
Warta Kema – Universitas Padjadjaran (Unpad) mulai menerapkan kebijakan kuliah online setiap hari Jumat sebagai bentuk penyesuaian terhadap kebijakan Work From Home (WFH) yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada aktivitas perkuliahan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya efisiensi energi nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Langkah tersebut sejalan dengan arahan pemerintah yang menekankan pentingnya penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM). Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat menegaskan perlunya langkah efektif dalam menekan konsumsi energi. Ia juga menyebut bahwa pola kerja seperti WFH terbukti efektif pada masa pandemi.
“Dalam arti kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM. Dulu kita atasi Covid kita mampu. Banyak Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja dari rumah, berarti kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar,” ujarnya.
Direktur Kemahasiswaan Unpad, Inu Isnaeni Sidiq, menjelaskan bahwa kebijakan kuliah online merupakan bentuk respon dari arahan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Ia menegaskan, sebagai perguruan tinggi negeri, Unpad perlu mengikuti kebijakan nasional, termasuk dalam hal efisiensi energi. Inu juga mengaitkan kebijakan ini dengan kondisi global khususnya akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
“Jadi, sebetulnya memang ini merespons edaran Press Release Pemerintah dan ada setelah edaran menteri pendikti nomor 2 tahun 2026, tentang penyesuaian pola kerja dan penyelesaian kegiatan akademik. Pemerintah, kan, sebetulnya sudah mencanangkan seperti ini. Ada strategi efisiensi nasional 2026 dan tentu saja ini dilatarbelakangi terjadinya konflik di Selat Hormuz yang menyebabkan pasokan bahan bakar berbahan minyak jadi terhambat,” jelasnya.
Dalam penerapannya, perkuliahan yang dijadwalkan pada hari Jumat dialihkan menjadi online. Namun, terdapat fleksibilitas bagi fakultas untuk menyesuaikan pelaksanaan perkuliahan. Misalnya, jadwal dapat dipindahkan di hari lain dan kegiatan pembelajaran yang membutuhkan laboratorium tetap dilaksanakan secara tatap muka.
“Pembelajaran di hari Jumat, itu diubah menjadi kelas daring atau bisa juga dilakukan perubahan jadwal. Dari jadwal asal hari Jumat, fakultasnya memindahkan ke hari yang berbeda sehingga perkuliahan dilaksanakan secara luring. Kemudian apabila pada hari Jumat itu juga kebetulan ada jadwal praktikum dan lain sebagainya yang mengharuskan kita hadir secara luring dan memang tidak bisa dipindahkan ke jadwal yang berbeda, akibatnya jadwal praktikum tetap dilaksanakan,” tuturnya.
Selain berdampak pada sistem pembelajaran, penerapan kebijakan WFH di lingkungan Unpad juga berpengaruh pada pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan. Inu menilai bahwa kegiatan kemahasiswaan tidak mungkin dilaksanakan pada jadwal perkuliahan yang sudah padat. Oleh karena itu, kampus mengeluarkan edaran berupa sejumlah ketentuan untuk melaksanakan kegiatan pada hari Jumat.
“Sehingga pada hari Jumat pun kita mengeluarkan edaran, kegiatan kemahasiswaan boleh tetap dilakukan, tetapi ada beberapa catatan. Pertama, sudah diketahui dan diberi izin dari pimpinan kegiatan baik tingkat fakultas, maupun program studi (prodi). Kedua, kegiatannya harus dilaksanakan sesuai jam kerja,” ujarnya.
Inu menambahkan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut harus selaras dengan upaya efisiensi energi. Penggunaan listrik dan perangkat elektronik juga harus diperhatikan sebagai bentuk kesadaran dalam penghematan energi secara menyeluruh.
“Kemudian, kita tetap memperhatikan efisiensi energi. Ketika misalnya sinar tidak digunakan di beberapa titik, lampunya dimatikan. Ketika misalnya ada alat elektronik yang idle, ya, mendingan dimatikan saja,” tegasnya.
Dari sisi teknis, Unpad dinilai telah cukup siap dalam menjalankan kebijakan ini. Inu menyebutkan, pengalaman selama pandemi Covid-19 menjadi pijakan utama dalam memastikan proses pembelajaran tetap berjalan efektif. Kampus juga telah menyediakan berbagai platform pendukung yang menunjang pembelajaran online ini.
“Nah, sebetulnya kuliah online ini kan bukan yang pertama kali dilakukan, ya. Pada masa Covid-19 itu sudah dipaksa pembelajaran daring, gitu. Kita juga sudah memiliki platform-platform yang memang cukup mumpuni untuk pelaksanaan perkuliahan secara daring,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Program Studi Jurnalistik Unpad, Gumgum Gumilar, menilai kebijakan ini tidak membawa perubahan signifikan. Sistem pembelajaran kombinasi antara online dan offline telah lama diterapkan dalam perkuliahan sehingga mahasiswa dan dosen sudah terbiasa dengan pola tersebut.
“Sebenarnya kan kuliah online, tuh, bukan hal baru, ya. Selama ini pun kita kuliahnya dalam satu semester tuh jangankan Jumat, gitu, ya. Di hari yang lain pun kuliah, tuh, boleh berbagi antara offline dan online sehingga sebenarnya bukan hal baru dan juga bukan sesuatu yang drastis berubah,” ujarnya.
Gumgum menilai, kuliah online masih memiliki keterbatasan, terutama dalam hal interaksi dan pemantauan mahasiswa selama kelas berlangsung. Meski beberapa materi tetap dapat disampaikan secara online, pembelajaran tatap muka dianggap lebih optimal untuk memastikan keterlibatan mahasiswa.
“Kalau saya pribadi lebih suka tatap muka. Karena interaksinya jelas. Saya, kan, pengennya kalau kuliah, tuh, pokoknya tatap muka, tapi, ya, itu, interaksinya. Kadang saya nggak tahu ini anak itu merhatiin apa nggak, sih, gitu. Mereka, tuh, bener-bener ada di sana atau nggak, gitu. Tanya-jawabnya juga terbatas. Kalau dikatakan efektif, ya kalau memang itu kebutuhannya untuk interaksi dan sebagainya, tatap muka. Tapi kalau beberapa materi mungkin bisa disampaikan secara online,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, tantangan seperti kesenjangan akses teknologi di kalangan mahasiswa juga dapat terjadi akibat pelaksanaan kuliah secara online. Hingga saat ini, pihak prodi belum memiliki data pasti terkait mahasiswa yang mengalami kendala. Namun, kampus menyediakan fasilitas seperti laboratorium komputer dan akses internet sebagai alternatif.
“Saya belum pernah mendata sebenernya, mahasiswa-mahasiswa mana yang terkendala perkuliahan daring. Tapi sebenarnya kan harusnya itu bisa ditanggungin. Kita kan punya lab, mudah-mudahan sih fasilitas kampus bisa bisa mengatasi itu terutama akses internet. Tapi saya, sih, berharap teman-teman yang terkendala itu juga punya solusi bagaimana bisa melakukan perkuliahan,” tambahnya.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Farhan, menilai bahwa efektivitas penerapan kuliah online menurun apabila dilakukan secara terus-menerus setiap minggu. Menurutnya, banyak distraksi dan kendala teknis yang dapat memengaruhi pemahaman materi.
“Kalau menurut aku, kalau kayak buat seminggu sekali, sih, mungkin boleh-boleh aja, ya. Cuman, kalau keseringan, tuh, kayak ngga efektif buat mahasiswa mencerna materi dari dosen. Karena jujur, aku sendiri kalau misalnya ada perkuliahan online jarang banget buat perhatiin dosen. Karena banyak ke-distract, kayak sinyal mati terus juga device aku agak-agak lemot,” ujarnya.
Meski demikian, Farhan menjelaskan bahwa kuliah online juga memberikan sejumlah keuntungan, terutama bagi mahasiswa yang menempuh perjalanan jauh ke kampus. Penghematan biaya transportasi dan waktu menjadi manfaat utama yang dirasakannya. Selain itu, kondisi ini turut meringankan aktivitas fisik mahasiswa karena tidak mengharuskan beraktivitas di luar.
“Aku jawab sebagai mahasiswa PP (pulang-pergi), ya, menguntungkannya mungkin bisa lebih hemat ongkos. Terus juga, mungkin kita lebih menghemat waktu karena gak usah spend time buat berangkat ke kampus. Terus juga fisiknya, tuh, lebih gak terlalu capek, gitu, lah,” jelasnya.
Menurut Inu, kebijakan ini akan bersifat sementara dan menyesuaikan pada kondisi global. Apabila situasi kembali normal, sistem pembelajaran juga diperkirakan akan kembali seperti semula.
“Ini kalau saya melihat dari perspektif saya, ya, yang menyebabkan munculnya kebijakan ini sebetulnya karena konflik di Timur Tengah, ya, tapi kalau misalnya nanti situasinya sudah kembali damai, pasokan energi sudah normal, pasti akan kembali ke normal lagi kalau menurut saya,sih,” tuturnya.
Selain itu, pihak kampus berharap seluruh sivitas akademika dapat memahami urgensi kebijakan ini sebagai bagian dari program nasional. Dosen dan mahasiswa diharapkan dapat beradaptasi serta tetap menjaga kualitas pembelajaran dengan baik.
“Ya, kami berharap, sih, baik mahasiswa maupun dosen bisa memahami urgensi dari implementasi kebijakan ini. Semua kita sama-sama bisa mendukung program efisiensi energi. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama sehingga harapannya kita bisa beradaptasi dengan kebijakan ini, tapi dengan tetap menjaga kualitas pembelajaran dengan baik,” tambahnya.
Penulis: Ariesta Maulidyah Mutiara Tsani
Editor: Rofi Roudhatin Dwi Andini, Anindya Ratri Primaningtyas, dan Fernaldhy Rossi Armanda
