Poster The Eras Tour Taylor Swift (sumber: Twitter @taylorswift13)

Jatinangor, WARTA KEMA – Penyanyi ternama Taylor Swift menggelar mega konser yang bertajuk “The Eras Tour” di Amerika Serikat. Konser yang dimulai pada 18 Maret dan berakhir pada 9 Agustus 2023 ini mengusung perjalanan karir Taylor Swift dari album pertama hingga album terbarunya, Midnights. Swifties ‘penggemar Taylor Swift’ sangat menantikan konser “The Eras Tour” karena seluruh lagu di album Taylor akan dibawakan pada konser tersebut. 

Konser hari pertama digelar di State Farm Stadium Glendale, Arizona. Pada konser kali ini, Taylor membawakan 44 lagu dalam kurun waktu tiga jam. Penataan panggung yang unik dan konsep kostum yang menarik membuat Taylor tampak memukau pada 10 tema yang ditampilkan. Saat menyanyikan “Fearless” contohnya, Taylor mengenakan gaun rumbai keemasan yang merupakan gaun remake dari kostum “The Fearless Tour” pada tahun 2009. 

Sayangnya, kemegahan “The Eras Tour” hanya bisa dinikmati oleh Swifties di Amerika Serikat saja. Hal ini menimbulkan kecemburuan bagi para penggemar internasional. Saking megahnya konser ini, membuat non-fan yang melihat video “The Eras Tour” di internet tak mau ketinggalan. Salah satunya adalah stand up comedian Kiky Saputri. 

Melalui retweet-nya pada salah satu cuitan berisi video-video cuplikan “The Eras Tour”, Kiky mengungkapkan keinginannya untuk menonton konser tersebut.

“Aaaak kereeen … Aku bukan fans TS (Taylor Swift), tapi pengen banget nonton konsernya … Boleh ga ‘sih? Apa ini khusus buat fans aja?? Duh, takut banget ‘nih dibilang cuma FOMO (Fear of Missing Out) dan ngabisin tiket,” tutur Kiky.

Screenshot Tweet Kiky Saputri Terkait “The Eras Tour” (sumber: Twitter @kikysaputrii)

 

Retweet Kiky terkait “The Eras Tour” pun mendapatkan banyak komentar, baik dari Swifties maupun masyarakat umum. 

“Iya, ga dibilang FOMO kok, tapi janji ya sepanjang konser ga cengo doang mangut-mangut?” ucap pengguna Twitter @anniemcpheee.  

Namun, tak sedikit juga yang berpendapat bahwa semua orang bisa menonton konser penyanyi manapun. 

Gapapa kak, yang punya uang ‘kan kakak (Kiky), itu hak kakak mau nonton konsernya apa enggak, ngapain harus takut?” tutur pengguna Twitter yang membela Kiky. 

Tak hanya Swifties, cuitan ini juga menimbulkan perhatian dari Blink ‘penggemar Blackpink’. Kiky dianggap menyindir Blink terkait permasalahan sebelumnya ketika Kiky sempat ‘dirujak’ karena mengambil jatah kursi section VIP pada konser “Born Pink” yang digelar oleh BLACKPINK. Meskipun berdalih mendapatkan kursi VIP tersebut setelah men-upgrade tiket, sejumlah pengguna Twitter menilai Kiky egois karena mengambil jatah kursi yang seharusnya dapat ditempati oleh orang lain. Karena tindakannya tersebut, Kiky mendapat julukan sebagai orang yang Fear of Missing Out (FOMO). Sebenarnya, apa itu FOMO?

 

Empat personil BLACKPINK berpose bersama penggemar di konser Born Pink Jakarta (sumber: Twitter @BLACKPINK)

 

Menurut Przyblylski, Murayama, DeHaan dan Gladwell, FOMO adalah ketakutan akan kehilangan momen berharga. Fomo ditandai dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan apa yang orang lain lakukan melalui internet atau dunia maya. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Przyblylski, FOMO lahir dari ketidakpuasan terhadap kebutuhan dasar psikologis, yaitu competence, autonomy, dan relatedness

Competence adalah keinginan dari dalam diri seseorang untuk menjadi sosok yang pandai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Tanpa competence, seseorang akan mudah merasa stres dan putus asa.

Autonomy adalah fase ketika seseorang dapat menentukan tindakannya sendiri tanpa dikontrol orang lain. Apabila orang tersebut kekurangan kebutuhan autonomy, ia akan penasaran dan mencari berbagai informasi, serta berhubungan dengan orang lain melalui internet. 

Relatedness merupakan salah satu kebutuhan dasar psikologis seseorang untuk dapat merasa terhubung dengan orang lain. Kurangan kebutuhan relatedness dapat membuat seseorang merasa cemas dan mencoba mencari tahu apa saja yang sedang dilakukan oleh orang lain, baik teman-teman maupun relasi terdekat. 

Melalui kasus Kiky Saputri, kita dapat sedikit memahami alasan sebagian Swifties dan Blink menilai Kiky sebagai orang yang FOMO. Ungkapan Kiky bahwa dirinya bukan Swifties, tetapi ingin menonton konser “The Eras Tour” menggambarkan usaha Kiky untuk terhubung dan menjadi bagian dari topik tersebut. 

Bagaimana, Sobat Warta? Apakah Kiky Saputri dan non-fan lainnya dapat dikatakan sebagai ‘kaum’ FOMO karena ikut menonton konser? Apakah Sobat Warta setuju bahwa solo concert atau concert tour hanya diperuntukkan untuk fans saja? Berikan komentarmu ya!

 

Reporter: Soraya Firmansjah

Penulis: Soraya Firmansjah

Editor: Khansa Nisrina Pangastuti

 463 total views,  5 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *