cretivox katanya
Press Conference Online “Katanya” (sumber Youtube/Cretivox)

Jatinangor, WARTA KEMA – Indonesia adalah suatu tempat penuh dengan berbagai mitos yang telah diceritakan secara turun-temurun. Mitos tersebut beragam dan masing-masing daerah di Indonesia mempunyai mitos unik yang dipercaya oleh masyarakat sekitar.

‘Katanya’ adalah karya kolaborasi antara Vision+ Originals dan Cretivox. ‘Katanya’ mengangkat topik-topik yang dianggap mitos dan tabu di seluruh Indonesia. Docuseries yang dibintangi oleh Ben Sihombing sebagai narator ini mengupas 10 mitos dan tabu yang tidak asing di masyarakat dengan membawa narasumber yang ahli di topik tersebut. 

Cretivox adalah sebuah platform media yang membuat konten seputar tema social experiments, bertanya mengenai opini orang-orang awam. Ranah docuseries merupakan suatu hal yang baru dijelajahi oleh Cretivox. Topik mitos dipilih menjadi docuseries perdana Cretivox karena mitos sangat dekat dengan kebudayaan Indonesia. 

“Ini tuh (mitos-mitos) kita banget, keseharian kita banget, dan kalau digali lebih dalam, harusnya relatable dan sharable, dan harapannya bisa menghibur dan memberikan edukasi,” ujar Lukman Benjamin Mulia, CEO dari Cretivox Broadcasting Networks ketika ditanya mengapa memilih topik mitos untuk diangkat pada (15/3). Ia juga mengungkapkan bahwa keinginan Cretivox untuk membuat docuseries ini sudah ada sejak lama, tetapi mereka belum memiliki kapabilitas untuk membuat proyek tersebut. 

Proyek ini sudah digarap sejak tahun 2020, di mana Cretivox bekerja sama dengan Vision Plus untuk riset dan membuat topik mitos dan tabu ke dalam bentuk docuseries. Director ‘Katanya’ Patricia Giovanni menyatakan untuk menentukan topik-topik yang akan diangkat, ia memilih topik yang dianggapnya dekat dan relatable kepada anggota timnya agar proses riset dan pemilihan narasumber dapat berjalan lebih mudah. 

Ben Sihombing sebagai narator di series ini mengungkapkan hal yang ia sukai dari docuseries ‘Katanya’ adalah fakta beberapa perspektif dari narasumber-narasumber berbeda yang dibahas dalam satu episode. Hal ini akan membantu penonton untuk mengambil kesimpulan mereka sendiri terhadap topik tersebut. 

Secara pribadi, Ben sendiri mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan salah satu mitos yang diangkat di ‘Katanya’. “Paling seru adalah episode ‘Maghrib’ karena produksinya sangat personal. Jadi, saya punya oma yang di tahun 80-90an, keluar rumah ke pasar saat maghrib dan mengalami kecelakaan tertabrak kereta api,” ujarnya. 

Dengan dibuatnya series ‘Katanya’, diharapkan dapat mengenalkan orang-orang kepada genre dokumenter yang baru. “Docuseries ini dibentuk untuk melestarikan budaya. Bentuknya memang sangat niche. Series-nya ga terlalu berat dan dibuat relateable jadi harapannya bisa diterima dan membuka jalan untuk genre documentary yang baru,” ujar Lukman. 

Semua episode dari ‘Katanya’ sudah dapat ditonton melalui aplikasi Vision+ yang bisa di-download melalui Google Store atau App Store. Tiga episode pertama series ini dapat ditonton secara gratis. 

Penulis: Kinanthi Ayu Larasati 

Reporter: Kinanthi Ayu Larasati

Editor: Alya Fathinah

Leave a Reply

Your email address will not be published.