
Warta Kema – Berbagai lapisan masyarakat memadati kawasan Cikapundung River Spot, Bandung, dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) pada Minggu (8/3). Mengusung tema besar “Perempuan Bangkit Kembali, Hancurkan Jeruji Fasisme,” aksi ini menjadi ruang massa untuk menyuarakan kondisi sosial-politik saat ini.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan aksi long march yang melintasi beberapa titik strategis Kota Bandung, seperti Jl. Asia Afrika, Jl. Cikapundung Barat, Jl. Naripan, Braga Bawah, Jl. Dr. Ir. Soekarno, dan diakhiri dengan Cikapundung River Spot. Sepanjang rute tersebut, para orator secara bergantian menyerukan berbagai aspirasi.
Setelah kembali ke titik pusat aksi (Cikapundung River Spot), substansi tuntutan massa meluas. Secara garis besar, massa aksi menyerukan perlawanan terhadap sistem fasisme, imperialisme, dan kolonialisme negara. Massa juga mendesak dihentikannya kriminalisasi demi merebut kembali kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Isu kemanusiaan juga menjadi sorotan utama melalui tuntutan penghentian segala bentuk kekerasan berbasis gender serta penghapusan diskriminasi terhadap identitas tertentu.
Di sektor ketenagakerjaan dan pendidikan, massa aksi mendesak pencabutan Undang-Undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 guna mengakhiri eksploitasi terhadap buruh, guru, dosen, hingga pekerja kampus. Selain itu, mereka menegaskan bahwa kesehatan merupakan hak konstitusional yang harus dipenuhi melalui penyediaan layanan yang aman, bermutu, terjangkau, dan berbasis ilmu pengetahuan, bukan sebagai barang mewah. Tidak hanya itu, aksi ini juga menyerukan penerapan sistem pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan berpihak pada rakyat, serta penjaminan akses setara dan keadilan bagi penyandang disabilitas di seluruh ruang publik.
Suasana aksi semakin hidup dengan digelarnya pertunjukan musik, puisi, orasi, hingga teatrikal. Kemeriahan aksi juga didukung dengan hadirnya berbagai lapak kreatif yang menciptakan ruang interaksi publik melalui layanan face painting, pembacaan kartu tarot, hingga lapak baca buku gratis dan zine.
International Women’s Day, untuk Apa?
Wawaw, salah satu massa aksi dari Girl Up Unpad, mengungkapkan dorongan untuk terlibat aktif dalam aksi ini muncul dari kesadaran bahwa ruang publik harus mampu merangkul keberagaman identitas secara inklusif dan setara.
“Aku datang sebagai representasi dari teman-teman queer dan perempuan. Jadi, terdorong untuk hadir,” ungkap Wawaw.
Partisipasi dalam aksi ini bukan sekadar bentuk protes, melainkan upaya memperkuat daya tahan di tengah tantangan sosial yang ada. Naje, massa aksi dari Girl Up Unpad, bercerita bahwa momentum ini menjadi ruang untuk mempererat jejaring antarindividu dan kelompok yang memiliki visi serupa.
“Memupuk semangat perjuangan. Kemudian, membangun solidaritas dengan komunitas-komunitas lain. Sebenarnya, sangat senang ada wadah yang bisa (membuat) kita kumpul bareng-bareng,” cerita Naje.
Apa Makna International Women’s Day bagi Mereka?
IWD menjadi ruang aman untuk merayakan keberagaman identitas tanpa sekat stigma rasial maupun orientasi seksual. Bagi Naje, momentum ini menjadi wujud nyata dari filosofi kebebasan di mana setiap individu merasa diterima dan berani menjadi diri mereka sendiri sepenuhnya.
“Pembebasan dari stigma queerness, pembebasan dari stigma kulit hitam dan putih. Aku melihat semua orang menjadi diri sendiri dan aku pikir itu memang filosofi yang diharapkan oleh semua orang yang ada di sini,” papar Naje.
Rere, seorang musisi sekaligus aktivis sosial menganggap IWD adalah ruang untuk menyampaikan aspirasi yang selama ini sulit tersampaikan. Ia berseru, bahwa IWD adalah saat yang tepat untuk bersuara.
“Mari kita rayakan kebebasan bersuara, karena ini waktunya perempuan bersuara!” seru Rere.
Penulis : Rofi Roudhiatin Dwi Andini
Editor : Anindya Ratri Primaningtyas, Fernaldhy Rossi Armanda
