kampus cantik
(Poster karya Lisa Angelina pada peringatan International Women’s Day 8 Maret, sumber: Twitter @lotuswhelve )

Jambi, WARTA KEMA – “Yang lebih bikin gue kaget tuh kadang komen-komennya. Kadang orang tuh kan kalo komen suka macem-macem ya, ada yang komennya ngomongin badan, ada yang ngomongnya kayak ‘angkatan 2019 tapi kok tua banget sih?’ Gitu.” ujar Melati (nama samaran) menggebu-gebu. Ia bicara soal pengalamannya ketika fotonya dipublikasikan oleh salah satu akun Instagram favorit orang ramai, @unpadgeulis.

Saya sendiri ingat betul beberapa tahun silam, ketika masih jadi mahasiswa baru. Tiada seorang pun yang absen dari obrolan tentang akun @unpadgeulis, baik laki-laki maupun perempuan. “Kalau berhasil masuk @unpadgeulis pasti kamu akan dikenal banyak orang, tanda pesonamu sudah topcer,” begitu kurang lebih kata seorang kawan dahulu. Saya manggut-manggut saja, setengah mengiyakan setengah bingung

Seorang teman di masa SMA saya—yang saya yakin betul bukan anak Unpad—bahkan punya kegemaran membubuhkan komentar di beberapa unggahan akun @unpadgeulis. Melihatnya, saya mengernyit sedikit. Memang seterkenal itu ‘kah akun satu ini?

Followlah Daku, Ku Kau Endorse

Berbekal rasa ingin tahu, suatu hari saya iseng menanyakan tarif iklan produk pada akun @unpadgeulis. Orang di balik akun ini, yang saya sapa dengan sebutan ‘Mimin’, menjawab bahwa harga berkisar antara 100 sampai 150 ribu rupiah untuk satu unggahan story/feed/reels. Ucap Mimin, kedua jenis unggahan terakhir tadi nantinya akan dipertahankan selama satu bulan. Meski begitu, biaya tambahan diperlukan jikalau pelanggan ingin mengunggah multiple feeds. Setiap penambahan satu foto dikenakan tarif seharga 5 ribu rupiah, sedangkan untuk video nilainya bisa berlaku dua kali lipat. 

Selain iklan dalam bentuk story/feed/reels, Mimin @unpadgeulis juga menawarkan jasa pajang akun di bio Instagram mereka. “1,5 juta per bulan, Kak,” ungkapnya.

Meski hanya berbekal 146 ribu followers dengan engagement yang gila-gilaan serta wajib menelusuri akun para mahasiswi geulis secara konsisten, mendengarnya saya jadi ngiler sedikit. Kalau saja saya dapat bayaran segitu per bulan, maka bye Mamah, bye Papah! Anakmu kini sudah mampu bayar UKT sendiri!

Izin Soal Nanti, Lainnya Lebih Penting!

Kamboja (nama samaran), seorang narasumber saya yang lain, mengaku bahwa foto dirinya diunggah akun @unpadgeulis tanpa persetujuannya terlebih dahulu. Ia masih ingat jelas tahun 2020 lalu, ketika seorang teman memberi tahu bahwa ia jadi salah satu yang masuk dalam jajaran perempuan terpilih yang diunggah akun @unpadgeulis. Sontak, Kamboja kaget. Akun @unpadgeulis memang sempat mengikuti Instagramnya beberapa waktu silam, tetapi ia sendiri tidak pernah menerima kabar apa pun soal akun ini, tak terkecuali perihal permohonan izin untuk mengunggah foto dirinya.

Tak hanya Kamboja, baik Melati, Mawar, maupun Anggrek juga memperoleh perlakuan serupa dari akun yang berbeda. Setelah Mimin @unpadgeulis diizinkan untuk mengunggah foto mereka, sebuah akun lain bernama @cantiknyaunpad turut serta melakukan hal yang sama, tetapi kali ini tanpa mengindahkan izin dari yang bersangkutan. Akun @cantiknyaunpad ini seolah merupakan bayangan dari akun @unpadgeulis; senantiasa meniru gerak-geriknya. Bila @unpadgeulis mengunggah foto si A maka tak lama kemudian @cantiknyaunpad ikut mengunggah foto berbeda dari orang yang sama. Sayangnya, akun ini punya pengikut tak seberapa bila dibandingkan dengan @unpadgeulis.

Dari Majelis Taklim, Olshop Halu, Hingga Endorse Pijit

Lain lagi urusan soal respons para narasumber. Dari 6 orang yang saya wawancarai, reaksi keenamnya beragam. Beberapa di antaranya mengaku bahwa foto diri mereka yang diunggah @unpadgeulis tidak menimbulkan efek apapun, sedangkan beberapa lainnya mengaku banyak menerima akibat negatif.

Anggrek, misalnya, mengaku bahwa sejak fotonya diunggah oleh @unpadgeulis, ia tidak merasakan akibat negatif apapun. Meski menerima banyak pengikut baru di akunnya, direct message (DM) yang masuk pun hanya ada di kolom request dan oleh karenanya tak pernah ia acuhkan. Begitu pula dengan Kamboja. Menurutnya, DM yang ia terima hanya berisikan basa-basi ingin berkenalan atau meminta followback saja, tidak kurang dan tidak lebih.

Beda halnya dengan Melati. Ia mengaku senang ketika pertama kali fotonya diunggah oleh akun @unpadgeulis. Kala itu, tak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa akun ini akan mendatangkan hal yang dapat mengganggu ketentraman dirinya. “Bahkan ada ya, tiba-tiba dia nge-chat gue, langsung kayak ngasih CV gitu loh. Ada juga yang pernah DM foto gitu dia lagi ngumpul sama orang-orang pengajian gitu,” terang Melati. Ia mengaku merasa risih ketika menerima pesan dari para pengikut yang datang ketika fotonya diunggah oleh akun @unpadgeulis. 

“Waktu itu juga ada yang nge-follow gue, dia suka ngetag-ngetag gue di post-nya di Instagram. Dah tuh, gue biasa aja kan awalnya karena dia nge-tag doang. Eh, tiba-tiba pas gue liat lagi, bio dia tuh nama gue. Awalnya gue masih diemin, lama-lama dia bikin IG yang namanya ada unsur-unsur nama gue. Masih gue diemin tuh terus gue liat Twitternya. Pas gue liat Twitternya, demi Allah serem banget. Masa foto header-nya dia itu foto kecil gue sama foto kecil dia digabungin, dong. Terus udah gitu gue tegur kan, terus gue nyuruh dia hapus, terus dia hapus, baru gue block,” ungkap Melati.

Hal serupa juga menimpa Lily. Ia mengaku bahwa dirinya sempat merasa senang ketika fotonya diunggah oleh akun @unpadgeulis. Akan tetapi, yang terjadi berikutnya berada di luar dugaan. 

“Ada yang punya usaha bikin kaos distro, gitu. Dia DM, nanya, ‘bisa jadi model katalog, gak? Gue owner-nya, gue anak Unpad, kok’. Dia gak perkenalan dulu dia itu siapa, dia dari mana. Dia ngejelasin tuh dia kayak punya usaha baju gitu-gitu sama temen-temennya yang anak Unpad juga. Terus nanti bakal dibayar. DP dulu terus bajunya nanti bakal dikirim ke rumah aku. Jadi, aku tinggal foto aja dan kirim fotonya ke dia cuma aku tuh kayak minta maaf gitu, gak bisa karena aku gak pernah jadi model. Terus aku juga takut aja gitu, kan belum kenalan juga jadi aku tolak,” terang Lily. 

Begitu saya tanya soal kejelasan asal-usul distro ini, Lily mengaku juga tidak tahu pasti. “Dia cuma ngasih model bajunya gitu loh, gambar bajunya sama nama distronya. Aku nyari nama distronya di IG, tapi gak ada jadi agak sus, ya. Dia juga bilang mau ngirim, otomatis aku harus ngasih alamat aku dong jadi aku agak wah, gitu,” cerita Lily.

Kenanga juga mengalami hal serupa. Ia bahkan mengaku pernah menerima komentar merendahkan dan bernada seksual dari orang tak dikenal. Tak hanya itu, ia menuturkan bahwa dirinya pernah menolak tawaran endorse seseorang. “Endorse nya aneh banget, endorse pijit, kayak spa gitu. Makanya kayak serem gak, sih? Waktu itu pas dapet DM dari dia, aku langsung stalk akunnya. Nah, itu kita dikasih dua pilihan, ada yang langsung review tanpa dipijit jadi kayak review bohongan gitu, ada juga yang boleh manggil mbak pijitnya gitu ke rumah kita,” ungkap Kenanga.

Cerita juga saya dapatkan dari narasumber yang lain, Mawar. Ia mengaku khawatir foto yang diunggahnya di Instagram akan disalahgunakan. “Kalo gue ngepost foto muka gue tuh pasti ada yang ngesave gitu, nah tapi pas gue masuk @unpadgeulis itu yang ngesave kayak dua sampai tiga kali lipat gitu, loh, lonjakannya. Itu kan serem banget gak, sih? Gue takut disalahgunain aja gitu,” ujar Mawar. 

Mawar bahkan sempat berniat meminta akun @unpadgeulis untuk menghapus foto dirinya. Meski begitu, niat ini ia urungkan. Mawar sendiri mengaku bahwa akun @unpadgeulis justru menambah beban bagi dirinya sendiri. Ia merasa khawatir setiap kali ada foto diri yang menurutnya tak sempurna. “Kalau lagi breakout atau gue lagi gendutan, itu jadi pressure,” ucap Mawar.  

Akun [Kampus] Cantik: Sekadar Obrolan Tongkrongan atau Praktik Patriarki yang Melembaga?

Saya bersama seorang reporter Warta Kema lain, Iin, mencoba mewawancarai beberapa narasumber laki-laki yang mengikuti akun Instagram @unpadgeulis. Sebut saja Aprikot, ia mengakui mem-follow akun @unpadgeulis karena rekomendasi teman. “Ini bukan maksudnya menormalisasi gitu, ya, tapi kebetulan di tongkrongan aku—gak tau kalau di tongkrongan orang lain—memang ada celetukan seperti itu. ‘Eh, ada yang cakep, nih’, seperti itulah. Padahal cakep kan memang subjektif, ya. Tapi obrolan seperti itu juga tidak selalu, hanya rare occasions aja,” terang Aprikot. 

Menurutnya, akun semacam @unpadgeulis juga mampu mendatangkan manfaat, seperti membantu karier orang yang fotonya diunggah. Tidak menutup kemungkinan bahwa agensi yang bergerak di bidang entertainment mencoba merekrut talentnya dari akun semacam ini. Selain itu, menurut Aprikot, akun ini juga dapat menjadi validasi akan kecantikan seseorang. “Ada orang yang bisa hidup tanpa validasi dan ada juga orang yang harus hidup dengan validasi, gitu. Menurut aku, akun ini juga menyediakan fasilitas seperti itu karena bagi sebagian orang ada yang melihat diri mereka cantik hanya ketika ada yang bilang mereka cantik, bukan dari dirinya sendiri,” ungkap Aprikot.

Sedangkan Manggis, narasumber saya yang lain, mengaku bahwa akun semacam @unpadgeulis ini mampu menjadi wadah untuk menampung rasa ingin tahu orang banyak. Manggis menuturkan bahwa ia tidak hanya mengikuti akun @unpadgeulis saja, melainkan juga akun @uicantikid. Menurut Manggis, hal ini kiranya dikarenakan anggapan bahwa mahasiswi di kampus UI dan Unpad dikenal cantik oleh banyak orang. Meski begitu, Manggis mengaku bahwa ia sendiri tidak pernah membubuhkan komentar di unggahan akun-akun tadi. 

Beda halnya dengan Aprikot dan Manggis, narasumber yang lain, anggap saja Jeruk namanya, mengaku bahwa ia sering berkomentar di unggahan akun @unpadgeulis. Dari yang kami telusuri, dua komentar di antaranya berbunyi: “cantik banget calon” dan “wow indahnya”. Jeruk sendiri mengaku bahwa ia menyadari akun semacam @unpadgeulis seperti dua mata pisau

“Ini banyak negatifnya sih, ya, kalau disangkutpautkan dengan diskriminasi gender khususnya pada wanita. Tapi mungkin segi positifnya, kalau menurut aku sih ya buat branding biar Unpad banyak dikenal oleh orang-orang luar itu tadi (sama halnya seperti UI yang dikenal dengan akun Instagram @uicantikid),” terang Jeruk. Meski mengaku mendukung kesetaraan gender, Jeruk mengungkapkan bahwa perilakunya yang gemar berkomentar pada unggahan akun @unpadgeulis adalah perihal yang ‘wajar saja sebagai seorang lelaki’.

Dari sisi lain berdatangan pula berbagai protes soal akun kampus cantik semacam @unpadgeulis ini. Salah satunya muncul dari pihak internal Unpad sendiri, yaitu Wakil Kepala Departemen Eksternal Affairs Girl Up Unpad, Lisa Angelina. Pada peringatan International Women’s Day 8 Maret lalu di Kota Bandung, Lisa datang membawa sebuah poster yang dibuatnya sendiri, bertuliskan “AKUN INSTAGRAM [KAMPUS] CANTIK CUMA BENTUK AKAL-AKALAN PATRIARKI”.

Ketika diwawancara Lisa menyatakan, poster ini dibuat atas nama dirinya sendiri dan tidak terafiliasi dengan organisasi Girl Up Unpad. Menurutnya, poster ini dibuat untuk menyadarkan masyarakat—baik perempuan maupun laki-laki, juga bahkan yang turut terlibat dalam aksi IWD itu sendiri—akan pentingnya peran kita dalam memutus rantai patriarki. 

“Kenapa (poster) ini bisa pakai frasa ‘akal-akalan patriarki’? Gue menganggap bahwa patriarki itu soal dominasi. Jadi sifat patriarkal itu maksudnya bentuk mendominasi siapa pun yang termarginalkan, ya. Jadi bukan hanya soal laki-laki mendominasi perempuan. Ini soal patriarkinya itu sendiri. Ketika si admin membuat akun (kampus cantik) tersebut maka mereka berkuasa atas apapun yang mereka ciptakan di sana. Mereka menciptakan lingkungan dan kultur yang toxic itu, dan dominasi itu tentu muncul dari sifat patriarki,” ujar Lisa. 

Menurutnya, keuntungan terbesar justru diraup oleh para pemilik akun kampus cantik. Dengan engagement dan insights yang luar biasa gila-gilaan banget, para Mimin mampu meraup keuntungan dari harga yang dibayarkan pelanggan ketika memasang iklan produk di akunnya. Dengan berbekal consent para mahasiswi (yang juga tidak selalu terjadi), Mimin tentu merasa komentar serta pesan bernada seksual dan diskriminatif yang datang setelahnya tidak lagi menjadi bagian dari tanggung jawab mereka. Lisa menekankan bahwa hal ini perlu menjadi catatan tambahan bagi para perempuan. 

“Gue tentu setuju soal consent dan memang mungkin ada orang-orang yang oke dengan hal tersebut. Tapi bagaimanapun juga ketika hal tersebut menimbulkan bahaya, baik lu sadar atau tidak. Itu juga berhubungan dengan orang banyak dan akan menyebabkan situasi toxic berkepanjangan dan hal itu yang kadang disepelein sama banyak dari kita,” terang Lisa.

Tak hanya itu, Lisa juga mengungkapkan isi pembicaraannya dengan salah seorang pengguna Twitter beberapa waktu lalu. Ia merasa bahwa pembenaran akun kampus cantik sebagai sarana yang mampu memfasilitasi kebutuhan perempuan akan validasi terhadap kecantikannya merupakan wujud nyata dari sistem patriarki yang telah terinternalisasi (internalized patriarchy) pada diri perempuan. 

Menurutnya, urusan ‘validasi’ ini perlu ditelaah lebih lanjut.  “Akan tetap ada orang yang merasa bahwa ‘kalau perempuan butuh validasi ya memangnya kenapa? Toh dia tetap sadar akan dirinya dan lain-lain’. Tapi gue tetap pada keyakinan bahwa kesadaran itu ya hanya ‘kesadaran palsu’, itu hanya di-construct oleh sistem patriarki itu sendiri,” ucap Lisa menutup pembicaraan kami.

Tentu tiada mudah menentukan lajur mana yang ditempati akun-akun Instagram kampus cantik ini. Ia merupakan suatu pusaran kompleks yang mencakup bejibun bahan obrol tongkrongan, consent perempuan, ratusan DM followback dan komentar bernada seksual serta tarif endorse yang berhasil diraup orang-orang di baliknya. Ia perlu dilihat lebih dari itu: suatu sistem dominasi yang terkadang menyembul terkadang sembunyi. Dan saya kira tulisan ini mampu merangkum di mana posisi saya berdiri. 

Penulis: Alissa Wiranova

Reporter: Alissa Wiranova dan Iin Lailatul Ma’rifah
Editor: Alya Fathinah

Author

1 Comment

Avarage Rating:
  • 0 / 10
  • zalfaa , March 19, 2022 @ 11:44

    this article really deserves an award!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

news-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

judi bola online

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

ayowin

yakinjp id

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

JUDI BOLA ONLINE

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

mahjong ways slot

sbobet88

live casino online

sv388

taruhan bola online

maujp

maujp

maujp

maujp

ALEXASLOT138

ALEXASLOT138

sabung ayam online

118000426

118000427

118000428

118000429

118000430

118000431

118000432

118000433

118000434

118000435

118000436

118000437

118000438

118000439

118000440

118000441

118000442

118000443

118000444

118000445

118000446

118000447

118000448

118000449

118000450

118000451

118000452

118000453

118000454

118000455

118000456

118000457

118000458

118000459

118000460

138000351

138000352

138000353

138000354

138000355

138000356

138000357

138000358

138000359

138000360

138000361

138000362

138000363

138000364

138000365

138000366

138000367

138000368

138000369

138000370

138000371

138000372

138000373

138000374

138000375

138000376

138000377

138000378

138000379

138000380

138000381

138000382

138000383

138000384

138000385

158000286

158000287

158000288

158000289

158000290

158000291

158000292

158000293

158000294

158000295

158000296

158000297

158000298

158000299

158000300

158000301

158000302

158000303

158000304

158000305

158000306

158000307

158000308

158000309

158000310

158000311

158000312

158000313

158000314

158000315

168000507

168000509

168000511

168000512

168000513

168000514

168000515

168000516

168000517

168000518

168000519

168000520

168000521

168000522

168000524

168000527

168000529

168000531

168000532

168000533

168000534

168000535

168000536

168000537

168000538

168000539

168000540

168000541

168000542

168000543

168000544

168000545

178000681

178000682

178000683

178000686

178000687

178000688

178000689

178000692

178000693

178000695

178000696

178000697

178000698

178000702

178000705

178000706

178000707

178000709

178000710

178000713

178000716

178000718

178000719

178000720

178000721

178000722

178000723

178000724

178000726

178000727

178000728

178000729

178000730

178000731

178000732

178000733

178000734

178000735

208000156

208000162

208000164

208000171

208000172

208000173

208000174

208000175

208000177

208000178

208000179

208000180

208000181

208000182

208000183

208000184

208000185

208000186

208000187

208000188

208000189

208000190

208000191

208000192

208000193

208000194

208000195

228000356

228000357

228000362

228000364

228000365

228000366

228000367

228000368

228000371

228000372

228000373

228000374

228000375

228000376

228000377

228000378

228000379

228000380

228000381

228000382

228000383

228000384

228000385

228000386

228000387

228000388

228000389

228000390

238000506

238000507

238000508

238000509

238000510

238000511

238000512

238000513

238000514

238000515

238000516

238000517

238000518

238000519

238000520

238000521

238000522

238000523

238000524

238000525

238000526

238000527

238000528

238000529

238000530

238000531

238000532

238000533

238000534

238000535

238000536

238000537

238000538

238000539

238000540

238000541

238000542

238000543

238000544

238000545

238000546

238000547

238000548

238000549

238000550

238000551

238000552

238000553

238000554

238000555

238000556

238000557

238000558

238000559

238000560

238000561

238000562

238000563

238000564

238000565

238000566

238000567

238000568

238000569

238000570

news-1701