(Sumber: Badan Gizi Nasional)

 

Latar Belakang:

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program yang dirancang oleh Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) dengan tujuan meningkatkan gizi anak sekolah. Namun, perdebatannya justru mencuat ketika beban operasional program ini mulai diarahkan ke ranah perguruan tinggi. Dilansir dari Kompas (11/05), Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi salah satu perguruan tinggi yang didorong untuk bertindak sebagai pengelola atau operator dapur massal MBG.

Rencana tersebut tidak disambut positif oleh berbagai kalangan akademik di Unpad. Dilansir dari Kompas (11/05), kebijakan ini dinilai berpotensi mengalihkan fokus perguruan tinggi dari tri dharma pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat menuju urusan logistik pangan yang berada di luar mandat akademik.

Penolakan di Unpad:

Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menetapkan bahwa perguruan tinggi punya tiga tugas utama, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Tidak satu pun dari tiga tugas itu yang menyangkut urusan produksi makanan massal. Mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) seperti mencakup pengadaan bahan baku, memasak dalam jumlah besar setiap hari, mengatur distribusi ke penerima, menjaga kualitas makanan, sampai membuang limbah dapur. Semua itu adalah pekerjaan logistik dan industri pangan, bukan kerja akademik.

Secara hukum, Unpad juga punya posisi yang jelas. Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 Tahun 2014, Unpad mempunyai otonomi dalam mengatur urusan akademik maupun non-akademik. Artinya, tidak ada satu pun pihak luar, termasuk kementerian, yang bisa menugaskan Unpad mengelola dapur hanya lewat imbauan lisan. Setiap keputusan besar harus melewati mekanisme internal yang melibatkan Rektor, Majelis Wali Amanat, dan Senat Akademik. Dilansir dari Kompas (11/05), mantan kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mendorong agar setiap kampus memiliki minimal satu SPPG dan disampaikan lewat imbauan lisan tanpa melewati mekanisme resmi perguruan tinggi.

Penolakan kemudian bergulir dari berbagai elemen kampus termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). BEM Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB), BEM Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), BEM Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP), BEM Fakultas Pertanian (Fapet), dan BEM Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad kompak menyatakan keberatan. Ketua BEM Fikom Unpad, Christofer Mourinho, mempertanyakan siapa yang bisa menjamin bahwa kebijakan ini bukan cara negara untuk mengendalikan kampus. “Siapa gerangan yang dapat menjamin bahwa hal ini adalah bukan sebuah bentuk kooptasi dan dominasi negara di tingkat pendidikan tinggi?” ujarnya kepada dJatinangor, Kamis (07/05). Ketua BEM FEB, M. Athar Ataurrahman Akbar, turut memperingatkan adanya risiko komersialisasi akibat keterlibatan kampus dalam program ini. “SPPG ini bisa jadi pintu masuk komersialisasi yang perlahan menggeser tujuan utama kampus sebagai tempat belajar,” jelasnya kepada dJatinangor, Rabu (06/05).

Masalah Anggaran: Dana Pendidikan yang Dialihkan:

Selain persoalan fungsi kelembagaan, terdapat masalah mendasar lain terkait sumber pendanaan: dari mana anggaran MBG ini sesungguhnya berasal? Berdasarkan PP Nomor 118 Tahun 2025 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, sebesar Rp223,6 triliun atau 83,4% dari total anggaran MBG diambil dari pos anggaran pendidikan. Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), MY Esti Wijayati, menegaskan hal tersebut berdasarkan dokumen resmi negara, dilansir dari Detik News (25/02). “Di dalam lampiran APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) berupa Peraturan Presiden, secara jelas dinyatakan bahwa dari Rp769 triliun anggaran pendidikan, digunakan untuk MBG sebesar Rp223,5 triliun.,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (25/02). Artinya, hampir sepertiga anggaran pendidikan nasional tidak dipakai untuk pendidikan, melainkan untuk membiayai program MBG.

Ini bukan hanya soal angka yang besar. Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mewajibkan pemerintah mengalokasikan minimal 20% APBN untuk pendidikan dan harus dipakai untuk kepentingan pendidikan itu sendiri. Dilansir dari situs Mahkamah Konstitusi RI (28/04), saat ini terdapat tiga gugatan yang masuk ke Mahkamah Konstitusi (MK). Masing-masing dari gugatan tersebut berasal dari guru honorer, akademisi, dan lembaga pendidikan yang mempertanyakan konstitusionalitas langkah pemerintah tersebut. Selama gugatan itu belum diputus, dasar hukum pembiayaan MBG dari pos pendidikan masih belum kuat. Jika gugatan dikabulkan, seluruh skema pembiayaan MBG termasuk peran kampus harus diubah.

Mourinho menilai pengalihan anggaran ini tidak sejalan dengan nilai yang seharusnya dijunjung perguruan tinggi. “Perguruan tinggi semestinya menjadi institusi yang menjunjung moral dan intelektual, bukan institusi yang tamak mengeruk kapital,” katanya kepada dJatinangor, Kamis (07/05). Athar pun mengungkap kekhawatiran lain dari BEM FEB terkait dampak jangka panjang keterlibatan kampus sebagai operator. “Kami khawatir, kalau kampus terlanjur jadi operator, hasil riset bisa diarahkan untuk mendukung citra program pemerintah, bukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya,” tambahnya kepada dJatinangor, Rabu (06/05).

Rekam Jejak MBG: Risiko yang Sudah Terbukti:

Sebelum bicara soal kesiapan kampus, penting untuk melihat rekam jejak pelaksanaan SPPG yang telah beroperasi, bahkan oleh mitra berpengalaman di bidang pangan sekalipun. Dilansir dari Detik News (15/01), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sepanjang 2025, terdapat 12.658 anak yang keracunan MBG di 38 provinsi. Jawa Barat menjadi provinsi dengan korban terbanyak yaitu 4.877 anak. Ombudsman RI menemukan delapan masalah besar dalam pelaksanaan program MBG. Permasalahan tersebut meliputi ketiadaan standar kualitas bahan baku, metode memasak yang tidak seragam, hingga sistem pengawasan yang masih reaktif dan belum berbasis data.

Angka ini perlu dipahami dengan benar. Dilansir dari Kompas (11/05), ribuan kasus keracunan tersebut bukan semata disebabkan oleh kelalaian operator, melainkan karena tingginya tingkat kesulitan memasak dalam skala ribuan porsi setiap harinya. Pada sumber yang sama, BGN sendiri mengakui bahwa banyak SPPG yang baru beroperasi dan belum terbiasa memasak dalam skala besar. Jika operator berpengalaman pun masih menghasilkan ribuan korban keracunan, risiko yang ditanggung kampus tentu jauh lebih besar. Perlu dicatat pula bahwa tidak ada aturan dalam statuta universitas yang mengatur siapa yang bertanggung jawab jika terjadi keracunan massal akibat dapur yang dikelola kampus.

Dosen Fikom Unpad, Herlina Agustin, menilai kampus perlu menyelesaikan persoalan internalnya sendiri sebelum mengambil tanggung jawab baru yang lebih besar. “Benahin dulu dalam-dalamnya Unpad. Jangan kemudian bisa ngambil tapi nggak bisa ngurus. Setidaknya beresin dulu sampah lu. Kalau skala gede, sampah dapur itu limbahnya besar,” tegasnya kepada dJatinangor, Rabu (06/05). Dosen Fikom lainnya, Maimon Herawati, menawarkan alternatif kontribusi yang lebih sesuai dengan peran akademik kampus. “Tinggal tim riset yang dikirim langsung saja ke SPPG terdekat. Nggak sekali dua kali kok riset masuk ke dalam proses produksi, kerjasama kampus dengan lembaga tertentu,” jelasnya kepada dJatinangor, Rabu (06/05).

Ancaman ke UMKM Lokal:

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), ada satu dampak lain yang jarang dibahas, yaitu nasib warung dan pedagang kecil di sekitar kampus. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja nasional. Sebagian besar dari mereka adalah pedagang makanan yang bergantung pada keramaian di sekitar sekolah dan kampus. Ketika ribuan penerima manfaat MBG sudah mendapat makanan gratis setiap hari dari SPPG, warung dan kantin di sekitar kampus kehilangan sebagian besar pembelinya. Ini bukan sekadar kekhawatiran, melainkan konsekuensi langsung dari pergeseran pola pemenuhan kebutuhan makan yang sebelumnya dilayani oleh pasar lokal.

Masalah berikutnya adalah soal siapa yang mengendalikan rantai pasok. Jika pengelolaan SPPG jatuh ke tangan pihak dengan modal besar, pedagang dan pemasok lokal yang modalnya terbatas tidak akan bisa bersaing untuk masuk ke dalam sistem. Wakil Ketua BEM Kema Unpad, Ezra, mempertanyakan hal ini secara langsung. “Apakah benar akan memberdayakan ekonomi lokal; atau justru menciptakan konsentrasi distribusi pada aktor-aktor tertentu? Atau bahkan berpotensi menggeser penduduk lokal dengan mendatangkan tenaga kerja yang lebih murah dari luar daerah?” ungkapnya kepada dJatinangor, Sabtu (09/05).

Kesimpulan:

Dorongan menjadikan Unpad sebagai operator dapur MBG bermasalah pada beberapa hal sekaligus. Secara hukum, UU Pendidikan Tinggi dan status PTN-BH tidak memberi ruang bagi penugasan logistik tanpa mekanisme resmi yang sah. Secara anggaran, Rp223,6 triliun uang pendidikan yang dialihkan untuk program pangan sedang digugat di MK dan belum jelas status hukumnya. Secara teknis, 12.658 kasus keracunan pada SPPG yang dikelola operator berpengalaman membuktikan bahwa produksi pangan massal bukan ranah yang dapat diserahkan begitu saja kepada institusi akademik. Penolakan ini bukan ketidakpedulian terhadap gizi, melainkan komitmen agar kampus berkontribusi sesuai kapasitas dan mandat akademiknya.

Saran:

Institut Pertanian Bogor (IPB) pernah menerima penugasan dan langsung mendapat penolakan dari mahasiswanya sendiri. Ini membuktikan bahwa keputusan terburu-buru hanya akan menciptakan masalah baru di dalam kampus. Rektorat Unpad perlu mengambil posisi yang jelas sebelum situasi berkembang lebih jauh. Kampus bisa ikut berkontribusi pada program MBG, tapi sebagai mitra akademik, bukan sebagai operator dapur. Berbagai macam bentuk kontribusi yang tepat mencakup pengiriman tim riset ke SPPG terdekat, penyusunan standar gizi berbasis data, dan penerbitan kajian yang mendorong program ini lebih tepat sasaran. Selain itu, aturan sebagai PTN-BH juga harus dijalankan. Keputusan sebesar ini tidak boleh diambil hanya karena ada imbauan lisan dari kementerian. Senat Akademik, Majelis Wali Amanat, dan Rektor perlu duduk bersama dan mendengar suara seluruh warga kampus sebelum langkah apapun diambil.

Daftar Pustaka

BEM FEB Universitas Padjadjaran. (2026, 12 Mei). Pernyataan sikap: Unpad bukan operator distribusi pangan negara. Tempo. https://www.tempo.co/politik/bem-feb-unpad-tolak-kampusnya-jadi-pengelola-sppg-2135251

Detik News. (2026, 15 Januari). Data KPAI: 12.658 anak di 38 provinsi keracunan MBG sepanjang 2025. https://news.detik.com/berita/d-8309812

Detik News. (2026, 25 Februari). PDIP: Berdasarkan lampiran APBN, Rp223 T anggaran pendidikan untuk MBG. https://news.detik.com/berita/d-8372677

Djatinangor. (2026, 7 Mei). Kutipan Christofer Mourinho, Ketua BEM Fikom Unpad [Instagram]. https://www.instagram.com/p/DYAwkQ7k7Yx/

Djatinangor. (2026, 6-8 Mei). Kutipan Yoppy Adhi Hernawan, Maimon Herawati, Herlina Agustin (Dosen Unpad); Dandi Supriadi (Humas Unpad) [Instagram]. https://www.instagram.com/p/DYGeLhfj6uf/

Djatinangor. (2026, 7-8 Mei). Kutipan Christofer Mourinho (BEM Fikom), Kiral Destarata (BEM FISIP), M. Hafaz Nur Rizqi (BEM FTIP), Fathan Zaky Al Ghifari (BEM Faperta) [Instagram]. https://www.instagram.com/p/DYGdxFBD8_Q/

Djatinangor. (2026, 9 Mei). Penolakan MBG kian meluas, lintas BEM di Unpad tuntut independensi kampus [Instagram]. https://www.instagram.com/p/DYN9HuQD64L/

GoodStats. (2026, 14 Maret). APBN 2026: 83% dana MBG dari fungsi pendidikan. https://data.goodstats.id/statistic/apbn-2026-83-dana-mbg-dari-fungsi-pendidikan-YZ9PY

Kementerian Koperasi dan UKM RI. Data kontribusi UMKM terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja nasional. https://kemenkopukm.go.id

Kompas. (2025, 1 Oktober). 6.457 orang keracunan MBG per September 2025, terbanyak di Pulau Jawa. https://nasional.kompas.com/read/2025/10/01/15390941

Kompas. (2026, 11 Mei). MBG dan kekhawatiran kolonisasi kampus. https://nasional.kompas.com/read/2026/05/11/07100051

Mahkamah Konstitusi RI. (2026, 28 April). Pihak terkait: Program MBG bebani anggaran pendidikan 20 persen. https://www.mkri.id/

Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

Peraturan Presiden Nomor 118 Tahun 2025 tentang Rincian APBN Tahun Anggaran 2026.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 31 ayat (4) tentang anggaran pendidikan nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. https://akademik.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/35/2018/10/UU-No-12-Tahun-2012-Pendidikan-Tinggi.pdf

 

Penulis : Muhammad Raya Samudera

Editor : Fernaldhy Rossi Armanda, Lareina Noviandhita Pribadi, Chelsia Arvianda Putri 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

\

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

article 9998000551

article 9998000552

article 9998000553

article 9998000554

article 9998000555

article 9998000556

article 9998000557

article 9998000558

article 9998000559

article 9998000560

article 9998000561

article 9998000562

article 9998000563

article 9998000564

article 9998000565

article 9998000566

article 9998000567

article 9998000568

article 9998000569

article 9998000570

article 9998000571

article 9998000572

article 9998000573

article 9998000574

article 9998000575

article 9998000576

article 9998000577

article 9998000578

article 9998000579

article 9998000580

article 9998000581

article 9998000582

article 9998000583

article 9998000584

article 9998000585

article 9998000586

article 9998000587

article 9998000588

article 9998000589

article 9998000590

article 9998000591

article 9998000592

article 9998000593

article 9998000594

article 9998000595

article 9998000596

article 9998000597

article 9998000598

article 9998000599

article 9998000600

article 838000558

article 838000559

article 838000560

article 838000561

article 838000562

article 838000563

article 838000564

article 838000565

article 838000566

article 838000567

article 838000568

article 838000569

article 838000570

article 838000571

article 838000572

article 838000573

article 838000574

article 838000575

article 838000576

article 838000577

article 838000578

article 838000579

article 838000580

article 838000581

article 838000582

article 838000583

article 838000584

article 838000585

article 838000586

article 838000587

article 238000456

article 238000457

article 238000458

article 238000459

article 238000460

article 238000461

article 238000462

article 238000463

article 238000464

article 238000465

article 238000466

article 238000467

article 238000468

article 238000469

article 238000470

article 238000471

article 238000472

article 238000473

article 238000474

article 238000475

article 238000476

article 238000477

article 238000478

article 238000479

article 238000480

article 238000481

article 238000482

article 238000483

article 238000484

article 238000485

article 5500316

article 5500317

article 5500318

article 5500319

article 5500320

article 5500321

article 5500322

article 5500323

article 5500324

article 5500325

article 5500326

article 5500327

article 5500328

article 5500329

article 5500330

article 5500331

article 5500332

article 5500333

article 5500334

article 5500335

article 5500336

article 5500337

article 5500338

article 5500339

article 5500340

article 5500341

article 5500342

article 5500343

article 5500344

article 5500345

article 5500346

article 5500347

article 5500348

article 5500349

article 5500350

article 5500351

article 5500352

article 5500353

article 5500354

article 5500355

article 5500356

article 5500357

article 5500358

article 5500359

article 5500360

article 5500361

article 5500362

article 5500363

article 5500364

article 5500365

article 2000331

article 2000332

article 2000333

article 2000334

article 2000335

article 2000336

article 2000337

article 2000338

article 2000339

article 2000340

article 2000341

article 2000342

article 2000343

article 2000344

article 2000345

article 2000346

article 2000347

article 2000348

article 2000349

article 2000350

article 2000351

article 2000352

article 2000353

article 2000354

article 2000355

article 2000356

article 2000357

article 2000358

article 2000359

article 2000360

article 2000361

article 2000362

article 2000363

article 2000364

article 2000365

article 2000366

article 2000367

article 2000368

article 2000369

article 2000370

article 2000371

article 2000372

article 2000373

article 2000374

article 2000375

article 2000376

article 2000377

article 2000378

article 2000379

article 2000380

article 2000381

article 2000382

article 2000383

article 2000384

article 2000385

article 2990496

article 2990497

article 2990498

article 2990499

article 2990500

article 2990501

article 2990502

article 2990503

article 2990504

article 2990505

article 2990506

article 2990507

article 2990508

article 2990509

article 2990510

article 2990511

article 2990512

article 2990513

article 2990514

article 2990515

article 2990516

article 2990517

article 2990518

article 2990519

article 2990520

article 2990521

article 2990522

article 2990523

article 2990524

article 2990525

article 2990526

article 2990527

article 2990528

article 2990529

article 2990530

article 2990531

article 2990532

article 2990533

article 2990534

article 2990535

article 2990536

article 2990537

article 2990538

article 2990539

article 2990540

article 2990541

article 2990542

article 2990543

article 2990544

article 2990545

article 10000356

article 10000357

article 10000358

article 10000359

article 10000360

article 10000361

article 10000362

article 10000363

article 10000364

article 10000365

article 10000366

article 10000367

article 10000368

article 10000369

article 10000370

article 10000371

article 10000372

article 10000373

article 10000374

article 10000375

article 10000376

article 10000377

article 10000378

article 10000379

article 10000380

article 10000381

article 10000382

article 10000383

article 10000384

article 10000385

article 10000386

article 10000387

article 10000388

article 10000389

article 10000390

article 10000391

article 10000392

article 10000393

article 10000394

article 10000395

article 10000396

article 10000397

article 10000398

article 10000399

article 10000400

article 10000401

article 10000402

article 10000403

article 10000404

article 10000405

news-1701
content-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

psda 438000021

psda 438000022

psda 438000023

psda 438000024

psda 438000025

psda 438000026

psda 438000027

psda 438000028

psda 438000029

psda 438000030

psda 438000031

psda 438000032

psda 438000033

psda 438000034

psda 438000035

psda 438000036

psda 438000037

psda 438000038

psda 438000039

psda 438000040

psda 438000041

psda 438000042

psda 438000043

psda 438000044

psda 438000045

psda 438000046

psda 438000047

psda 438000048

psda 438000049

psda 438000050

psda 438000051

psda 438000052

psda 438000053

psda 438000054

psda 438000055

psda 438000056

psda 438000057

psda 438000058

psda 438000059

psda 438000060

psda 438000061

psda 438000062

psda 438000063

psda 438000064

psda 438000065

cuaca 638000086

cuaca 638000087

cuaca 638000088

cuaca 638000089

cuaca 638000090

cuaca 638000091

cuaca 638000092

cuaca 638000093

cuaca 638000094

cuaca 638000095

cuaca 638000096

cuaca 638000097

cuaca 638000098

cuaca 638000099

cuaca 638000100

article 710000101

article 710000102

article 710000103

article 710000104

article 710000105

article 710000106

article 710000107

article 710000108

article 710000109

article 710000110

article 710000111

article 710000112

article 710000113

article 710000114

article 710000115

article 710000116

article 710000117

article 710000118

article 710000119

article 710000120

article 710000121

article 710000122

article 710000123

article 710000124

article 710000125

article 710000126

article 710000127

article 710000128

article 710000129

article 710000130

article 710000131

article 710000132

article 710000133

article 710000134

article 710000135

article 710000136

article 710000137

article 710000138

article 710000139

article 710000140

article 999990036

article 999990037

article 999990038

article 999990039

article 999990040

article 999990041

article 999990042

article 999990043

article 999990044

article 999990045

article 999990046

article 999990047

article 999990048

article 999990049

article 999990050

article 999990051

article 999990052

article 999990053

article 999990054

article 999990055

article 999990056

article 999990057

article 999990058

article 999990059

article 999990060

article 999990061

article 999990062

article 999990063

article 999990064

article 999990065

cuaca 898100116

cuaca 898100117

cuaca 898100118

cuaca 898100119

cuaca 898100120

cuaca 898100121

cuaca 898100122

cuaca 898100123

cuaca 898100124

cuaca 898100125

cuaca 898100126

cuaca 898100127

cuaca 898100128

cuaca 898100129

cuaca 898100130

cuaca 898100131

cuaca 898100132

cuaca 898100133

cuaca 898100134

cuaca 898100135

article 868100071

article 868100072

article 868100073

article 868100074

article 868100075

article 868100076

article 868100077

article 868100078

article 868100079

article 868100080

article 868100081

article 868100082

article 868100083

article 868100084

article 868100085

article 868100086

article 868100087

article 868100088

article 868100089

article 868100090

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

article 328000646

article 328000647

article 328000648

article 328000649

article 328000650

article 328000651

article 328000652

article 328000653

article 328000654

article 328000655

article 328000656

article 328000657

article 328000658

article 328000659

article 328000660

content-1701