SHBI: Mahasiswa Bertanya, Rektor Menjawab

Loading

(Diskusi Bersama Rektor Unpad pada Acara Satu Hari Bersama Ibu, sumber: Fahmy Fauzy)

Jatinangor, WARTA KEMA-Gelaran acara Satu Hari Bersama Ibu (SHBI) yang diselenggarakan oleh BEM Kema Unpad  telah usai pada Selasa (25/7). Acara yang memberikan ruang bagi mahasiswa Unpad untuk berinteraksi langsung dengan Rektor dan jajarannya tersebut mengangkat 10 poin pembahasan.

10 poin pembahasan yang diangkat adalah; (1) Kenaikan uang kuliah tunggal, (2) Evaluasi penerimaan dan penyelenggaraan KIP-K, (3) Pembentukan satgas disabilitas, (4) Meninjau perkembangan sekolah vokasi, (5) Optimalisasi fungsi sarana dan prasarana, (6) Evaluasi kurikulum, tenaga pendidik, dan dosen, (7) Evaluasi laporan tahunan Unpad, (8) Evaluasi KKN pengabdian masyarakat, (9) Evaluasi birokrasi Unpad, dan (10) Kesenjangan pengelolaan antara kampus utama dan PSDKU.

Jalannya sesi pembahasan acara SHBI dipimpin langsung oleh Mohamad Haikal Febrian Syah selaku Ketua BEM Kema Unpad. Diskusi diawali dengan pembahasan mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang memberatkan sebagian mahasiswa hingga terpaksa untuk melakukan cuti, bahkan berhenti kuliah. 

Berdasarkan data yang diterima oleh BEM Kema Unpad terdapat 3 orang mahasiswa yang cuti kuliah, satu diantaranya dicutikan pihak kampus. Selain cuti kuliah, BEM Kema Unpad juga menerima laporan bahwa ada 2 mahasiswa yang berhenti kuliah, salah satu dari 2 mahasiswa tersebut diberhentikan langsung oleh pihak kampus.

Menanggapi laporan tersebut, Rektor Unpad, Rina Indiastuti mengatakan bahwa pihaknya akan membantu mahasiswa yang tidak mampu untuk membayar biaya uang kuliah. Namun, sebelum bantuan biaya tersebut diberikan, akan ada proses investigasi atau pemeriksaan yang dilakukan.

“Komitmen kami adalah, kalau ditemukan mahasiswa betul-betul ya setelah di investigasi, kan pasti ada investigasi dulu lalu ditemukan memang tidak mampu pasti kami bantu,” kata Rina.

(Tangkapan Layar dari Bahan Presentasi BEM Kema Unpad, sumber: BEM Kema Unpad)

Selain membahas permasalahan UKT dan anggaran yang dikeluarkan oleh kampus, forum bersama Rektor Unpad juga membahas mengenai permasalahan yang terjadi pada Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU). Pada pembahasan itu, Akmalulhuda Fauzan perwakilan dari kampus PSDKU Pangandaran mengeluhkan fasilitas kampus PSDKU yang tidak layak.

“Walaupun dengan kondisi gedung yang seperti itu, kami tidak bisa berucap kembali perihal kondisi seperti itu. Kami cuma bisa berharap buat bisa diperbaiki, karena kita sekarang berbicara siaga untuk permasalahan demi keamanan kampus. Karena ditakutkan ketika mahasiswa sedang berkegiatan itu atap roboh, apalagi sebentar lagi kita akan menyambut maba (mahasiswa baru),” ungkap Akmal saat menyampaikan keluhannya kepada Rektor.

“Bahkan baru-baru ini di toilet lantai empat itu roboh semua, terus kemarin sebelum berangkat ke Jatinangor beberapa bata di tempat ruang prodi itu ada yang runtuh juga, terus plafon lantai tiga depan kelas juga ada yg rubuh dan yang perlu dikhawatirkan itu mahasiswa dari Ilkom, kemarin kelasnya itu atapnya jebol,” jelas Akmal.

Menerima keluhan dari Akmal, Direktur Sarana, Prasarana, dan Manajemen Aset, Edward Henry menanggapi persoalan.

“Hari selasa minggu lalu, hari selasa dan rabu saya ada disana (PSDKU Pangandaran).  Jadi melihat apa yang ada di gambar ini, sejauh ini untuk kegiatan perkuliahan rasanya belum terlalu terganggu ya pendapat saya, karena kelas relatif aman. Jadi yang di foto ini bagian dari selasar yang rubuh,” 

“Nah apa yang akan kita lakukan? Kami sudah berhitung dan untuk yang plafon ini, yang ada di gambar ini akan segera kami kerjakan di bulan Agustus di minggu ketiga, paling lambat di minggu keempat.”

Setelah seluruh paparan bahasan yang diangkat selesai, acara SHBI ditutup dengan pemberian  rekomendasi kebijakan dan policy brief kepada pihak rektorat dari aliansi BEM se Unpad.

Penulis : Fahmy Fauzy Muhammad

Editor : M. Roby Septiyan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *