
Usai melalui rangkaian uji publik dan pemaparan grand design, Nicholas Abner Jonathan, kerap disapa dengan Nicho, resmi terpilih sebagai Project Officer (PO) Penerimaan Raya Mahasiswa Baru (Prabu) Universitas Padjadjaran (Unpad) 2026 melalui akun Instagram @bem.unpad pada Sabtu (02/05). Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Nicho selanjutnya akan memimpin persiapan pelaksanaan Prabu Unpad pada tahun ini.
Hadirnya Nicho sebagai PO Prabu Unpad 2026 menandai berakhirnya rangkaian seleksi kepemimpinan salah satu agenda penting dalam menyambut mahasiswa baru. Pasca melalui seluruh tahapan seleksi, penyelenggaraan Prabu 2026 selanjutnya akan memasuki tahap persiapan dan perancangan program yang ditujukan sebagai ruang pengenalan kampus bagi mahasiswa baru, sesuai dengan visi Unpad yaitu “Unggul, Inklusif, dan Berdampak.”
Perkenalan Kandidat: Pemaparan Grand Design dan Uji Publik
Sebelum adanya penetapan PO, telah dilakukan kegiatan pemaparan grand design dan uji publik yang digelar di Bale Santika pada Kamis (30/04). Forum ini dilakukan sebagai acuan dan tahapan akhir sistem transparansi dalam proses pemilihan tersebut. Nicho, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) 2024, mendapat kesempatan tampil pada urutan kedua saat pemaparan grand design. Selain Nicho, terdapat dua kandidat lain yakni Rizky, mahasiswa Sekolah Vokasi (SV) 2024 dan Dary, mahasiswa Fakultas Teknik Geologi (FTG) 2024. Ketiganya bersaing dalam seleksi calon PO Prabu Unpad 2026.
Setelah pemaparan grand design, acara berlanjut dalam forum uji publik. Forum tersebut dihadiri oleh tiga panelis selaku penguji para kandidat, yakni Vincent selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad 2025, Gema selaku perwakilan Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) Unpad, serta Amanda selaku Ketua Departemen Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (KPSDM) 2024. Selain panelis, Kema Unpad pun turut hadir dalam acara tersebut.
Pada saat pemaparan grand design, tiga kandidat yakni Dary, Nicho, dan Rizky terlebih dahulu memaparkan gambaran arah kepemimpinan yang akan dibawakan oleh mereka. Ketiganya hadir dengan pendekatan berbeda sesuai latar belakang dan pengalaman organisasi mereka masing-masing.
Dary menghadirkan grand design bertajuk “Harmoni Asa Padjadjaran” yang menekankan pentingnya harmonisasi berbagai perbedaan dalam pelaksanaan Prabu 2026. Dalam rancangannya, ia menawarkan sejumlah inovasi, seperti subdivisi pendamping kelompok, mobile pada divisi fasilitator, dan program Sora Lingkungan dan Vasundhara Rakshaka. Pendekatan tersebut menunjukkan orientasi pada kolaborasi, kesiapan organisasi, serta pelaksanaan program yang adaptif dan berkelanjutan.
Nicho menghadirkan grand design bertajuk “Jejak Prakarsa” yang didasari oleh gagasan universitas sebagai ruang awal untuk mengenal, memahami, terhubung, memaknai, dan memulai langkah baru. Dalam pemaparannya, ia menekankan kerangka berpikir yang sistematis, evaluasi penyelenggaraan Prabu sebelumnya, konsep acara, pembangunan tim, dan indikator capaian keberhasilan program. Selain itu, Nicho juga menghadirkan empat outcome utama, yakni aspek kognitif, afektif, identitas, dan sosial. Rancangan tersebut menunjukkan orientasi pada hasil akhir dan keberlanjutan dari dampak program itu sendiri, baik bagi mahasiswa baru maupun pihak kepanitiaan yang terlibat.
Sementara itu, Rizky menampilkan grand design bertajuk “Senandung Asa” yang menyoroti evaluasi penyelenggaraan dua tahun terakhir serta analisis Strength, Weakness, Opportunity, and Threat (SWOT) kepanitiaan sebagai pijakan awal. Ia memaparkan arah gerak Prabu 2026 melalui kerangka why, how, dan what, disertai fokus pada program 100 hari kerja bagi PO, serta manajemen terhadap risiko acara. Rizky juga membawa sejumlah gagasan dan inovasi untuk rangkaian acara, seperti Nadi Prabu, Padjadjaran Muda (Pramuda) Menjelajah, dan Malam Raga Padjadjaran. Dalam pendekatan ini, Rizky menunjukkan perhatiannya terhadap kebutuhan eksekusi yang cepat, terarah, serta kesiapan teknis acara sejak awal masa kepemimpinannya.
Arah Gerak Prabu: Mengapa Nicho?
Setelah tahap pemaparan grand design, proses seleksi pun berlanjut ke sesi uji publik. Forum ini menjadi wadah pengujian kesiapan ketiga kandidat tersebut dalam menjawab berbagai tantangan pelaksanaan Prabu tahun ini.
Panelis pertama, Vincent, menyoroti kesiapan teknis serta arah strategis kegiatan. Salah satu isu yang diangkat ialah dasar penentuan mengenai target partisipasi mahasiswa baru dan bagaimana cara para kandidat memastikan keterlibatan peserta dapat tercapai dengan jumlah mahasiswa baru yang terus bertambah setiap tahun. Nicho menekankan bahwa angka pencapaian harus diambil dari evaluasi tahun-tahun sebelumnya, tren pertumbuhan peserta, serta strategi yang dirancang agar lebih banyak mahasiswa baru tertarik mengikuti rangkaian kegiatan secara menyeluruh.
“Dengan evaluasi-evaluasi tahun lalu dan perkembangan Prabu di tiap tahunnya, Prabu tahun ini harapannya bisa mengintegrasikan itu semua dan bisa memberikan yang terbaik bagi mahasiswa baru maupun sivitas-sivitas Kema Unpad yang akan terlibat di dalamnya,” tambah Nicho.
Selain itu, Vincent juga menguji kesiapan para kandidat dalam menghadapi risiko teknis seperti cuaca buruk, kemacetan, hingga keterlambatan rangkaian acara. Menghadapi pertanyaan tersebut, Nicho menyampaikan pentingnya analisis kondisi dan situasi lapangan secara cepat dan menilai bahwa kegiatan berskala besar seperti Prabu harus memiliki rencana cadangan yang dapat dijalankan melalui koordinasi matang antardivisi. Selain itu, ia juga menilai bahwa mahasiswa baru perlu dibekali kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial di Jatinangor, baik melalui penerapan nilai etika, tata krama, maupun kesadaran hidup berdampingan dengan warga sekitar.
“Ketika rancangan juga strategi yang kita bawakan tidak dilaksanakan dengan baik, hal yang pertama saya lakukan adalah menganalisis situasi di lapangan seperti apa (contohnya) memotong atau mempercepat beberapa mata acara sehingga hal-hal tersebut bisa terantisipasi dengan baik. Baik cuaca maupun bencana perlu mitigasi dari teman-teman divisi terkait,” terang Nicho.
Panelis kedua, Amanda, lebih menggali mengenai aspek personal leadership, integritas, dan pengambilan keputusan. Ia menanyakan bagaimana sikap para kandidat apabila dalam kepanitiaan Prabu nanti terdapat anggota dengan posisi krusial tetapi memiliki rekam jejak yang buruk, seperti melakukan pelanggaran. Nicho menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat ditoleransi dan perlu ditindak tegas demi menjaga ruang aman bagi panitia maupun mahasiswa baru.
“Ketika nanti dalam kepanitiaan ada yang melakukan tindakan-tindakan amoral, atau spesifiknya kekerasan seksual, itu menjadi sesuatu yang tidak boleh ditolerir. Saya sebagai PO akan berkomitmen untuk menindak tegas hal tersebut dan juga bekerjasama dengan satgas-satgas di Unpad sehingga nanti kita memberikan ruang aman tidak hanya bagi panitianya tapi juga kepada mahasiswa barunya,” tutur Nicho.
Amanda turut menyinggung lingkungan suportif yang dapat mengancam integritas seorang PO. Menjawab hal tersebut, Nicho menyebut bahwa hal tersebut dapat dijadikan sebagai acuan keberagaman perspektif yang dapat mendukung keberlangsungan acara.
“Harapannya, dari lingkungan yang supportive tersebut dapat menimbulkan suatu perspektif dan juga pemahaman yang baru terhadap persiapan dan dari plan atau strategi yang kita buat dalam suatu kepanitiaan,” ujar Nicho.
Panelis terakhir, Gema dari Ditmawa Unpad, mengangkat pertanyaan yang lebih reflektif mengenai visi besar Prabu dan dampaknya terhadap mahasiswa baru. Ia berterus terang harus adanya penekanan pada setiap individu agar memiliki potensi yang berbeda-beda dan Prabu harus menjadi ruang awal agar potensi tersebut dapat berkembang secara optimal.
Gema juga menanyakan apakah cita-cita sebesar itu realistis diwujudkan hanya dalam waktu tiga hari pelaksanaan. Menanggapi hal tersebut, Nicho menyebut bahwa masa waktu tersebut memang singkat, tetapi cukup untuk memberikan pengalaman penyambutan yang berkesinambungan bagi mahasiswa baru.
“Dari banyaknya waktu di satu tahun, tiga hari merupakan waktu yang singkat, tetapi untuk masa pengenalan lingkungan baru bagi mahasiswa Universitas Padjadjaran sangat-sangat cukup. Di mana (hal) itu diimplementasikan dalam alur yang saya buat. Setiap mata acaranya tidak berdiri sendiri, tetapi berkesinambungan sehingga dapat menimbulkan pemahaman yang cukup oke dalam pengenalan lingkungan kampus sehingga mereka dapat berkembang dan beradaptasi pada lingkungan barunya sesuai dengan potensi dan juga minat bakatnya,” tambah Nicho.
Melalui tiga sudut pandang panelis tersebut, uji publik menjadi forum yang menguji para kandidat secara menyeluruh dari segala aspek yang ada dengan cara menekankan orientasi dampak dan adaptasi. Usai tuntasnya seluruh rangkaian acara, Nicho ditetapkan sebagai PO Prabu Unpad 2026.
Tanggapan KPSDM BEM Kema Unpad 2025
Ketua Departemen KPSDM BEM Kema Unpad 2025, Desi, menilai ketiga kandidat memiliki karakter berbeda yang menjadi kekuatan masing-masing. Menurutnya, perbedaan latar belakang justru memperlihatkan variasi sudut pandang dalam melihat kebutuhan Prabu 2026.
“Ketiga calon ini sebenarnya punya warna yang beda-beda. Ada yang analytical sekali karena background-nya juga dari kastrat. Ada yang satu juga anak kaderisasi sekali, jadi kelihatannya memang konseptual sekali ketika merancang grand design tersebut. Dan satunya lagi, karena anak lapangan banget, jadi mungkin secara grand design itu nggak banyak elaborasi, tapi dia tahu teknis pelaksanaan itu sudah kevisualisasi di bayangan dia,” ujar Desi.
Desi menyebut bahwa proses seleksi tahun ini tidak hanya berfokus pada siapa yang memiliki konsep terbaik, tetapi juga yang dinilai mampu menjawab kebutuhan Prabu. Menurutnya, relevansi program terhadap dinamika mahasiswa baru dan kampus menjadi faktor penting dalam menentukan arah kegiatan.
“Kita juga harus melihat relevansi jamannya seperti apa, proses kaderisasinya yang harus mulai dibenahi juga, harus mulai dari mana. Jadi bukan cuma soal siapa yang presentasinya bagus, tapi bagaimana nanti Prabu ini bisa menjawab kebutuhan mahasiswa baru dan kondisi kampus sekarang,” tutur Desi.
“Lembar Baru Untukku, Untukmu”
Dalam wawancara, Nicho mengungkapkan perasaannya usai terpilih sebagai PO Prabu Unpad 2026. Menurutnya, pencapaian tersebut mendatangkan berbagai emosi secara bersamaan. Selain rasa senang dan puas atas proses yang telah dilalui, ada juga rasa kekhawatiran terhadap tanggung jawab besar yang akan diemban. Ia juga menegaskan bahwa penetapan dirinya bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk membawa Prabu 2026 berjalan lebih baik.
“Rasanya campur aduk, sih, sebenarnya. Ada rasa senang, puas, takut juga, ada rasa tanggung jawab besar yang nantinya aku emban ke depannya. Aku mikir bahwasannya itu bukan menjadi suatu hal yang harus menjadi rasa puas buat diri aku, tapi lebih kepada aku tahu ini baru awalan untuk aku bisa memberikan yang terbaik bagi mahasiswa baru dan juga sivitas akademika Kema Unpad melalui Prabu di tahun ini,” ungkap Nicho.
Menurut Nicho, Prabu merupakan wadah pengenalan awal bagi mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus. Oleh karena itu, program ini harus mampu membantu mahasiswa baru memahami kehidupan universitas, fakultas, jurusan, hingga ruang berkembang selama masa perkuliahan.
“Kita pengen buat Prabu tahun ini menjadi baik bagi mahasiswa baru maupun bagi panitia yang akan menjalaninya. Jadi, bukan cuma peserta yang merasakan manfaatnya, tapi juga seluruh unsur yang bekerja di dalamnya,” ujar Nicho.
BEM atau Rektorat: Siapa yang Memegang Kendali?
Di sisi lain, isu mengenai posisi Prabu antara BEM Kema Unpad dan pihak rektorat kembali menjadi perhatian. Menanggapi hal tersebut, Nicho memandang bahwa Prabu seharusnya ditempatkan sebagai ruang untuk kerjasama, bukan sekadar perdebatan terkait sisi kewenangan saja.
“Siapapun perannya dan di manapun posisi perannya, rasanya Prabu pasti perlu hadir juga menjadi wadah pengenalan bagi mahasiswa baru, dan wadah pengembangan bagi Kema Unpad itu sendiri,” tambah Nicho.
Menutup wawancara, Nicho menyatakan keterbukaannya untuk berkolaborasi dengan seluruh elemen Kema Unpad, termasuk kandidat lain yang sebelumnya mengikuti seleksi. Ia berharap Prabu 2026 dapat menjadi ruang penyambutan mahasiswa baru yang hangat, bermakna, dan dijalankan secara kolektif.
“Yang penting kita tahu kita punya tujuan yang sama untuk bisa memberikan yang terbaik dan juga membuat wadah terbaik bagi pengenalan mahasiswa baru Unpad,” ujar Nicho.
Dengan berakhirnya proses seleksi, arah baru Prabu Unpad kini mulai terbentuk. Usai terlaksananya keseluruhan rangkaian acara, Prabu 2026 diharapkan dapat hadir sebagai kegiatan pengenalan kampus yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan ruang adaptasi, kolaborasi, dan awal perjalanan yang bermakna bagi mahasiswa baru Unpad.
Penulis: Rifat Kamal Nugraha
Editor: Anindya Ratri Primaningtyas, Rofi Roudhiatin Dwi Andini, Fernaldhy Rossi Armanda
