Sandiaga Uno memberikan sambutan di acara Pengamat Fest 2022 pada Minggu (21/08). 
Foto: Dokumentasi Pribadi

Pengamat Negeri berkolaborasi dengan Saga Creative Hub mengadakan Pengamat Fest 2022 pada Minggu (21/08) dengan mengangkat tema “Merdeka Berkarya Menuju Era Metadata.” Festival ini diadakan untuk menyongsong digitalisasi di Indonesia dalam menyukseskan program Indonesia emas 2045 mendatang. Acara yang diadakan secara daring tersebut dihadiri juga oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno. Sandiaga Uno mendukung Pengamat Fest agar menjadi inovasi bagi para pemuda terus aktif berkembang bagi kemajuan Indonesia. 

Acara tersebut juga didatangi banyak tokoh yang berkecimpung di dunia industri berkaitan dengan data, seperti Infoasikdimas (Food Vlogger), Hanifah Azizah, (Founder @Dasarhukum.id), Muhammad Zul Karami, (Founder @TheLocalEnablers), Abdul Latif Wahid Nasution (CEO Kepul), Teddy Firman Supardi (Regional Head Public Policy and Government Relations of Gojek), Bagas Adhadirgha (Sekretaris Jenderal BPP HIPMI), M. Pradana Indraputra (Staf Khusus Bidang Peningkatan Pengusaha Nasional, Kemeninves/BKPM), dan Satya Hangga Yudha (Sekretaris Jenderal Mata Garuda 4.0, Penerima Beasiswa LPDP, dan  Presiden Indonesian MSU Alumni Association). 

Kedua narasumber Pengamat Festival yang merupakan influencer, Hanifah Azizah dan Dimas menganggap bahwa merdeka berkarya adalah kebebasan dalam berkarya tanpa harus merasa tertekan dan tidak menyalahi aturan yang ada. Hanifah juga mencerita caranya mendapatkan inspirasi dalam berkarya.

“Sebagai pemuda kita harus kritis dengan apa yang terjadi sekarang di masyarakat salah satunya dengan cara kreatif berkonten. Ide konten itu bisa didapatkan dari mana saja dan tidak akan habis-habis, bisa saja didapatkan dari polling permintaan, inspirasi dari beberapa kegiatan berkorelasi, dan inspirasi konten orang lain tapi tidak menjiplak yang kemudian bisa dicatat, diramu dan dieksekusi. Selain itu, tantangan dari berkarya salah satunya dari komentar-komentar negatif orang lain, kita harus bijaksana menanggapinya jadikan hal itu sebagai penyemangat kita,” ujar Hanifah.

“Data sebenarnya kita gunakan untuk efisiensi audiens serta konsistensi dan inovasinya apa untuk mengetahui apa yang audiens ini butuhkan,” jelas Hanifah mengenai fungsi data bagi influencer sepertinya.

Sedangkan, pandangan berbeda datang dari Abdul Latif dan Teddy Firman Supardi yang merupakan pegiat bisnis. Menurut mereka, merdeka berkarya adalah berani berbeda dari orang lain dan tidak takut gagal untuk dapat memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Teddy mengatakan tantangan berbisnis dan pentingnya data dalam berbisnis.

“Pada bidang bisnis, tantangan ada saat awal perintisan bisnis salah satunya dalam tahap pengumpulan data, itulah mengapa data itu sangatlah penting,” kata Teddy yang berpengalaman dalam membangun The Local Enablers. The Local Enablers merupakan Jatinangor Creative Forum untuk melakukan pendekatan dan pemberian knowledge kepada pemuda atau mahasiswa yang memiliki potensi lain untuk mengembangkan produk unggulan sebagai solusi dari masalah-masalah yang ada di sekitar mereka.

Pada akhir acara, dapat disimpulkan bahwa inovasi dan teknologi harus beriringan dengan empati dan permasalahan yang ada di sekitar agar bisa memberikan solusi yang berdampak. Data bisa menjadi boomerang jika data tersebut tidak dijaga dengan aman privasinya. “Information or data is a new goals” kalimat tersebut menyebabkan banyak data yang diperjualbelikan. Dengan data, pandangan orang bahkan kebijakan pemerintah bisa berubah. Pesan untuk para pemuda Indonesia dari Dimas, “meleklah data sejak dini.”

Penulis: Iin Lailatul Ma’rifah

Editor: Disma Alfinisa

Leave a Reply

Your email address will not be published.