subron aidit
Sobron Aidit (Sumber: Tirto)

Bro orangnya tak terkenal. Tulisannya tak satu pun pernah nangkring di halaman buku pelajaran Bahasa Indonesia. Kehadirannya absen selalu dari kanon sastra. Hanya satu persoalan Bro yang dikenal orang ramai: nama belakangnya. 

Bro, alias Sobron Aidit, lahir di Belitung pada tahun 1934. Nama ibunya Marisah, sedang ayahnya bernama Abdullah Aidit. Nama ‘Aidit’ jelas Bro dapatkan dari sang ayah. Sayangnya, tiap kali mendengar nama ‘Aidit’, rakyat Indonesia kebanyakan memilih bergidik, meringis, atau malah mundur ketakutan. 

Sobron memang merupakan adik tiri Dipa Nusantara Aidit, seorang mantan ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terakhir, tepat sebelum partai ini habis dilanda badai TAP MPRS XXV. Nasib Bro tak bisa dibilang beruntung, tapi setidaknya ia punya takdir sedikit lebih baik dari sang kakak. Nyawa Bro tak dihabisi saudara sebangsanya. Cangkul Pulau Buru pun tak pernah ia cicipi. Bro banyak hidup berpindah, mulanya ia bekerja jadi wartawan Peking Review di Tiongkok. Beberapa tahun pasca Revolusi Kebudayaan yang diinisiasi Mao, Bro pindah ke Paris dan kemudian membuka restoran khas Indonesia di sana. 

Bro cukup terkenal sebagai seorang penyair pada masa kepresidenan Soekarno. Tulisannya raib tak berbekas ketika Orde Baru menduduki tampuk kekuasaan. Puisi dan cerpennya dihilangkan, Bro kemudian resmi jadi sosok terlarang. Sayangnya, hingga kini nama Bro masih jarang disebut pada diskusi-diskusi sastra.

Ada satu puisi Bro yang bikin saya terhenyak. Begini bunyinya. 

Bagi yang Tidak Mengerti 

Sedungu dan sekelu itu dia menjalani benuanya

membuat kami berani berkata

tenang-tenang kukatakan dalam dirinya:

tahu tuan, dari mana kami ini?

Dan dia mematungkan diri di keleluasaan padang

dari jauh tampak—mata kami yang melihatnya dengan sayu

berlari bangsa jenisnya merebut arca itu, arca emas

lagi kami bertanya: tuan, sudahkah tuan merantau di benua kami?

Berebutan bangsa jenisnya berpeluk

arca hitam, arca emas—sampai batas

di mana dia melahirkan putri, melahirkan putra

sedang kami menantu untuk membawanya ke kedua kutub

dan dia tidak mengerti

lagi kami membuka suara: tuan, benua apa di sebelah benua ini

yang paginya dan malamnya selalu bercahaya

dan tidak juga tuan kenal

tidak tuan mau berjumpa lama

Puisi ini sejatinya pernah dimuat pada Majalah Indonesia pada Juni 1951 lalu. Sejauh pemahaman saya, yang tentu tak bersanding dengan kata precise—tapi karena indah puisi terletak pada ragam tafsir yang dihasilkannya—Bro bicara soal kolonialisme. Arca emas arca hitam, bisa jadi merujuk pada segala sesuatu yang jadi tujuan pihak kolonial. Bisa rempah, bisa budak, bisa gundik, bisa juga hegemoni pengetahuan. 

Kolonialisme adalah isu yang kehadirannya terasa begitu jauh. Untuk mengingatnya kembali, kita seolah harus melompat melintasi ruang dan waktu. Ada puluh hingga ratus tahun yang perlu dilangkahi, ada setting tempat yang perlu diganti. Tapi alih-alih memikirkan pribumi kelaparan di belantara Jawa, yang kita pikirkan justru suasana kantuk ketika mendengar celoteh guru Sejarah semasa SMA. Isu soal kolonialisme jadi sulit dijangkau orang banyak; ia punya kaitan erat dengan peristiwa lampau yang sudah selesai.

Perjumpaan dengan praktik kolonialisme terjadi hampir setiap hari. Hegemoni pengetahuan satu contohnya. Praktik ini terjadi tiada henti, sifatnya lembut menyusup tanpa pernah kita sadari. Dunia rasanya sudah hampir kiamat, tapi saya masih harus memahami teori antropolog yang dapat kucuran milyar dana dari CIA. Belum lagi ratusan catatan etnografi milik Belanda yang super bias. Sedang ini baru jurusan saya, belum lagi program studi para pembaca sekalian. 

Diskusi soal kolonialisme di Indonesia kiranya terus berkembang. Meski begitu, beberapa di antaranya tak jarang yang bergerak mundur. Beberapa percakapan di Tiktok dan Twitter sempat bicara soal betapa murah hatinya penjajah Belanda yang ‘membantu’ pribumi keluar dari ketertinggalan zaman. Selain itu, tak sedikit rakyat Indonesia yang mencibir Mbak Rara, pawang hujan di Mandalika kemarin. Katanya, aksi Mbak Rara ditertawai para pembalap bule, dan oleh karenanya kita harus ikut merasa malu sebagai bangsa Indonesia. Praktik-praktik semacam ini, saya kira, kaitannya erat sekali dengan perasaan inferior yang tanpa sadar sudah tertanam lebih dahulu dalam diri kita. Orang kulit putih selalu unggul dan superior dalam berbagai hal, sedang kita bangsa kulit berwarna selalu ada jauh di bawahnya. 

Tapi ada benarnya ucapan Bro. Bro, yang dalam cerpen Martin Aleida dikatakan ‘sedang berenang-renang ke surga’, tak keliru soal ‘berebutan bangsa jenisnya berpeluk arca hitam, arca emas’. Meski begitu, secinta dan sekagum apa pun saya pada Bro, tetap tak ingin saya biarkan larik ‘sedang kami menantu untuk membawanya ke kedua kutub’ terus hidup sebagai kenyataan. Dan saya harap saya tak sendiri. 

Penulis: Alissa Wiranova

Editor: Fahmy Fauzy M.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

news-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

judi bola online

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

ayowin

yakinjp id

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

JUDI BOLA ONLINE

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

mahjong ways slot

sbobet88

live casino online

sv388

taruhan bola online

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

118000171

118000172

118000173

118000174

118000175

118000176

118000177

118000178

118000179

118000180

118000181

118000182

118000183

118000184

118000185

118000186

118000187

118000188

118000189

118000190

118000191

118000192

118000193

118000194

118000195

118000196

118000197

118000198

118000199

118000200

118000201

118000202

118000203

118000204

118000205

118000206

118000207

118000208

118000209

118000210

118000211

118000212

118000213

118000214

118000215

128000176

128000177

128000178

128000179

128000180

128000181

128000182

128000183

128000184

128000185

128000186

128000187

128000188

128000189

128000190

128000191

128000192

128000193

128000194

128000195

128000196

128000197

128000198

128000199

128000200

128000201

128000202

128000203

128000204

128000205

138000141

138000142

138000143

138000144

138000145

138000146

138000147

138000148

138000149

138000150

138000151

138000152

138000153

138000154

138000155

138000156

138000157

138000158

138000159

138000160

138000161

138000162

138000163

138000164

138000165

138000166

138000167

138000168

138000169

138000170

148000176

148000177

148000178

148000179

148000180

148000181

148000182

148000183

148000184

148000185

148000186

148000187

148000188

148000189

148000190

148000191

148000192

148000193

148000194

148000195

148000196

148000197

148000198

148000199

148000200

148000201

148000202

148000203

148000204

148000205

168000146

168000147

168000148

168000149

168000150

168000151

168000152

168000153

168000154

168000155

168000156

168000157

168000158

168000159

168000160

168000161

168000162

168000163

168000164

168000165

168000166

168000167

168000168

168000169

168000170

168000171

168000172

168000173

168000174

168000175

178000181

178000182

178000183

178000184

178000185

178000186

178000187

178000188

178000189

178000190

178000191

178000192

178000193

178000194

178000195

178000196

178000197

178000198

178000199

178000200

178000201

178000202

178000203

178000204

178000205

178000206

178000207

178000208

178000209

178000210

178000211

178000212

178000213

178000214

178000215

178000216

178000217

178000218

178000219

178000220

178000221

178000222

178000223

178000224

178000225

188000236

188000237

188000238

188000239

188000240

188000241

188000242

188000243

188000244

188000245

188000246

188000247

188000248

188000249

188000250

188000251

188000252

188000253

188000254

188000255

188000256

188000257

188000258

188000259

188000260

188000261

188000262

188000263

188000264

188000265

198000151

198000152

198000153

198000154

198000155

198000156

198000157

198000158

198000159

198000160

198000161

198000162

198000163

198000164

198000165

198000166

198000167

198000168

198000169

198000170

238000031

238000032

238000033

238000034

238000035

238000036

238000037

238000038

238000039

238000040

238000151

238000152

238000153

238000154

238000155

238000156

238000157

238000158

238000159

238000160

238000161

238000162

238000163

238000164

238000165

238000166

238000167

238000168

238000169

238000170

238000171

238000172

238000173

238000174

238000175

238000176

238000177

238000178

238000179

238000180

238000181

238000182

238000183

238000184

238000185

228000051

228000052

228000053

228000054

228000055

228000056

228000057

228000058

228000059

228000060

news-1701