Long march Aliansi Simpul Puan pada International Women’s Day 2026 di Bandung (Warta Kema/Departemen Fotografi)

Warta Kema – Direktur Kemahasiswaan (Dirkema) Universitas Padjadjaran (Unpad), Inu Isnaeni Sidiq, mengajukan hak jawab guna mengklarifikasi kontroversi unggahan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad terkait tuntutan peringatan International Women’s Day (IWD). Langkah ini diambil sebagai bentuk verifikasi institusi atas sejumlah poin sensitif hasil konsolidasi dengan aliansi Simpul Puan yang memicu kontroversi di kalangan mahasiswa. 

“Kalau kita melihat di postingan tersebut, banyak sekali yang menyayangkan postingan dilakukan oleh BEM Kema. Sampai mereka mention akun Ditmawa (Direktorat Kemahasiswaan), rektor, dan sebagainya sehingga saya merasa perlu melakukan verifikasi,” ujar Inu.

Rangkaian tuntutan tersebut mencakup isu yang luas, mulai dari desakan menghancurkan fasisme dan imperialisme, penolakan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, hingga tuntutan hak kesehatan dan pendidikan yang demokratis. BEM Kema Unpad juga menyuarakan keadilan bagi penyandang disabilitas, keamanan jurnalis, penghentian ekosida bagi masyarakat adat, hingga kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis dan penggunaan Artificial Intellegence (AI) yang hanya menguntungkan korporasi. Namun, polemik mulai memuncak ketika Kema menyoroti poin mengenai penghentian kekerasan berbasis gender dan diskriminasi identitas. Fokus kontroversi tertuju pada desakan pencabutan kebijakan diskriminatif terhadap kelompok LGBTQIA+. Isu tersebut memicu sebagian mahasiswa untuk menuntut klarifikasi dari pihak universitas dengan mention akun media sosial resmi Ditmawa dan rektorat.

“Dilihat dari tanggapan BEM yang secara garis besar berlindung dibalik ‘kebebasan setiap individu’ harusnya tau mana yang perbedaan mana yang penyimpangan. Saya menghargai perbedaan tapi tidak dengan penyimpangan @vincenthomas_ @ezraalbarra3 @ditmawa.unpad @rektor.unpad,” tulis noqia_ dalam unggahan @bem.unpad.

“@ditmawa.unpad @rektor.unpad @unpad Ini tanggapannya gmn? Akan dibiarin aja? Brrti Unpad sudah mendukung LGBTQIA++ atau gmn? Kalau iya, sangat menyedihkan sekali, pdhl masjid raya unpad terkenal dgn komunitas islamnya juga,” tulis arief78_mtb dalam unggahan @bem.unpad.

Menanggapi polemik tersebut, Inu mengajukan hak jawab untuk meluruskan kesalahpahaman yang telah terjadi. Bagi Dirkema, kericuhan di media sosial adalah tanda bahwa ada proses pengambilan keputusan yang dianggap tidak sesuai. Langkah klarifikasi diambil karena universitas akan dianggap abai jika tidak menanggapi keresahan ribuan mahasiswa yang merasa nama lembaga mereka disebut dalam agenda yang tidak mereka sepakati.

“Itu kenapa saya merasa perlu untuk mengklarifikasi. Karena kami di-mention di situ. Kalau kami diam saja, sekarang kami  (dianggap) tidak peduli, abai” ujar Inu.

BEM Kema Unpad menyusun tuntutan tersebut melalui pendekatan “interseksionalitas” yang memandang penindasan perempuan berkaitan erat dengan identitas marginal lainnya. Namun, empat poin berikut menjadi pusat konflik. Tuntutan tersebut meliputi penghentian sensor dan pemblokiran konten LGBTQIA+, dekriminalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK) dan pedila melalui perlindungan hukum, ratifikasi pernikahan lintas iman dan sesama jenis melalui revisi UU Perkawinan, serta penghentian politisasi agama dan pengawasan moral oleh negara.

Inu mengajukan kritik terhadap metode BEM Kema. Ia menekankan bahwa BEM Kema memikul tanggung jawab moral untuk mewakili lebih dari 33.000 mahasiswa jenjang S1 dan D4. Baginya, klaim representasi tidak cukup didasarkan pada forum konsolidasi kecil yang menghasilkan vocal agreement. Ia meminta kepada BEM Kema untuk menyajikan survei kuantitatif yang valid untuk membuktikan bahwa tuntutan tersebut benar-benar didukung mayoritas mahasiswa, bukan sekadar “minority dictatorship.”

 “Perlindungan minoritas itu penting, tetapi jangan lupa, penghargaan terhadap hak-hak mayoritas juga penting. Karena tenggang rasa, hormat menghormati, itu bekerja dua arah. Tidak bekerja satu arah. Jangan sampai juga terjadi minority dictatorship. Kita hanya mengedepankan kepentingan minoritas tanpa menghargai kepentingan mayoritas. Ini gak akan jalan,” ujar Inu.

Inu melanjutkan pernyataannya denganmembahas mengenai aksi yang dapat diambil untuk merepresentasikan Kema Unpad dalam hal pengambilan isu-isu sensitif. Inu beranggapan bahwa untuk isu sensitif, perlu ada tindakan lebih yang diambil dalam proses pengambilan keputusan, seperti menyebarkan kuisioner dengan  jumlah responden tertentu sehingga hasil survei tersebut dapat diakui valid.

“Kalau memang ini sudah disetujui oleh teman-teman yang hadir konsolidasi, sudahkah mereka merepresentasikan kepentingan Kema Unpad keseluruhan yang notabene jumlahnya tadi 33.000? Walaupun agak sulit menurut saya bertanya ke 30.000 (mahasiswa), tetapi untuk isu-isu yang sangat sensitif seperti ini, menurut saya harus ada effort lebih. Sebar, tuh, kuesioner, setidaknya mayoritas,” lanjut Inu.

Lebih jauh, Inu menyoroti bahaya ketidakpastian artikulasi dalam penyampaian tuntutan. Ia mencontohkan istilah “dekriminalisasi” yang bisa disalahartikan masyarakat sebagai “legalisasi” prostitusi. Menurutnya, tanpa adanya penyaringan, konten yang melanggar standar perlindungan anak dan kekerasan seksual dapat semakin merajalela di ruang publik. Oleh karena itu, ia menyarankan filtrasi atau pencabutan poin-poin yang dinilai bertentangan dengan jati diri institusi pendidikan.

“‘Dekriminalisasi dan lindungi pekerja seks dan pedila dengan payung hukum.’ Artinya, pekerja seks itu harus dilindungi dengan payung hukum. Kalau kamu baca pernyataan itu, apa yang kamu interpretasikan? Kalau pekerja seks diperbolehkan melaksanakan praktisnya dengan jalur hukum, kan kita harus melegalisasi praktek prostitusi dan melegalisasi adanya lokalisasi. Menurut kalian, bermasalah nggak pernyataannya dikeluarkan oleh mahasiswa?” ujar Inu.

Ia menambahkan poin keagamaan dan budaya ketimuran yang juga disebutkan dalam poin tuntutan tersebut untuk diubah. Menurutnya, poin tersebut tidak sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia.

“Pelayanan tentang hentikan penggunaan agama sebagai moral dan lain sebagainya, padahal ideologi kita pancasila. Sila pertamanya ketuhanan yang maha esa. Otomatis agama itu memang dijadikan sebuah pedoman, terlepas dari agama apapun itu,” ujar Inu.

Kemudian, ia melengkapi pernyataan tersebut dengan membahas kerancuan poin-poin tuntutan aksi. Contohnya, penghentian sensor konten seksual yang ia anggap tidak sesuai dengan budaya dan nilai ketimuran Indonesia, serta berpotensi menimbulkan pergeseran norma sosial yang selama ini dijunjung oleh masyarakat.

“Kalau kita baca kalimatnya, bukan ke situ (maknanya). Tapi seakan-akan konten LGBTQ di televisi tidak boleh di-share. Maaf kasarnya, laki-laki sama laki-laki ciuman, gak boleh disensor. Sesuai gak itu dengan nilai-nilai ketimuran kita, nilai-nilai keagamaan yang diajarkan selama ini dalam agama yang kita anggap? Ketika kamu baca, interpretasi kamu seperti itu, ya? Padahal maksud mereka bukan itu katanya,” ujar Inu. 

Ia menganggap solusi dari permasalahan adalah melakukan filtrasi dan empat poin tersebut. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan untuk mencegah adanya kesalahpahaman di masyarakat dan menjaga kesesuaian tuntutan dengan nilai-nilai yang berlaku.

“Walaupun saya juga mengapresiasi upaya dari Kema, BEM khususnya, untuk memberikan penjelasan lebih detail terkait dengan poin-poin tadi, bahwa sebetulnya yang mereka maksud bukan itu. Hanya menurut saya, dengan ini menjadi kontroversi, kemudian masih dipermasalahkan oleh Kema yang lain, baiknya, tiga poin (Dekriminalisasi PSK, Hak LGBTQIA+, sensor konten LGBTQIA+) itu cabut aja, ” tambah Inu.

Di sisi lain, Wakil Ketua BEM Kema Unpad, Ezra Al Barra, mempertahankan posisi lembaganya melalui logika mandat demokratis. Ezra berargumen bahwa BEM tidak perlu mewakili seluruh ide individu mahasiswa untuk bertindak. Ia menggambarkan posisi kritis BEM dengan pemerintahan nasional. Meskipun ada mahasiswa yang mendukung pemerintah, BEM tetap mengambil posisi kritis berdasarkan mandat pemenang pemilu.

“Di setiap isu, BEM Kema menyadari bahwa apa yang kami suarakan dan apa yang menjadi posisi kelembagaan tidak akan selalu atau tidak akan selamanya merasakan harapan dan keinginan semua masyarakat Unpad atau kema. BEM Kema sejak tahun-tahun sebelumnya juga merupakan organisasi lembaga yang kritis terhadap kebijakan pemerintahan. Apakah hal itu merepresentasikan keseluruhan dari Kema? Tentu tidak,” ujar Ezra.

Terkait tuduhan kurangnya filtrasi atau penggunaan diksi yang serupa dengan Simpul Puan, Ezra mengungkapkan bahwa pada tahun 2021–2022, BEM melakukan filtrasi turna tidak tergabung dalam aliansi. Namun, pada 2024–2025, keputusan untuk mengadopsi tuntutan secara utuh disebut sebagai pilihan politik demi solidaritas aliansi. Secara prosedural, BEM merasa tidak memiliki kewenangan untuk mengubah redaksi tuntutan jika ingin ingin tetap berada dalam barisan Simpul Puan. 

“Opsi yang kami berikan kepada Kema saat konsolidasi adalah apakah kita mau membersamai IWD atau tidak. Apabila kita membersamai dengan aliansi simpul puan, maka inilah daftar tuntutannya. Tidak bisa suatu lembaga, organisasi, atau kelompok itu mengubah isi tuntutan tapi tetap membersamai,” ujar Ezra.

Setelah menjelaskan mengenai isu perbedaan pendapat dalam lingkungan kampus, ia juga meluruskan bahwa aksi BEM Kema dalam kolom komentar bukan merupakan aksi klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa komentar tersebut merupakan penjelasan tambahan untuk memberikan konteks yang lebih jelas, karena BEM Kema merasa tidak terdapat kekeliruan dalam unsur tersebut.

“Yang kami lakukan melalui komentar itu bukan klarifikasi tapi penjelasan tambahan terhadap proses pengambilan keputusan. Juga penjelasan tambahan terhadap arti dan maksud dari setiap pembukaan yang dianggap bermasalah oleh Kema. Kami tidak melakukan kekeliruan, tidak melakukan kesalahan, karena setiap langkah yang kami lakukan, kami publikasikan sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan berdasarkan peraturan besar Kema Unpad,” ujar Ezra.

Penulis : Jovita Callysta Aurely

Editor : Rofi Roudhiatin Dwi Andini, Anindya Ratri Primaningtyas, Fernaldhy Rossi Armanda

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

\

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

article 10000336

article 10000337

article 10000338

article 10000339

article 10000340

article 10000341

article 10000342

article 10000343

article 10000344

article 10000345

article 10000346

article 10000347

article 10000348

article 10000349

article 10000350

article 10000351

article 10000352

article 10000353

article 10000354

article 10000355

article 10000356

article 10000357

article 10000358

article 10000359

article 10000360

article 10000361

article 10000362

article 10000363

article 10000364

article 10000365

article 10000366

article 10000367

article 10000368

article 10000369

article 10000370

article 10000371

article 10000372

article 10000373

article 10000374

article 10000375

article 2990476

article 2990477

article 2990478

article 2990479

article 2990480

article 2990481

article 2990482

article 2990483

article 2990484

article 2990485

article 2990486

article 2990487

article 2990488

article 2990489

article 2990490

article 2990491

article 2990492

article 2990493

article 2990494

article 2990495

article 2990496

article 2990497

article 2990498

article 2990499

article 2990500

article 2990501

article 2990502

article 2990503

article 2990504

article 2990505

article 2990506

article 2990507

article 2990508

article 2990509

article 2990510

article 2990511

article 2990512

article 2990513

article 2990514

article 2990515

article 2000301

article 2000302

article 2000303

article 2000304

article 2000305

article 2000306

article 2000307

article 2000308

article 2000309

article 2000310

article 2000311

article 2000312

article 2000313

article 2000314

article 2000315

article 2000316

article 2000317

article 2000318

article 2000319

article 2000320

article 2000321

article 2000322

article 2000323

article 2000324

article 2000325

article 2000326

article 2000327

article 2000328

article 2000329

article 2000330

article 2000331

article 2000332

article 2000333

article 2000334

article 2000335

article 2000336

article 2000337

article 2000338

article 2000339

article 2000340

article 2000341

article 2000342

article 2000343

article 2000344

article 2000345

article 2000346

article 2000347

article 2000348

article 2000349

article 2000350

article 2000351

article 2000352

article 2000353

article 2000354

article 2000355

article 5500286

article 5500287

article 5500288

article 5500289

article 5500290

article 5500291

article 5500292

article 5500293

article 5500294

article 5500295

article 5500296

article 5500297

article 5500298

article 5500299

article 5500300

article 5500301

article 5500302

article 5500303

article 5500304

article 5500305

article 5500306

article 5500307

article 5500308

article 5500309

article 5500310

article 5500311

article 5500312

article 5500313

article 5500314

article 5500315

article 5500316

article 5500317

article 5500318

article 5500319

article 5500320

article 5500321

article 5500322

article 5500323

article 5500324

article 5500325

article 5500326

article 5500327

article 5500328

article 5500329

article 5500330

article 5500331

article 5500332

article 5500333

article 5500334

article 5500335

article 838000508

article 838000509

article 838000510

article 838000511

article 838000512

article 838000513

article 838000514

article 838000515

article 838000516

article 838000517

article 838000518

article 838000519

article 838000520

article 838000521

article 838000522

article 838000523

article 838000524

article 838000525

article 838000526

article 838000527

article 838000508

article 838000509

article 838000510

article 838000511

article 838000512

article 838000513

article 838000514

article 838000515

article 838000516

article 838000517

article 838000518

article 838000519

article 838000520

article 838000521

article 838000522

article 838000523

article 838000524

article 838000525

article 838000526

article 838000527

article 838000528

article 838000529

article 838000530

article 838000531

article 838000532

article 838000533

article 838000534

article 838000535

article 838000536

article 838000537

article 838000538

article 838000539

article 838000540

article 838000541

article 838000542

article 838000543

article 838000544

article 838000545

article 838000546

article 838000547

article 838000548

article 838000549

article 838000550

article 838000551

article 838000552

article 838000553

article 838000554

article 838000555

article 838000556

article 838000557

article 9998000521

article 9998000522

article 9998000523

article 9998000524

article 9998000525

article 9998000526

article 9998000527

article 9998000528

article 9998000529

article 9998000530

article 9998000531

article 9998000532

article 9998000533

article 9998000534

article 9998000535

article 9998000536

article 9998000537

article 9998000538

article 9998000539

article 9998000540

article 9998000541

article 9998000542

article 9998000543

article 9998000544

article 9998000545

article 9998000546

article 9998000547

article 9998000548

article 9998000549

article 9998000550

article 9998000551

article 9998000552

article 9998000553

article 9998000554

article 9998000555

article 9998000556

article 9998000557

article 9998000558

article 9998000559

article 9998000560

article 9998000561

article 9998000562

article 9998000563

article 9998000564

article 9998000565

article 9998000566

article 9998000567

article 9998000568

article 9998000569

article 9998000570

news-1701
content-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

psda 438000021

psda 438000022

psda 438000023

psda 438000024

psda 438000025

psda 438000026

psda 438000027

psda 438000028

psda 438000029

psda 438000030

psda 438000031

psda 438000032

psda 438000033

psda 438000034

psda 438000035

psda 438000036

psda 438000037

psda 438000038

psda 438000039

psda 438000040

psda 438000041

psda 438000042

psda 438000043

psda 438000044

psda 438000045

psda 438000046

psda 438000047

psda 438000048

psda 438000049

psda 438000050

psda 438000051

psda 438000052

psda 438000053

psda 438000054

psda 438000055

psda 438000056

psda 438000057

psda 438000058

psda 438000059

psda 438000060

psda 438000061

psda 438000062

psda 438000063

psda 438000064

psda 438000065

cuaca 638000086

cuaca 638000087

cuaca 638000088

cuaca 638000089

cuaca 638000090

cuaca 638000091

cuaca 638000092

cuaca 638000093

cuaca 638000094

cuaca 638000095

cuaca 638000096

cuaca 638000097

cuaca 638000098

cuaca 638000099

cuaca 638000100

article 710000101

article 710000102

article 710000103

article 710000104

article 710000105

article 710000106

article 710000107

article 710000108

article 710000109

article 710000110

article 710000111

article 710000112

article 710000113

article 710000114

article 710000115

article 710000116

article 710000117

article 710000118

article 710000119

article 710000120

article 710000121

article 710000122

article 710000123

article 710000124

article 710000125

article 710000126

article 710000127

article 710000128

article 710000129

article 710000130

article 710000131

article 710000132

article 710000133

article 710000134

article 710000135

article 710000136

article 710000137

article 710000138

article 710000139

article 710000140

article 999990036

article 999990037

article 999990038

article 999990039

article 999990040

article 999990041

article 999990042

article 999990043

article 999990044

article 999990045

article 999990046

article 999990047

article 999990048

article 999990049

article 999990050

article 999990051

article 999990052

article 999990053

article 999990054

article 999990055

article 999990056

article 999990057

article 999990058

article 999990059

article 999990060

article 999990061

article 999990062

article 999990063

article 999990064

article 999990065

cuaca 898100116

cuaca 898100117

cuaca 898100118

cuaca 898100119

cuaca 898100120

cuaca 898100121

cuaca 898100122

cuaca 898100123

cuaca 898100124

cuaca 898100125

cuaca 898100126

cuaca 898100127

cuaca 898100128

cuaca 898100129

cuaca 898100130

cuaca 898100131

cuaca 898100132

cuaca 898100133

cuaca 898100134

cuaca 898100135

article 868100071

article 868100072

article 868100073

article 868100074

article 868100075

article 868100076

article 868100077

article 868100078

article 868100079

article 868100080

article 868100081

article 868100082

article 868100083

article 868100084

article 868100085

article 868100086

article 868100087

article 868100088

article 868100089

article 868100090

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

article 328000646

article 328000647

article 328000648

article 328000649

article 328000650

article 328000651

article 328000652

article 328000653

article 328000654

article 328000655

article 328000656

article 328000657

article 328000658

article 328000659

article 328000660

content-1701