan. Tukang parkir biasanya mengharapkan biaya parkir setelah kendaraan kita dijaga oleh mereka. Namun, belakangan ini penerapan pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mulai berlaku. Lantas apa yang memicu para tukang parkir untuk mulai menerapkan pembayaran melalui QRIS?
Menurut salah satu tukang parkir di Jatinangor berinisial B. Z., penerapan pembayaran QRIS sudah mulai berjalan sejak satu tahun yang lalu dan ia pun menyampaikan alasan mulai diterapkannya.
“Kalau QRIS baru sih, baru setahun karena ‘kan kebanyakan dari mahasiswa yang gak bawa cash,” ujarnya.
B. Z. menyampaikan bahwa pembayaran QRIS merupakan hasil diskusi dan kesepakatan sesama tukang parkir agar pengendara yang tidak membawa uang tunai diharapkan dapat membayar parkir.
“Kalau QRIS sebenarnya sempat diobrolin (sesama tukang parkir) karena memang banyak banget (pengendara) yang gak bawa cash, bisa 40 motor lah yang gak bawa cash kadang sampai sore gak ada setoran karena gak dapat duit,” ujarnya.
Setelah diberlakukannya pembayaran QRIS, B. Z. mengaku bahwa ia merasakan perbedaan dari jumlah pemasukkan jika dibandingkan dengan sebelum berlakunya pembayaran QRIS.
“Sejak ada (pembayaran) QRIS, alhamdulillah ada pemasukkan sih, yang tadinya ada 20 motor gak ngasih semua ‘kan karena memang gak ada cash, sekarang ada lah sebagian yang bayar,” ujarnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pembayaran parkir pungli melalui QRIS yang diterapkan oleh tukang parkir merupakan hal yang baru. B. Z. menyampaikan tanggapan yang beragam dari para pengendara.
“Ada aja sih yang nolak, tapi tergantung ya kalau ada yang mau bayar, mereka sendiri yang minta (ditunjukkan QRIS),” ujarnya.
B. Z. pun menyampaikan cara ia menanggapi para pengendara yang tidak bersedia untuk membayar parkir, baik dengan uang tunai maupun dengan QRIS.
“Kalau saya mah gapapa kalau gak mau bayar, cukup bilang saja terima kasih. Tapi beda-beda ‘kan ya ada (tukang parkir) yang emosian, kalau saya mah, disenyumin saja, jadi pengendara gak kapok buat datang lagi,” ujarnya.
Meskipun pembayaran parkir pungli melalui QRIS dapat dinilai memudahkan para pengendara, B. Z. mengatakan bahwa ada beberapa pengendara yang protes setelah ditawarkan untuk membayar parkir melalui QRIS.
“Mungkin dia gak mau bayar, (karena) pas saya tawarin (pembayaran) pakai QRIS, dia malah marah, nanya kenapa jadi pakai QRIS gini,” ujarnya.
B. Z. menambahkan bahwa bukan hanya pengendara yang protes, beberapa pemilik toko juga turut menyampaikan kepada para tukang parkir untuk tidak menerapkan pembayaran melalui QRIS.
“Ada sebagian (pemilik toko) yang gak suka karena mereka takut pelanggannya gak datang lagi, jadi mereka (pemilik toko) bilang gak usah pakai QRIS. Banyak pengendara yang ngomong (kepada pemilik toko) dibilang maksa pakai QRIS, jadi pemilik toko suka ngeliatin,” ujarnya.
Memang di satu sisi membayar parkir pungli dapat merugikan para pengendara, salah satu mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan inisial D. R. menyampaikan bahwa ia jarang membayar parkir pungli dalam keadaan tertentu.
“Kadang cuman jajan bentar tapi bayar parkir dua ribu gitu, itu gak enak banget rasanya. Kalau tukang parkirnya agak cuek biasanya langsung cabut (pergi), kadang malah kalau misalnya mau beli sesuatu tapi gak ada, tetap harus bayar parkir jadi tetap harus keluar uang dan kalau gak bayar tukang parkirnya suka pasang muka gak enak gitu,” ujarnya.
D. R. juga menambahkan bahwa ia mulai sering membayar parkir pungli sejak diterapkannya pembayaran melalui QRIS. D. R. juga menyampaikan bahwa ia terpaksa membayar parkir pungli karena hal itu.
“Sebenarnya kadang itu sengaja gak bawa cash biar bisa alasan ke tukang parkir, tapi kalau tiba-tiba tukang parkirnya punya QRIS ya terpaksa harus bayar jadinya. Jadi gak bisa alasan lagi dan harus tetap bayar parkir,” ujarnya.
Dampak dari penerapan pembayaran parkir pungli melalui QRIS menimbulkan berbagai tanggapan, ada yang merasa termudahkan, ada pula yang merasa terpaksa membayar. Namun, dengan berbagai macam tanggapan, apakah ke depannya QRIS dapat mengatasi masalah pembayaran pungli yang selama ini mengganggu para pengendara?
Penulis : Danish Kennard AziziEditor : Fernaldhy Rossi Armanda, Alifia Pilar Alya Hasani
