Donasi Online Di Tengah Ramadan, Ajang Kebaikan atau Celah Penipuan?

Donasi online
Donasi online
(Aplikasi donasi online. Foto: Lutfika Radhiansari )

Berbagai bencana alam dan pandemi yang tak kunjung berakhir di Indonesia menjadikan tahun 2020 hingga kini sebagai tahun penuh cobaan. Dikutip dari laman Detiknews.com, disampaikan oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo per Oktober 2020 6,4 juta orang terkena PHK. Dari buruh pabrik sampai pekerja kantoran terpaksa dirumahkan.

Lemahnya ekonomi membuat para musisi seperti Raisa menggelar penggalangan dana untuk para pekerja yang terkena dampak pandemi. Tak kalah dari Raisa, seorang business woman  yang biasa dikenal sebagai influencer, Rachel Vennya, berhasil menggalang dana untuk keperluan APD bagi tim medis yang menjadi garda terdepan penanganan Covid-19.

Meski begitu, sayangnya ada juga oknum yang justru memanfaatkan momen berdonasi ini sebagai celah untuk berbuat curang. Mengingat kembali Maret 2020, Twitter dihebohkan dengan adanya penipuan sebuah akun berkedok sebagai anak dari pedagang kue yang rugi. Kalimat “Twitter Please Do Your Magic” disalahgunakan olehnya untuk menarik simpati para pengguna Twitter untuk membeli dagangan ibunya yang berlebih. Setelah diselidiki oleh lihainya jari netizen, foto kue yang ia pasang merupakan hasil foto curian dari usaha kue orang lain di media sosial Facebook. Begitu beritanya terkuak, netizen ramai-ramai membagikan penipuan lainnya berkedok donasi online.

Di tengah bulan Ramadan ini, masyarakat khususnya umat muslim berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, salah satunya dengan bersedekah. Mengikuti perkembangan zaman, sedekah kini dapat dilakukan menggunakan gadget melalui beberapa situs donasi online.

Meskipun beberapa oknum memanfaatkan donasi online sebagai celah penipuan, Sobat Warta tidak perlu mengurungkan niat untuk berdonasi online. Berikut tips agar Sobat Warta tetap dapat berdonasi online secara aman!

Aplikasi Donasi Online
(Salah satu situs / aplikasi donasi online terbesar di Indonesia, kitabisa.com. Foto: Lutfika Radhiansari )

Apa yang Harus Dilakukan Sebelum Memilih Tempat Berdonasi secara Online?

  1. Pilih Penyelenggara Donasi Terpercaya

Sebelum Sobat Warta menyisihkan dana untuk berdonasi, pastikan penyelenggara donasi dipilih memiliki latar belakang yang jelas seperti lembaga kampus, lembaga swadaya masyarakat, media televisi, atau situs donasi dengan kredibilitas terpercaya seperti Kitabisa.com, wecare.id,  atau lindungihutan.com. Jika berdonasi melalui situs, pastikan situs tersebut telah tercantum izin penggalangan uang dan barang (PUB) sebagai landasan fundamental terjadinya operasional situs tersebut.

Jika Sobat Warta menemukan penggalangan dana yang dilakukan non government organization (NGO) pastikan organisasi tersebut memiliki rekam jejak yang jelas seperti WALHI, Greenpeace, PBHI, IAAS, dll. Jika penyelenggara berasal dari institusi pendidikan seperti sekolah dan kampus, pastikan institusi tersebut telah sah terdaftar sebagai lembaga pendidikan, dan nama para penyalur donasi terdaftar sebagai murid, mahasiswa, atau tenaga kependidikan pada situs PDDKTI dan DAPODIK.

  1. Gunakan Google untuk Memastikan Foto Asli atau Tidak

Tidak ada salahnya untuk bersikap skeptis sebelum berdonasi. Sobat Warta dapat menggunakan Google untuk memastikan kembali foto yang dipajang penyelenggara. Cukup simpan dan unggah kembali foto di Google search bar untuk mengetahui apakah foto pernah diunggah orang lain atau tidak. Jika foto donasi telah diunggah sebelumnya tanpa ada kaitan donasi, maka Sobat Warta sebaiknya memilih tempat lain untuk berdonasi, dan jangan lupa untuk menyebarkan berita donasi online tersebut terkait penipuan.

  1. Baca Teliti Deskripsi

Deskripsi yang tertera di aplikasi / foto donasi perlu dibaca dengan teliti. Sobat Warta dapat mencocokan deskripsi dengan rumus 5W+1H, seperti apa kejadian yang membutuhkan donasi, siapa yang akan menerima donasi, mengapa mereka membutuhkan donasi, di mana lokasi yang membutuhkan donasi, dan bagaimana penyelenggara donasi mengalokasikan dana dan distribusi ke lokasi orang yang membutuhkan donasi. Jika informasi yang tertera tidak lengkap dan tidak ada jaminan transparansi dana, Sobat Warta sebaiknya tidak perlu melanjutkan transaksi di laman donasi online tersebut.

  1. Ada Transparansi Dana

Donasi yang tidak dilampirkan dengan transparansi dana patut dicurigai sebagai penipuan. Pihak penyelenggara wajib mencantumkan transparansi dana secara publik (meskipun nama dapat disamarkan sesuai permintaan donatur). Jumlah dana yang diterima penyelenggara dengan yang didonasikan harus sama nilainya, begitupun yang tercantum di transparansi dana.

Selain nominal yang didonasikan, uang yang diterima harus jelas akan dialokasikan untuk apa saja. Misalnya, donasi untuk korban longsor yang sudah diterima sebesar Rp5.000.000 akan dibagi untuk keperluan makanan pengungsi, obat-obatan, dan lainnya.

  1. Ada Laporan Kegiatan

Pihak donatur maupun calon donatur berhak mendapatkan bukti kegiatan yang membutuhkan dana donasi. Penyaluran dana donasi butuh bukti kegiatan yang sesuai dengan deskripsi yang ditulis oleh pihak penyelenggara donasi. Sebagai contoh, pada donasi bencana longsor butuh adanya dokumentasi rusaknya fasilitas rumah, korban yang diungsikan, dan bantuan pendistribusian makanan, obat-obatan, serta pakaian bagi korban.

Bulan Ramadan menjadi momen yang tepat untuk ajang menebar kebaikan. Berapapun dana yang didonasikan akan sangat berarti bagi yang membutuhkan. Semoga tips di atas dapat membantumu menghindari penipuan atas nama donasi online, dan tetap menebar kebaikan dengan perasaan aman.

Selamat berdonasi, Sobat Warta!

Penulis: Roro Wulan Latifah

Editor: Malika Ade Arintya

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *