
Warta Kema – Sebuah pohon tumbang di ruas Jalan Raya Jatinangor, tepatnya di area setelah Pangkalan Damri, pada Senin (01/06) malam. Posisi pohon melintang di jalur utama menyebabkan kemacetan arus kendaraan arah Bandung menuju Sumedang dari sekitar pukul 18.30 WIB. Masyarakat, disusul pihak berwenang bersama tim evakuasi kemudian berupaya membersihkan reruntuhan pohon dan gapura guna memulihkan kembali akses jalan nasional yang sempat terputus.
Bukan Karena Cuaca Ekstrem, Pohon Diduga Alami Pelapukan
Berdasarkan keterangan saksi mata, Intang, pohon tumbang mendadak tanpa adanya pemicu cuaca ekstrem seperti hujan deras ataupun angin kencang. Pohon tidak langsung menghantam permukaan jalan, melainkan lebih dulu merobohkan gapura di depannya. Akibatnya, reruntuhan pohon dan gapura jatuh bersamaan hingga menutup akses jalan.
“Awalnya ada bunyi pohon kayak abis ditebang, kenceng banget. Mungkin kencengnya itu karena dia double (jatuhnya). Jadi, udah bunyi mau roboh gitu langsung nimpa gapura dan nimpa kesitu (jalan utama),” papar Intang.
Mengenai penyebab insiden, ditemukan indikasi bahwa kondisi pohon sudah tidak lagi kokoh. Kerusakan pohon terlihat di area sekitar pangkal pohon yang tampak mengalami pelapukan.
“Yang saya lihat, ini (pohon) kayak keropos. Bukan dari bawah (akar), tapi di sini (pangkal pohon),” jelas Intang.
Lima Korban Terdampak, Masyarakat Lakukan Evakuasi
Evakuasi dilakukan dengan memprioritaskan korban berdasarkan tingkat keparahan luka yang dialami. Satu korban dilaporkan dalam kondisi kritis dan kehilangan kesadaran hingga dievakuasi menuju Rumah Sakit (RS) Universitas Padjadjaran (Unpad) guna mendapatkan penanganan darurat. Satu korban ditemukan di bahu jalan dalam kondisi kejang. Tiga korban lainnya berada dalam kondisi dapat merespons sebelum akhirnya dievakuasi ke Puskesmas Jatinangor untuk mendapatkan penanganan.
“Jumlah korban ada lima, satu orang nggak sadar, kayaknya kena banget soalnya di tengah jalan, terus dilarikan ke RS Unpad. Satunya lagi di bahu jalan, sempat kejang-kejang. Tiga orang lainnya sadar dan bisa komunikasi, (dilarikan) ke Puskesmas,” lanjut Intang.
Terkait dengan identitas, tiga korban yang berada dalam kondisi sadar terlihat mengenakan atribut ojek online (ojol). Sementara itu, identitas dua korban lainnya dengan luka parah masih belum dapat dipastikan karena tidak ditemukan ciri khusus di lokasi kejadian.
“Kayaknya tiga-tiganya ojol, soalnya pake atribut sedangkan yang tadi (dua korban sebelumnya) nggak ada atribut apapun,” papar Intang.
Pasca kejadian, masyarakat di lokasi berupaya mengambil langkah inisiatif guna mempercepat datangnya bantuan. Sejumlah masyarakat segera mengamankan kondisi korban sekaligus menghubungi layanan darurat. Masyarakat lainnya saling membagi tugas antara menjaga korban dan mencari akses ambulans ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Saya datang ke RS Unpad, ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), minta ambulans. Tapi, sebelum saya bergerak, saya ngamanin korban yang kejang-kejang. Saya teriak minta tolong ke neng-neng, lah, ‘Neng 110’ (call center polri),” cerita Intang.
Sambil menunggu kedatangan Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumedang yang diduga terkendala macet, warga inisiatif membuka akses jalan dengan mengurai tumpukan reruntuhan pohon dan gapura. Langkah ini diambil guna meminimalisir kemacetan yang kian mengular di sepanjang jalan nasional.
“Mungkin aja mereka (damkar) terlambat karena salah jalan. Karena macet, jadi (reruntuhan pohon dan gapura) dipinggirin sedikit sama warga, yang penting motor-mobil bisa lewat dulu,” tutur Intang.
Proses evakuasi korban menuju ambulans berlangsung dengan kerja sama antara mahasiswa dan warga sekitar. Lantaran tidak adanya tenaga medis di lokasi kejadian, pemindahan korban ke atas tandu (brankar) dilakukan sepenuhnya oleh mahasiswa dan warga.
“Setengah jam (pasca kejadian) baru datang ambulans, korban diangkut. Itu pun sama mahasiswa karena nggak ada medis (dari RS Unpad). Dia (mahasiswa) memperkenalkan diri bukan dari tim medis tapi tahu basic penanganan,” tutur Intang.
Ada Dugaan Insiden Serupa, Lokasi Titik Berdekatan
Beredar informasi yang masih bersifat simpang siur di media sosial mengenai adanya kejadian serupa di titik lain di kawasan Jatinangor. Damkar Sumedang terpantau di depan gerbang Institut Teknologi Bandung (ITB) dan diduga telah menangani kejadian serupa di depan Kopi Setia Jatinangor.
“Baru aja Damkar bantu pohon tumbang juga depan kopi setia .. baru beres,” tulis satfya2211 dalam unggahan @infojatinangor.
Intang: Visibilitas Pengendara itu Penting!
Intang menekankan pentingnya aspek visibilitas bagi para pengendara motor, terutama saat melintasi jalur yang minim penerangan pada malam hari. Pemilihan warna pakaian yang kontras dianggap dapat mempermudah proses identifikasi maupun bantuan jika terjadi situasi darurat di jalan raya.
“Kalau kita jalan malam, jangan pake baju hitam atau warna gelap karena pas di evakuasi itu baju yang dua (korban) itu hitam, jadi menyaru sama aspal,” tekan Intang.
Penulis: Rofi Roudhiatin Dwi Andini
Editor : Anindya Rartri Primaningtyas, Fernaldhy Rossi Armanda
