
Jatinangor, 12 Mei 2026 – Dalam semangat memperingati Konferensi Asia-Afrika 1955, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Direktorat Afrika dan Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menghadirkan African Day 2026 dengan mengusung tema “Bridging Continents through Culture and Understanding”. Diselenggarakan di Auditorium dan Selasar Bale Sawala Universitas Padjadjaran, Jatinangor, acara ini menjadi ruang pertemuan lintas budaya yang mempertemukan representatif negara, akademisi, mahasiswa Afrika, serta generasi muda Indonesia dalam semangat solidaritas dan people-to-people connection antara Indonesia dan negara-negara Afrika.
Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan internasional, khususnya dalam memperkuat solidaritas Global South antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Melalui konferensi tersebut, negara-negara Asia dan Afrika menegaskan komitmen bersama dalam memperjuangkan kemerdekaan, menolak kolonialisme dan imperialisme, serta membangun tatanan dunia yang lebih adil dan setara. Sebagai tuan rumah Konferensi Asia-Afrika, Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun hubungan bilateral dan multilateral dengan negara-negara Afrika yang terus berkembang hingga saat ini melalui kerja sama diplomatik, pendidikan, budaya, perdagangan, hingga hubungan antarmasyarakat.
Melalui African Day 2026, semangat solidaritas tersebut dihidupkan kembali dan dikemas agar menjadi lebih dekat dengan generasi muda. Menggabungkan diplomasi, budaya, dan edukasi, African Day 2026 menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan budaya Afrika sekaligus membuka ruang dialog yang bermakna mengenai hubungan Indonesia-Afrika di masa kini dan masa depan.
Pada pembukaan acara, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran menyampaikan bahwa universitas merupakan ruang pertemuan gagasan, budaya, dan generasi pemimpin masa depan. Dalam sambutannya, beliau juga menegaskan bahwa semangat Bandung 1955 tetap relevan hingga hari ini sebagai fondasi solidaritas Global South dan penguatan hubungan Indonesia-Afrika melalui dialog budaya, pendidikan, dan kerja sama akademik.
Selain itu, sambutan juga disampaikan oleh salah satu partner acara, Zeekend, Voice of Youth Diplomacy, yang diwakili oleh Deputy of Zeekend, Ayesha Humayra Fayyaza. Dalam sambutannya, Zeekend menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam membangun jembatan kerja sama lintas negara melalui pertukaran budaya, dialog, serta people-to-people connection yang semakin relevan di era globalisasi saat ini.
African Day 2026 kemudian dilanjutkan dengan keynote speech yang disampaikan langsung oleh perwakilan Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Ibu Dewi Justicia Meidiwaty, dan diplomatic & academic dialogue yang menghadirkan His Excellency Prof. Fekadu Beyene Aleka, Ambassador of the Federal Democratic Republic of Ethiopia to Indonesia; His Excellency Macocha Moshe Tembele, Ambassador of the United Republic of Tanzania to Indonesia; serta Bapak Mohamad Hery Saripudin sebagai representatif akademisi. Dalam sesi ini, narasumber membahas perkembangan hubungan bilateral Indonesia-Afrika dan bagaimana semangat Konferensi Asia-Afrika membangun fondasi yang kuat untuk keberlangsungan kerja sama Indonesia-Afrika. Tidak hanya itu, narasumber juga memberikan analisis mendalam mengenai bagaimana keterlibatan Indonesia di BRICS dan G20 dapat memperkuat relasi dengan Afrika. Di kesempatan yang sama, para pembicara juga menitipkan beberapa pesan penting untuk pemuda Indonesia terkait peran mereka dalam membentuk masa depan hubungan antarnegara.
Tidak hanya menghadirkan diskusi diplomatik dan akademik, African Day 2026 juga mengadakan sesi “Meet the Diplomats” yang memberikan ruang dialog terbuka bagi mahasiswa dengan tiga diplomat ahli muda perwakilan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengenai pengalaman mereka di dunia diplomasi internasional, kerja sama lintas negara, peluang kontribusi generasi muda dalam hubungan internasional, dan pengalaman mereka dalam menangani hubungan Indonesia-Afrika.
Di area Selasar Bale Sawala, peserta disambut dengan berbagai interactive booths yang menampilkan keberagaman budaya, sejarah, dan identitas negara-negara Afrika. Booth-booth tersebut menghadirkan cultural showcase, pengenalan pakaian tradisional, hingga pengalaman lintas budaya yang memperkaya wawasan peserta mengenai Afrika secara lebih dekat dan menyeluruh.
Sebagai bentuk penguatan people-to-people connection, acara ditutup melalui sesi “African Day Meet and Mingle” yang menjadi ruang networking bagi diplomat, akademisi, mahasiswa Afrika, mahasiswa Universitas Padjadjaran, serta peserta umum. Melalui sesi ini, peserta dapat saling bertukar pengalaman bersama para duta besar dan representatif dari berbagai kedutaan negara-negara di Afrika yang hadir, memperluas relasi internasional, dan membangun pemahaman lintas budaya secara lebih personal dan bermakna.
African Day 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga diharapkan menjadi ruang refleksi atas semangat solidaritas Asia-Afrika yang lahir di Bandung lebih dari tujuh dekade lalu. Melalui dialog, budaya, dan interaksi antarmasyarakat, acara ini diharapkan mampu memperkuat hubungan Indonesia-Afrika sekaligus mendorong generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang lebih terbuka, kritis, dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan global.
