Pemaparan grand design #DekatDenganKita di Auditorium Moestopo (Warta Kema/Niky Putri Rahmadhani)

Warta Kema – Pemilihan Raya Mahasiswa (Prama) Universitas Padjadjaran (Unpad) 2026 telah memasuki tahap uji publik terbuka. Uji publik terbuka pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad 2026 dilaksanakan di Auditorium Moestopo, Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad pada Senin (12/05).

Harits Raihan Rafi Nugraha selaku Calon Ketua BEM Kema Unpad 2026 berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2022. Kemudian Bhiva Diaz Birawan sebagai Calon Wakil Ketua BEM Kema Unpad 2026 berasal dari Fakultas Peternakan angkatan 2022. Pada uji publik terbuka, pasangan calon (paslon) “Harits-Bhiva” memaparkan grand design #DekatDenganKita yang memuat alur gerak kepemimpinan mereka.

Visi dan Misi Harits-Bhiva

Mereka mengusung visi sebagai teman yang mengakselerasi cita Padjadjaran. Berikut ini penjelasan singkat visi mereka:

1. Teman

Komitmen relasional yang menempatkan BEM Kema Unpad untuk hadir berdampingan sebagai sosok yang mendengar sebelum berbicara dan memahami sebelum bertindak.

2. Akselerasi

Daya kebersamaan untuk memastikan setiap gagasan, keresahan, dan potensi mahasiswa menemukan ruang untuk tumbuh dan berdaya.

3. Cita Padjadjaran

Harapan kolektif untuk menghadirkan Kema Unpad sebagai insan berwawasan luas yang menebar kebermanfaatan melalui gagasan, perjuangan, dan karya.

Adapun misi Harits-Bhiva sebagai berikut:

1. Teman gagas

BEM Kema Unpad 2026 menjadi lembaga yang mendukung pertukaran gagasan yang kritis, peka terhadap kebutuhan, dan berpihak pada pertumbuhan mahasiswa di lingkungan kampus.

2. Teman juang

BEM Kema Unpad 2026 menjadi rekan progresif dalam memperjuangkan keresahan dan membawa keberdampakan.

3. Teman karya

BEM Kema Unpad 2026 menjadi inisiator dan kolaborator aktualisasi Kema Unpad untuk mengaktualisasikan diri dalam lingkup seni, budaya, entrepreneur, dan ruang bentuk regenerasi yang berkelanjutan.

Program Kerja Unggulan Grand Design #DekatDenganKita

1. Satu Hari Bersama Bapak

Forum dialektika terbuka antara mahasiswa dan pimpinan rektorat sebagai mitra sejajar untuk menguji kebijakan institusi.

2. Nongkrong Gagas

Program pertukaran pikiran, penyampaian keresahan, dan pembicaraan berbagai isu di lingkungan fakultas masing-masing.

3. Sekolah Advokasi Padjadjaran

Program untuk Kema Unpad yang ingin belajar cara memperjuangkan hak, kebutuhan, dan kesejahteraan mahasiswa secara mandiri maupun kolektif berupa workshop advokasi dan safari.

4. BIG FORCE! Festival

Program hiburan tahunan, sekaligus simpul interaksi yang menjaring berbagai potensi Kema Unpad.

5. Putra Putri Padjadjaran

Program pemilihan duta kampus yang dirancang untuk mencari dan merekognisi mahasiswa terbaik di Unpad.

6. Market Town

Program yang memfasilitasi semangat kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

Regenerasi dan Kaderisasi Dipertanyakan

Mohamad Haikal Febrian Syah, Ketua BEM Kema Unpad 2023 sebagai panelis 1, menyorot ketiadaan tema regenerasi dan kaderisasi dalam grand design Harits-Bhiva. Ia mempertanyakan daya tarik paslon itu. Menanggapi hal tersebut, Harits berencana mengadakan program workshop bersertifikasi untuk Kema.

“Pada hari ini, kami memberikan penawaran atau daya tarik workshop bersertifikasi untuk dapat menunjang temen-temen nantinya melanjutkan untuk dua tahun ke depannya,” kata Harits.

Haikal mengatakan bahwa Ketua dan Wakil Ketua BEM Kema Unpad sebelumnya pun telah berkomitmen akan demisioner pada bulan Desember atau regenerasi kepemimpinan. Namun, komitmen itu tidak terealisasikan. Haikal memberikan kesempatan pada paslon untuk menjabarkan cara mereka demisioner tepat waktu dengan semua program kerja yang terlaksana. Harits menyatakan fokus mereka ada pada rancangan besar dan penuntasan tugas.

“Fokus rancangan besar kami adalah menuntaskan tugas yang ada. Yang harus dijaga adalah penggabungan komunikasi atau maksud saya adalah BEM Fakultas agar punya fokus yang sama untuk mengenai Desember demis ini agar harapan kami, bulan Desember itu bukan selesai, tapi tuntas dengan segala kewajibannya, dengan proses regenerasinya,” ucap Harits.

Haikal kembali memberikan kesempatan pada paslon untuk menjelaskan isu terkait dengan kaderisasi. Kemudian paslon itu menyatakan hendak mengembalikan semangat lama kaderisasi Penerimaan Raya Mahasiswa Baru (Prabu) Unpad yang sempat hilang. Mereka bermaksud membuat jadwal dan kegiatan yang bisa menjadi wadah mahasiswa baru lebih berani berekspresi. Harits-Bhiva akan memikirkan cara agar keunikan tiap fakultas dapat terlihat.

“Kita fokuskan pada tahun ini untuk bisa kembali ke iklim yang sudah lama berbeda. Ngomongin soal timeline, bagaimana ruang-ruang tersebut bisa mengoptimalkan ruang aktualisasi, keberanian dari teman-teman. Yang paling bermasalah soal kaderisasi tahun ini adalah gerbangnya. Gerbang tersebut adalah gerbang imaji utama mahasiswa baru melihat seluruh Unpad dan isinya. Kami akan coba menjelaskan hal tersebut agar yang dibangun oleh teman-teman dapat menunjukkan elemen dan karakteristik tiap fakultasnya,” jelas Harits.

Apatis dan Individualis? Haikal: Kema Harusnya Marah

Harits menyebut nilai-nilai yang beredar di Kema memudar oleh individualisme dan apatisme ketika memaparkan salindia grand design #DekatDenganKita. Oleh sebab itu, mereka mendesak Kema untuk kembali ke cita Padjadjaran, yaitu kebersamaan.

“Di tengah memudarnya semangat kebersamaan yang dahulu menjadi denyut utama Padjadjaran, muncul kebutuhan mendesak untuk kembali merawat nilai-nilai yang menyatukan kita sebagai komunitas, yaitu cita Padjadjaran. Adapun beberapa poin yang kami highlight dari kondisi ideal yang ada, pertama, nilai kebersamaan kian memudar, tergeser oleh individualisme dan apatisme,” ucap Bhiva.

Haikal mempersoalkan pernyataan tersebut. Ia mengaku terkejut dan meminta pertanggungjawaban atas tuturan Bhiva.

“Saya rasa Kema Unpad hari ini harus marah sama paslon ini. Secara jelas mereka menyebutkan Kema individualisme dan apatis. Bagaimana cara teman-teman mempertanggungjawabkan skenario tersebut?” tanya Haikal.

Menurut Bhiva, pernyataannya bukan bermaksud menyalahkan Kema, melainkan upaya meningkatkan kesadaran bersama. Ia juga menilai bahwa setiap Kema memiliki kewenangan untuk tidak bersikap individualis dan apatis.

“Sebenarnya rasa individualis dan apatis itu tidak salah karena itu merupakan output dan kami berbicara di sini bukan berarti menyalahkan Kema, tapi kami ingin raising awareness. Teman-teman Kema bisa lebih berkompromis kembali, lebih bersedia bersama-sama, mengaktualisasi dirinya. Setiap Kema itu memiliki hak, gagasan untuk tidak menjadi individualis dan apatis,” ungkap Bhiva.

Framework BEM Kema Unpad Versi Harits-Bhiva

Salah satu Kema Unpad menanyakan perihal framework atau kerangka kerja kepengurusan BEM Kema Unpad 2026 agar tata kelola dan akuntabilitas organisasi dapat dipertanggungjawabkan oleh seluruh anggota.

Menurut Harits, implementasi framework lebih penting daripada sistem itu sendiri. Ia menilai penerapannya harus terintegrasi dengan baik, mulai dari alur kerja, evaluasi kinerja, hingga profesionalisme anggota.

“Yang lebih penting dalam framework itu adalah pelaksanaannya. Bagaimana framework diadopsi dalam industri dapat juga diintegrasi dalam bentuk organisasi. SPI (Surat Penjamin Internal) pada tahun ini harus lebih optimal, lebih targeted, nggak harus ngomongin soal ABCDE, tapi harus ngomongin soal tata kelola, etik yang harus dijaga. Penyederhanaan itu perlu agar terimplementasi,” jelas Harits.

Program Gagasan Dinilai Belum Menawarkan Pembaruan

Rhido Anwari Aripin, panelis 2, menyoroti program unggulan paslon berupa ruang gagasan yang diartikan sebagai ruang publik. Menurut Rhido, ruang publik pada dasarnya memang dibuka seluas-luasnya bagi mahasiswa tanpa batasan. Ia mempertanyakan letak kebaruan yang ditawarkan Harits-Bhiva melalui program tersebut, mengingat ruang publik dinilai serupa dengan periode sebelumnya.

“Terkait nongkrong gagasan, kalau tidak salah ingat, dari tahun Vincent (2025/2026), tahun saya (2024/2025), dan tahun Haikal (2023) juga, ruang partisipasi itu juga dibuka seluas-luasnya. Tidak ada yang dibatasi untuk Kema Unpad. Nah, lantas apa yang membedakan?” tanya Rhido.

Menanggapi hal tersebut, Harits menjelaskan bahwa program ruang gagasan lebih baik dirancang dengan pendekatan yang lebih inklusif dan ringan. Menurutnya, hal ini bertujuan agar diskusi dapat dijangkau oleh mahasiswa yang memiliki beban pikiran berbeda-beda.

“Yang kami tawarkan tahun ini, (program ruang gagasan) jauh lebih fun. Agar bisa menjangkau berbagai orang yang mungkin punya beban pikiran atau akademik yang berbeda,” ujar Harits.

Harits menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif diperlukan untuk memahami kondisi serta keresahan masing-masing fakultas. Ia menilai keterlibatan aktif BEM setiap fakultas dapat membantu proses eskalasi isu ke stakeholder yang lebih luas.

“Tujuannya agar kita bisa tahu kondisi BEM Kema dan Fakultas. Apa yang menjadi keresahan dan kita bisa eskalasi lebih lanjut. Ngomongin soal eskalasi apa pun, itu akan sangat berat kalau adanya kesadaran kolektif yang fakultasnya itu juga tidak terbangun,” tambah Harits.

Perbedaan Ideologi dan Ruang Aman Mahasiswa

Fallujah Putria Faisal, panelis 3, menyoroti gagasan safe space atau ruang aman yang diusung oleh Harits-Bhiva. Ia mempertanyakan cara paslon akan mengelola keberagaman pandangan ideologis di lingkungan Unpad, mengingat perbedaan perspektif antarorganisasi maupun kelompok mahasiswa merupakan hal yang tidak terhindarkan.

“Bagaimana kalau ada diskusi menyangkut suatu isu yang sensitif dan lain sebagainya? Bagaimana suatu saat bisa terjadi perbedaan pandangan, bagaimana kemudian teman-teman mengkombinasikan perbedaan ideologi tersebut, sampai pada akhirnya gagasan demokrasi deliberatif itu tercipta dan menjadi ruang aman bagi siapa pun yang membicarakan ideologinya di ruang publik tersebut,” ucap Fallujah.

Menanggapi hal tersebut, Harits menilai perbedaan pandangan tidak perlu dipaksakan untuk disatukan. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah memastikan setiap gagasan tetap memiliki ruang untuk disampaikan tanpa tekanan sosial maupun intimidasi.

“Kalo ngomongin soal menyatukan, harusnya itu tak perlu disatukan. Itu harus tetap dikeluarkan agar bisa ada perbedaan jelas di antara semua, apa yang jadi keragaman masing-masing. Karena bagi kami, mungkin teman-teman mulai gagap menghadapi perbedaan, karena setiap ada yang berbeda itu langsung punya tekanan tersendiri,” ujar Harits.

Kemudian, Fallujah mengarahkan diskusi pada isu kelompok marginal dan keberagaman gender di lingkungan kampus. Ia menilai ruang aman perlu memastikan seluruh mahasiswa dapat mengekspresikan dirinya secara nyaman dalam diskursus publik.

“Bagaimana kang Harits dan kang Bhiva memandang kehadiran perbedaan gender dan juga kelompok marginal yang ada di Unpad itu sendiri agar mereka bisa punya ruang aman untuk mengekspresikan dirinya,” tanya Fallujah.

Menanggapi hal tersebut, Harits menegaskan bahwa diskriminasi dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan. Ia juga menilai organisasi mahasiswa perlu menghadirkan ruang aman bagi seluruh mahasiswa.

“Apa pun alasannya, diskriminasi itu hal yang gak bisa dibenarkan. Oleh karenanya, yang harus dipastikan adalah bisa memberikan ruang ruang aman tersebut,” tegas Harits.

Representasi Gender dan Budaya Organisasi Inklusif

Selanjutnya, Fallujah juga menyoroti isu representasi perempuan dalam kepemimpinan organisasi mahasiswa. Ia mempertanyakan komitmen paslon terhadap pembahasan gender dan ketimpangan yang dinilai belum terlihat jelas dalam grand design mereka.

“Kalau memang teman-teman mau menjadi inklusif, tentu harus membicarakan adanya ketimpangan gender di dalam masyarakat. Tapi, enggak ada satu kata mengenai perempuan dan gender pun hanya dijelaskan dalam perbedaan latar belakang sosial aja (di grand design),” tegas Fallujah.

Merespon pernyataan tersebut, Bhiva menjelaskan bahwa dirinya dan Harits tidak menentukan pasangan maupun tim berdasarkan gender. Menurutnya, pertimbangan utama yang digunakan adalah kapasitas individu dan kemampuan yang dimiliki.

“Kita memetakan bahwasanya siapa saja sosok-sosok penting yang bisa membawa kemampuan lebih baik tanpa membedakan mana laki-laki dan mana perempuan,” ujar Bhiva.

Fallujah turut menyoroti budaya organisasi yang masih berpotensi melanggengkan candaan seksis dan stereotipe gender. Ia menilai organisasi perlu lebih peka dalam menciptakan lingkungan yang nyaman bagi seluruh anggota.

“Banyak sekali perempuan yang merasa ketika mereka berada dalam suatu diskusi tertentu, ada bercandaan bercandaan seksis yang mungkin terlontar tanpa sengaja,” ucap Fallujah.

Merespons hal tersebut, Harits menekankan pentingnya kode etik untuk mencegah perilaku diskriminatif. Ia menegaskan bahwa organisasi tidak seharusnya memberi ruang bagi tindakan maupun ucapan yang tidak pantas.

“Karena tidak pantas hal itu dilakukan, bahkan di luar organisasi pun tidak akan sebenarnya. Kalau seandainya terlontar, maka ada konsekuensi yang menanti,” tegas Harits.

Keyakinan Harits-Bhiva untuk Maju di Tengah Krisis Kepercayaan

Sebagai penutup pembahasan, Rhido mempertanyakan keyakinan Harits-Bhiva untuk maju sebagai paslon Ketua dan Wakil Ketua BEM Kema Unpad. Pertanyaan tersebut muncul setelah diskusi mengenai program kerja dan berbagai tantangan organisasi mahasiswa.

“Kenapa Kang Harits dan juga Kang Bhiva itu sangat yakin untuk naik menjadi kabem (Ketua BEM) dan wakabem (Wakil Ketua BEM) Kema Unpad?” tanya Rhido.

Menanggapi hal tersebut, Harits mengakui adanya krisis kepercayaan di lingkungan organisasi mahasiswa yang dinilai menghambat keberanian untuk mengambil peran. Meski dihadapkan dengan berbagai keterbatasan, ia menegaskan tetap maju dengan keyakinan bahwa masih ada hal yang dapat diusahakan bersama.

“Pertama, melihat kondisi kita pada hari ini yang krisis kepercayaan antara satu sama lain, tentu kami hadir di sini dengan segala keterbatasannya. Namun, kami selalu yakin masih selalu ada hal yang bisa diusahakan, masih ada mimpi yang harus diciptakan. Makanya, kami hadir pada hari ini dengan penuh keyakinan,” tegas Harits.

Bhiva menambahkan bahwa dirinya dan Harits bukanlah sosok ideal, melainkan masih memiliki kekurangan. Ia juga memahami besarnya tanggung jawab sebagai pemimpin BEM Kema Unpad. Namun, ia menegaskan keputusan mereka maju didasari keyakinan bahwa harapan mahasiswa masih ada dan BEM Kema Unpad membutuhkan pemimpin yang empati.

“Sebenarnya tidak ada sesuatu yang ideal itu. Kami juga meyakini adanya kekurangan dari kami. Kami juga paham BEM Kema Unpad tanggung jawabnya besar. Tapi kami tahu, harapan Kema Unpad itu masih ada. Kami sangat yakin bahwasanya BEM Kema Unpad itu memang harus dipimpin oleh pemimpin yang memiliki empati,” tambah Bhiva.

Penulis: Nabilah Dwi Anindya, Ariesta Maulidyah Mutiara Tsani

Editor: Anindya Ratri Primaningtyas, Rofi Roudhiatin Dwi Andini, Fernaldhy Rossi Armanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

slot mahjong

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 999990036

article 999990037

article 999990038

article 999990039

article 999990040

article 999990041

article 999990042

article 999990043

article 999990044

article 999990045

article 999990046

article 999990047

article 999990048

article 999990049

article 999990050

article 710000081

article 710000082

article 710000083

article 710000084

article 710000085

article 710000086

article 710000087

article 710000088

article 710000089

article 710000090

article 710000091

article 710000092

article 710000093

article 710000094

article 710000095

article 710000096

article 710000097

article 710000098

article 710000099

article 710000100

article 710000101

article 710000102

article 710000103

article 710000104

article 710000105

article 710000106

article 710000107

article 710000108

article 710000109

article 710000110

article 710000111

article 710000112

article 710000113

article 710000114

article 710000115

article 710000116

article 710000117

article 710000118

article 710000119

article 710000120

cuaca 638000021

cuaca 638000022

cuaca 638000023

cuaca 638000024

cuaca 638000025

cuaca 638000026

cuaca 638000027

cuaca 638000028

cuaca 638000029

cuaca 638000030

cuaca 638000031

cuaca 638000032

cuaca 638000033

cuaca 638000034

cuaca 638000035

cuaca 638000036

cuaca 638000037

cuaca 638000038

cuaca 638000039

cuaca 638000040

cuaca 638000041

cuaca 638000042

cuaca 638000043

cuaca 638000044

cuaca 638000045

cuaca 638000046

cuaca 638000047

cuaca 638000048

cuaca 638000049

cuaca 638000050

cuaca 638000051

cuaca 638000052

cuaca 638000053

cuaca 638000054

cuaca 638000055

cuaca 638000056

cuaca 638000057

cuaca 638000058

cuaca 638000059

cuaca 638000060

cuaca 638000061

cuaca 638000062

cuaca 638000063

cuaca 638000064

cuaca 638000065

cuaca 638000066

cuaca 638000067

cuaca 638000068

cuaca 638000069

cuaca 638000070

cuaca 638000071

cuaca 638000072

cuaca 638000073

cuaca 638000074

cuaca 638000075

cuaca 638000076

cuaca 638000077

cuaca 638000078

cuaca 638000079

cuaca 638000080

cuaca 638000081

cuaca 638000082

cuaca 638000083

cuaca 638000084

cuaca 638000085

cuaca 638000086

cuaca 638000087

cuaca 638000088

cuaca 638000089

cuaca 638000090

cuaca 638000091

cuaca 638000092

cuaca 638000093

cuaca 638000094

cuaca 638000095

cuaca 638000096

cuaca 638000097

cuaca 638000098

cuaca 638000099

cuaca 638000100

cuaca 898100101

cuaca 898100102

cuaca 898100103

cuaca 898100104

cuaca 898100105

cuaca 898100106

cuaca 898100107

cuaca 898100108

cuaca 898100109

cuaca 898100110

cuaca 898100111

cuaca 898100112

cuaca 898100113

cuaca 898100114

cuaca 898100115

cuaca 898100116

cuaca 898100117

cuaca 898100118

cuaca 898100119

cuaca 898100120

cuaca 898100121

cuaca 898100122

cuaca 898100123

cuaca 898100124

cuaca 898100125

cuaca 898100126

cuaca 898100127

cuaca 898100128

cuaca 898100129

cuaca 898100130

cuaca 898100131

cuaca 898100132

cuaca 898100133

cuaca 898100134

cuaca 898100135

article 868100071

article 868100072

article 868100073

article 868100074

article 868100075

article 868100076

article 868100077

article 868100078

article 868100079

article 868100080

article 868100081

article 868100082

article 868100083

article 868100084

article 868100085

article 868100086

article 868100087

article 868100088

article 868100089

article 868100090

article 888000081

article 888000082

article 888000083

article 888000084

article 888000085

article 888000086

article 888000087

article 888000088

article 888000089

article 888000090

article 888000091

article 888000092

article 888000093

article 888000094

article 888000095

article 888000096

article 888000097

article 888000098

article 888000099

article 888000100

article 328000646

article 328000647

article 328000648

article 328000649

article 328000650

article 328000651

article 328000652

article 328000653

article 328000654

article 328000655

article 328000656

article 328000657

article 328000658

article 328000659

article 328000660

news-1701