
Warta Kema – Kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat sering kali identik dengan peningkatan pendidikan dan pembangunan infrastruktur. Namun, di Jatinangor, kehadiran Universitas Padjadjaran (Unpad) dan mahasiswa memiliki arti yang beragam. Unpad dan mahasiswa tak hanya berperan dalam bidang pendidikan, tetapi juga berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi dan membawa dampak sosial bagi masyarakat.
Berdasarkan hasil wawancara, keduanya memberikan dampak positif bagi usaha kecil dan masyarakat sekitar kawasan kampus. Selain menjadi penggerak kegiatan ekonomi, keduanya juga memiliki hubungan secara psikologis dan sosial dengan masyarakat Jatinangor.
Rosita merupakan salah satu pemilik usaha kantin di Unpad. Bagi Rosita, kehadiran Unpad menjadi penopang utama sumber penghasilannya. Selain itu, mahasiswa juga mengisi kesehariannya secara emosional dan membawa kebahagiaan di kehidupannya. Ia merasa bahwa mahasiswa terasa seperti anak kandungnya sendiri. Sering kali ia menjadi teman bercengkrama dan berkeluh kesah layaknya hubungan orang tua dan anak.
“Kalau mahasiswa libur, rasanya sepi sekali. Selain pemasukan yang nggak ada, saya juga merasa kehilangan. Mahasiswa di sini sudah seperti anak saya sendiri,” ungkapnya.
Selain kehadiran mahasiswa, Unpad juga secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan Rosita. Tak hanya menjadi tempat menjalankan usaha, Unpad juga ikut aktif membantu kehidupannya di masa krisis. Saat pandemi Covid-19 lalu, Rosita merasakan kehadiran Unpad melalui saluran bantuan berupa uang tunai dan sembako untuk meringankan bebannya.
“Waktu Covid-19 dulu saya gak bisa jualan, tapi syukur dari Unpad masih tetap peduli ke pedagang kantin. Beberapa kali saya dapat bantuan sembako, kadang uang juga,” terang Rosita.
Kisah serupa datang dari Adan, seorang pedagang roti kukus di Jalan Ciseke. Dinamika kehidupannya sangat bergantung pada kalender akademik kampus. Ia mengakui bahwa keberadaan mahasiswa meningkatkan pendapatannya secara signifikan. Sebaliknya, masa libur semester selalu menjadi tantangan tersendiri. Penjualannya dapat menurun drastis seiring pulangnya mahasiswa ke daerah asal. Hal ini membuktikan bahwa roda ekonomi sekitar Jatinangor dipengaruhi oleh daya beli mahasiswa.
“Kalau hari sabtu pendapatan sehari lebih sedikit dari hari lain, soalnya anak-anak kan pulang yang rumahnya deket. Apalagi kalau libur, sudah pasti turun jauh.” ucap Adan.
Tidak hanya sektor kuliner, transportasi informal seperti ojek online (ojol) juga turut merasakan dampak dari kehadiran mahasiswa. Tingginya tingkat mobilitas mahasiswa menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan. Menariknya, meskipun regulasi kampus sering kali berubah dari tahun ke tahun, Rizky, seorang pengemudi ojol, mengaku bahwa hal tersebut tidak membawa dampak negatif bagi pekerjaannya. Ia justru merasakan dampak positif dari eksistensi kampus ini.
“Dampaknya gak signifikan, sih, hanya ada perubahan kecil saja tapi bisa menyesuaikan, selebihnya, ya, dampaknya ke saya selalu positif,” ucap Rizky.
Lebih jauh, ia turut merasakan dampak emosional dan sosial yang nyata. Ia mengenang masa lalunya ketika tinggal di sebuah panti asuhan. Saat itu, mahasiswa Unpad kerap datang mengadakan kegiatan bakti sosial. Kehadiran mahasiswa secara langsung memberikan dampak moril dan bantuan nyata bagi anak-anak panti asuhan.
“Saya dulu tinggal di panti asuhan, sejak saya kecil, Unpad dan mahasiswanya banyak bantu panti asuhan tempat saya tinggal. Sering ada acara dan bantuan dari Unpad dan mahasiswa. Terbantu terus, lah, saya oleh Unpad,” tutur Rizky.
Kehadiran Unpad dan mahasiswa di Jatinangor memberikan berbagai dampak bagi masyarakat, tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga pada aspek ekonomi dan sosial. Aktivitas mahasiswa turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal serta memengaruhi dinamika kehidupan masyarakat sekitar, terutama pada aspek sosial dan emosional.
Pengalaman Rosita, Adan, dan Rizky mencerminkan sebagian dari kondisi masyarakat Jatinangor yang berinteraksi dengan lingkungan kampus. Hubungan antara Unpad, mahasiswa, dan masyarakat menunjukkan adanya hubungan yang saling memengaruhi. Warga menyediakan kebutuhan bagi mahasiswa, sementara aktivitas mahasiswa turut mendukung pula kegiatan ekonomi dan sosial di wilayah tersebut.
“Kita pedagang gak bisa putar uang kalau gak ada mahasiswa. Mahasiswa juga gitu, kalau gak ada warga kan susah cari kos, cari makan, makanya kita saling bantu,lah, istilahnya,” tutur Adan.
Penulis: Fadhil Mafaza Rafiq
Editor: Anindya Ratri Primaningtyas, Rofi Roudhiatin Dwi Andini, Fernaldhy Rossi Armanda
