(Sumber Foto:  The Minds Journal)

Kita hidup di lingkungan yang mengajarkan perilaku baik dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kita juga hidup dalam pandangan bahwa berperilaku baik dan dapat menyenangkan orang lain merupakan sesuatu yang terpuji. Akan tetapi, terkadang kita terlarut dalam upaya menjadi sosok yang ideal di mata orang lain, tanpa memikirkan apakah kita senang dengan bersikap seperti itu. Jika hal tersebut terjadi pada diri Sobat Warta, bisa saja kalian merupakan seorang People-pleaser.

Apa itu People-pleaser?

People-pleaser identik dengan orang yang “nggak enakan”. Mereka dikenal sebagai seseorang yang akan melakukan apapun demi membuat orang lain bahagia, meskipun berarti menomorduakan kebahagiaannya sendiri. Bagi para people-pleaser, hal tersebut merupakan kebiasaan yang candu, karena dengan begitu mereka bisa mendapatkan validasi yang membuatnya merasa berguna dan juga dibutuhkan. Padahal, jika terus menerus seperti itu, akan berdampak pada kelelahan secara emosional, stress, bahkan mengalami kecemasan.

Being Nice is Different from Being People-pleaser.

Berperilaku baik dan dapat membantu orang lain memang suatu hal yang positif. Akan tetapi, terdapat perbedaan antara ‘melakukan sesuatu untuk menjadi orang yang baik’ dan ‘melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain’. Jika pada umumnya orang-orang melakukan sesuatu dengan tujuan untuk membantu atau semata-mata ingin merasa dirinya baik, people-pleaser akan melakukan sesuatu karena mereka takut akan penolakan dari lingkungan sekitarnya.

Ciri Bahwa Kamu Seorang People-pleaser

Seorang people-pleaser terkadang tidak sadar bahwa mereka adalah salah satu di antaranya. Untuk itu, Warta Kema sudah merangkum beberapa tanda yang dapat menunjukkan bahwa kamu seorang people-pleaser menurut Science of People:

  1. Mengatakan ‘Ya” pada ajakan yang sebenarnya tidak ingin kamu ikuti
  2. Merasa bersalah dan terlalu sering meminta maaf pada hal kecil yang bahkan bukan salahmu
  3. Merasa cemas dan takut ketika ada orang yang marah kepadamu
  4. Berperilaku seperti orang-orang di sekitarmu untuk mendapat validasi
  5. Menawarkan bantuan walaupun sebenarnya kamu sedang sibuk
  6. Berpura-pura tertarik pada suatu pembicaraan walaupun sebenarnya kamu merasa bosan
  7. Melakukan hal demi orang lain dan merasa menyesal setelahnya
  8. Merasa memiliki tanggung jawab atas perasaan orang lain
  9. Tidak memiliki pendirian dan cenderung mengikuti pendapat orang lain
  10. Sulit untuk menolak dan mengatakan ‘Tidak!’

Cara untuk Berhenti Menjadi People-pleaser

Menjadi people-pleaser merupakan tindakan yang dapat mempengaruhi kesehatan mental kita. Jika Sobat Warta merasa relate dengan ciri-ciri seorang people-pleaser di atas, tidak ada kata terlambat untuk berhenti. Kalian bisa mencoba beberapa tips ini agar sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan pleasing people:

  • Memberi Batasan

Suatu hal yang berlebihan tidaklah baik, sehingga penting bagi kita mengetahui dan memberi batasan untuk diri kita sendiri. Jadilah pribadi yang tegas agar dapat menentukan apa yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan.

Contoh kecil yang bisa Sobat Warta terapkan adalah memberi batasan waktu kapan kalian available dalam membalas chat. Misalnya kalian hanya aktif setiap weekdays dari jam 09.00 – 21.00, selebihnya merupakan waktu untuk beristirahat. Ini dapat membantu Sobat Warta untuk dapat mengontrol apa yang ingin kalian lakukan dan kapan harus melakukannya.

  • Menetapkan Prioritas

Coba untuk menentukan sesuatu yang menjadi prioritas Sobat Warta. Hal tersebut bisa dimulai dari menentukan kegiatan apa yang harus dan ingin kalian lakukan. Jika terdapat sesuatu di luar prioritas terjadi, semisalnya ada ajakan secara tiba-tiba untuk pergi menonton dengan teman, Sobat Warta sangat boleh untuk menolaknya, dan jangan merasa bersalah karena itu memang tidak ada dalam prioritas kalian saat ini.

  • Take Your Time

Segala keputusan tidak harus ditetapkan pada saat itu juga. Hal ini pun berlaku ketika ada seseorang yang meminta bantuan atau mengajak Sobat Warta melakukan sesuatu. Mengatakan ‘Ya’ secara langsung tak jarang berujung pada keputusan yang salah dan pada akhirnya membuat kalian menyesal.

Luangkan waktu sejenak untuk mempertimbangkan berbagai pertanyaan, seperti ‘berapa lama waktu yang akan dihabiskan?’, ‘apakah ini merupakan hal yang penting?’, ‘apakah aku punya waktu untuk melakukannya?’, atau bahkan ‘seberapa besar kemungkinan aku merasa stress jika mengiyakan hal tersebut?’. Hal-hal tersebut dapat menjadi pertimbangan Sobat Warta untuk membuat keputusan yang lebih baik.

  • Coba untuk Berkata ‘Tidak’

Hal penting yang sulit dilakukan, namun memiliki impact yang besar jika diterapkan. Sobat Warta dapat memulai untuk berkata tidak jika ketiga cara sebelumnya sudah kalian lakukan. Mengapa demikian? Karena untuk sebagian orang, kata ‘tidak’ memiliki implikasi negatif dan tidak semua orang dapat menerimanya dengan baik. Untuk itu, agar kesan yang diterima orang lain dari penolakan kita itu baik, perlu adanya alasan rasional dari hal tersebut, dan Sobat Warta bisa mendapatkannya ketika sudah menentukan prioritas, batasan, serta mempertimbangkan baik buruknya suatu keputusan.

Jangan ragu untuk mengatakan tidak jika hal yang dihadapi memang tidak sesuai dengan apa yang kalian mau. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, sehingga penting untuk menyenangkan diri sendiri terlebih dahulu. Tidak perlu terburu-buru, cukup mulai dari hal yang kecil. Because every small step matters!

Penulis: Nanda Eka Fitriani

Editor: Malika Ade Arintya

Leave a Reply

Your email address will not be published.