
Rupiah sempat menyentuh Rp18.190 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Juni (08/06) lalu, selanjutnya, Bank Indonesia (BI) menggelar rapat di luar jadwal dan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Juni (09/06). Langkah itu muncul setelah rupiah melemah sekitar 8% sepanjang tahun berjalan, cadangan devisa terkuras sekitar US$12 miliar, dan tekanan pasar terus berlanjut meski BI sudah menaikkan suku bunga 50 basis poin pada Mei (19/05-20/05). Setelah keputusan darurat itu, rupiah sempat menguat ke sekitar Rp18.000 dan kemudian bergerak ke 17.930 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Juni (12/06). Di tengah berbagai langkah yang telah ditempuh, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana kebijakan yang dijalankan pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mempertahankan kepercayaan pasar?
1.1 Rupiah Melemah, Peringatan yang Tak Bisa Diabaikan
Dilansir dari Reuters, tekanan terhadap rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.190 per dolar AS pada Juni (08/06) lalu. Angka tersebut menjadi rekor terendah yang pernah tercatat dan mendorong BI mengambil langkah yang jarang dilakukan, yaitu menggelar rapat di luar jadwal untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Juni (09/06). Setelah keputusan tersebut diumumkan, rupiah sempat menguat kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa nilai tukar bukan sekadar angka dalam pasar keuangan, melainkan salah satu indikator yang sering digunakan untuk melihat tingkat kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan suatu negara.
Kondisi rupiah yang semakin melemah mendorong lahirnya kebijakan darurat dari bank sentral. Saat ini, perhatian utama tidak lagi tertuju pada penyebab pelemahan kurs, melainkan pada kemampuan pemerintah dan BI menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan yang terus meningkat.
1.2 Mengapa Ini Menjadi Ujian Kebijakan Pemerintah?
Pergerakan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor global seperti penguatan dolar AS atau kebijakan suku bunga bank sentral AS. Dilansir dari Reuters, pasar juga menilai tingkat kepercayaan terhadap kebijakan fiskal, kebijakan moneter, serta kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi. Dalam konteks pelemahan rupiah sepanjang 2026, BI telah menaikkan suku bunga dua kali dalam waktu kurang dari satu bulan. Dalam penjelasan resmi BI yang dikutip Reuters, pada Mei 2026, BI Rate dinaikkan dari 4,75% menjadi 5,25%. Tiga minggu kemudian, BI kembali menaikkan suku bunga menjadi 5,50% melalui rapat darurat. Di saat yang sama, pemerintah dan BI juga menyepakati langkah untuk meningkatkan daya tarik aset rupiah melalui imbal hasil yang lebih tinggi guna menarik kembali modal asing.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa yang sedang diuji bukan hanya nilai tukar rupiah, melainkan efektivitas koordinasi kebijakan negara. Pasar, investor, pelaku usaha, dan lembaga pemeringkat internasional tidak hanya melihat hasil akhir berupa kurs rupiah, tetapi juga menilai seberapa meyakinkan respons pemerintah ketika tekanan muncul. Karena itu, pelemahan rupiah menjadi pintu masuk untuk melihat apakah kebijakan pemerintah dan BI mampu mempertahankan kepercayaan pasar.
2.1 Pemerintah Menyebut Faktor Global sebagai Penyebab Utama
Pemerintah dan BI secara konsisten menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari berbagai faktor eksternal yang terjadi secara bersamaan. Dalam penjelasan resmi BI yang dikutip Reuters, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS sebagai aset aman global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi dunia, dan arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman. BI juga mencatat bahwa sebelum kebijakan darurat diumumkan pada Juni 2026, rupiah telah melemah sekitar 8% sepanjang tahun berjalan. Dari sudut pandang pemerintah, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga banyak negara berkembang yang menghadapi perubahan arah arus modal global.
Faktor global memang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, pertanyaannya, apakah seluruh persoalan dapat dijelaskan hanya melalui faktor eksternal?
2.2 Berbagai Langkah yang Telah Ditempuh Pemerintah
Pemerintah dan BI tidak tinggal diam menghadapi tekanan terhadap rupiah. Dilansir dari pernyataan resmi BI, pada Mei 2026, BI terlebih dahulu menaikkan BI Rate dari 4,75% menjadi 5,25%. Ketika tekanan belum mereda dan rupiah terus melemah hingga menyentuh Rp18.190 per dolar AS, BI kembali mengambil langkah di luar jadwal dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Juni (09/06). Kenaikan ini bertujuan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sekaligus menahan arus modal keluar.
Selain menaikkan suku bunga, BI juga melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing dan pasar obligasi. Reuters melaporkan bahwa intervensi tersebut telah berlangsung sejak April 2026 ketika rupiah mulai mencetak rekor terendah baru. Dalam proses stabilisasi tersebut, cadangan devisa digunakan secara intensif. Hingga pertengahan Mei 2026, cadangan devisa tercatat berkurang sekitar US$10 miliar. Beberapa pekan kemudian Reuters melaporkan penurunan kumulatif mencapai sekitar US$12 miliar sepanjang 2026.
Koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan juga diperkuat. Pada Juni (06/06) lalu, kedua institusi menyepakati strategi untuk meningkatkan daya tarik aset rupiah melalui kenaikan imbal hasil. Lelang Sekuritas Rupiah BI tenor satu tahun menawarkan imbal hasil sekitar 7,25%. Sedangkan, obligasi pemerintah tenor 10 tahun diperdagangkan dengan yield sekitar 6,90%. Langkah tersebut bertujuan menarik kembali dana asing yang keluar dari pasar domestik.
Upaya menjaga kepercayaan investor juga dilakukan melalui komunikasi langsung kepada pelaku pasar global. Dilansir dari Reuters, setelah keputusan kenaikan suku bunga darurat diumumkan, Gubernur BI menggelar dua sesi briefing khusus dengan investor dari AS, Eropa, dan Asia. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah dan BI menyadari stabilitas rupiah tidak hanya ditentukan oleh instrumen ekonomi, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan yang ditempuh.
| Kebijakan | Tujuan | Hasil yang Diharapkan |
| Kenaikan BI Rate menjadi 5,50% | Menahan pelemahan rupiah | Modal asing kembali masuk |
| Intervensi pasar valas dan obligasi | Menjaga stabilitas kurs | Volatilitas berkurang |
| Koordinasi fiskal dan moneter | Menjaga kepercayaan pasar | Pasar lebih tenang |
| Peningkatan imbal hasil aset rupiah | Menarik dana investor global | Arus modal keluar berkurang |
| Briefing investor internasional | Memperkuat komunikasi kebijakan | Kepercayaan investor meningkat |
Tabel 1.Kebijakan dan Tujuan Pemerintah
2.3 Mengapa Rupiah Tetap Tertekan?
Berbagai kebijakan telah diterapkan, tetapi tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Setelah kenaikan suku bunga, intervensi pasar, dan penggunaan cadangan devisa dalam jumlah besar, rupiah tetap sempat menyentuh Rp18.190 per dolar AS. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan stabilisasi jangka pendek melalui instrumen moneter.
Reuters mencatat bahwa kekhawatiran investor mulai bergeser dari faktor global menuju faktor domestik. Sejumlah pelaku pasar mempertanyakan arah kebijakan fiskal pemerintah, kebijakan ekspor baru yang dinilai menambah ketidakpastian, serta independensi BI. Pada saat yang sama, kepemilikan asing pada obligasi pemerintah berada pada level terendah dalam hampir dua dekade. Reuters juga melaporkan bahwa Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan evaluasi terhadap status pasar modal Indonesia. Sementara itu, Moody’s dan Fitch menurunkan outlook Indonesia. Ketiga perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perhatian investor tidak lagi hanya tertuju pada pergerakan dolar AS.
Pandangan serupa juga muncul dari sejumlah pihak di dalam negeri. Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah mengingatkan bahwa pemerintah tidak dapat terus-menerus menjadikan kebijakan The Federal Reserve System (The Fed) dan konflik internasional sebagai penjelasan utama pelemahan rupiah. Pernyataan tersebut muncul ketika tekanan terhadap rupiah berada dalam fase paling berat sepanjang 2026.
Dari titik ini muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Jika langkah yang ditempuh sudah cukup efektif, mengapa tekanan yang sama terus berulang?
2.4 Respons yang Datang Setelah Krisis Muncul
Jika dilihat dari kronologinya, sebagian besar kebijakan penting muncul setelah tekanan terhadap rupiah membesar. Intervensi pasar mulai dilakukan pada April 2026 ketika rupiah mencetak rekor terendah baru. Kenaikan BI rate juga terjadi setelah tekanan rupiah membesar. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah belum berhenti. Cadangan devisa terus digunakan hingga berkurang sekitar US$10 miliar pada pertengahan Mei 2026 dan mencapai sekitar US$12 miliar sepanjang tahun berjalan. Ketika rupiah akhirnya menyentuh Rp18.190 per dolar AS pada awal Juni, BI kembali menggelar rapat darurat dan menaikkan suku bunga menjadi 5,50%.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kebijakan memang hadir, tetapi sebagian besar muncul setelah tekanan mencapai tingkat yang lebih serius. Pola ini memunculkan kesan bahwa langkah stabilisasi lebih banyak bersifat reaktif dibanding antisipatif. Pasar melihat pemerintah bergerak ketika tekanan sudah membesar, bukan ketika sinyal pelemahan mulai terlihat beberapa bulan sebelumnya.
| Waktu | Peristiwa |
| April 2026 | BI mulai melakukan intervensi pasar setelah rupiah mencetak rekor terendah baru |
| Mei 2026 | BI Rate naik dari 4,75 % menjadi 5,25 % |
| Mei 2026 | Cadangan devisa berkurang sekitar US$10 miliar |
| 8 Juni 2026 | Rupiah menyentuh Rp18.190 per dolar AS |
| 9 Juni 2026 | BI menggelar rapat darurat dan menaikkan BI Rate menjadi 5,50 % |
| 10 Juni 2026 | BI melakukan briefing kepada investor global |
Tabel 2.Timeline Respons Pemerintah dan Bank Indonesia
2.5 Ketika Narasi Optimisme Tidak Sejalan dengan Kondisi Lapangan
Pemerintah dan BI berulang kali menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan stabilitas keuangan tetap terjaga. Dalam penjelasan resmi BI yang dikutip Reuters, pernyataan tersebut kemudian diperkuat melalui komunikasi langsung kepada investor internasional setelah kebijakan darurat diumumkan. Dua sesi briefing khusus digelar untuk menjelaskan alasan kenaikan suku bunga dan langkah stabilisasi yang sedang dilakukan.
Narasi optimisme tersebut muncul pada saat rupiah baru saja menyentuh Rp18.190 per dolar AS, cadangan devisa telah berkurang sekitar US$12 miliar, dan investor asing terus mengurangi eksposur pada aset domestik. Pada saat yang sama, Reuters melaporkan adanya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan independensi institusi ekonomi. Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara pesan yang disampaikan pemerintah dan persepsi yang berkembang di pasar.
| Pernyataan Pemerintah | Fakta Lapangan |
| “Fundamental ekonomi kuat” | Rupiah menyentuh Rp18.190 per dolar AS |
| “Stabilitas tetap terjaga” | BI melakukan rapat darurat di luar jadwal |
| “Kepercayaan pasar tetap baik” | Kepemilikan asing pada obligasi berada di level terendah hampir 20 tahun |
| “Kebijakan stabilisasi berjalan efektif” | Cadangan devisa berkurang sekitar US$12 miliar |
Tabel Perbandingan Narasi dan Kondisi Lapangan
Perbedaan antara narasi resmi dan respons pasar tidak otomatis menunjukkan bahwa kebijakan yang ditempuh salah. Akan tetapi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa komunikasi pemerintah belum sepenuhnya mampu menghilangkan keraguan investor terhadap arah kebijakan ekonomi yang sedang dijalankan.
3.2 Membangun Kepercayaan di Tengah Ketidakpastian
Perkembangan sepanjang beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa persoalan rupiah tidak hanya lahir dari gejolak global. Reuters melaporkan bahwa selain penguatan dolar AS dan arus modal keluar, investor juga menaruh perhatian terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah, kebijakan ekspor strategis, serta independensi BI. Kekhawatiran tersebut muncul bersamaan dengan sejumlah indikator yang menunjukkan menurunnya kepercayaan pasar. Kepemilikan asing pada obligasi pemerintah tercatat berada pada tingkat terendah dalam hampir dua dekade. MSCI melakukan evaluasi terhadap status pasar modal Indonesia, sementara Moody’s dan Fitch menurunkan outlook Indonesia.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa menjaga nilai tukar rupiah tidak cukup dilakukan melalui kenaikan suku bunga, intervensi pasar, atau penggunaan cadangan devisa. Ketika perhatian investor mulai bergeser dari faktor eksternal menuju kualitas kebijakan domestik, maka yang menjadi penentu bukan hanya kekuatan instrumen ekonomi, melainkan konsistensi arah kebijakan dan kredibilitas pemerintah dalam menjalankan agenda ekonomi. Dalam konteks inilah kepercayaan menjadi faktor yang jauh lebih sulit dibangun dibandingkan stabilitas jangka pendek di pasar keuangan.
3.3 Ujian Kebijakan di Balik Pelemahan Rupiah sebagai Evaluasi Stabilitas Ekonomi Nasional
Pelemahan rupiah sepanjang 2026 memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi tidak pernah datang dari satu arah. Pemerintah menghadapi kombinasi penguatan dolar AS, ketidakpastian global, arus modal keluar, serta meningkatnya perhatian investor terhadap kebijakan domestik. Dalam situasi tersebut, pemerintah dan BI memang telah menunjukkan respons melalui berbagai kebijakan dan usaha yang dilakukan. Akan tetapi, rangkaian kebijakan tersebut hadir dalam kondisi rupiah yang tetap sempat menyentuh Rp18.190 per dolar AS dan ketika kepemilikan asing pada obligasi pemerintah berada di titik terendah dalam hampir dua dekade.
Pelemahan rupiah bukan sekadar ujian pasar, melainkan ujian apakah pemerintah mampu menjaga kepercayaan ketika tekanan datang bersamaan dari luar dan dari dalam. Pelemahan rupiah mungkin dipicu oleh tekanan global, tetapi kemampuan suatu negara tidak diukur dari ada atau tidaknya tekanan. Kemampuan negara justru terlihat dari seberapa cepat, tepat, dan meyakinkan pemerintah merespons tekanan tersebut. Dalam konteks inilah, pelemahan rupiah menjadi ujian yang belum sepenuhnya berhasil dijawab oleh pemerintah.
REFERENSI
Bank Indonesia. (2026, May 20). BI-Rate increased by 50 bps to 5.25%: Strengthening stability, supporting economic growth. Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/en/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2810726.aspx?utm_source
Reuters. (2026, April 7). Indonesia’s central bank says intervenes in FX market after rupiah hits a record low. Reuters.
Reuters. (2026, May 18). Indonesia rupiah hits new record low, president downplays day-to-day impact. Reuters.
Reuters. (2026, June 6). Indonesia central bank, finance minister agree to boost asset yields to aid rupiah. Reuters.
Reuters. (2026, June 8). Prabowo’s populist policies propel doom loop in Indonesian markets. Reuters.
Reuters. (2026, June 9). Indonesia hikes rates in surprise off-cyle move to prop up sinking rupiah. Reuters.
Reuters. (2026, June 10) . Indonesian central bank says governor briefs foreign investors following surprise rate hike. Reuters.
Suara.com. (2026, June 10). DPR: Jangan terus salahkan The Fed dan perang Teluk saat rupiah tertekan. Suara.com. https://www.suara.com/news/2026/06/10/081615/dpr-jangan-terus-salahkan-the-fed-dan-perang-teluk-saat-rupiah-tertekan
Penulis : Nazwa Nur Amalina
Editor : Fernaldhy Rossi Armanda, Lareina Noviandhita Pribadi, Chelsia Putri Arvianda, Adhyaksa Pri Kuncoro Jakti
