Tim Muhibah Angklung Foto Bersama di Times Square, New York (Foto: Dokumen Pribadi | Anisa Nandareta)

Jatinangor, WARTA KEMA – Tim Muhibah Angklung merupakan sekelompok anak muda yang menampilkan permainan angklung dan memperkenalkannya ke khalayak luas. Sebelumnya, mereka berhasil menjajaki Benua Eropa dan Benua Australia. Tahun ini, Tim Muhibah Angklung menjelajahi benua baru, yaitu Benua Amerika. Keberhasilan Tim Muhibah Angklung mengelilingi benua baru ini diawali dari misi besarnya, yaitu memperkenalkan angklung ke seluruh dunia. Mahasiswa Unpad, yaitu Anisa Nandareta (Aen), mahasiswi FISIP angkatan 2019, Nisrina Hasna Khairunnisa (Hasna), mahasiswi FKEP angkatan 2019, dan tujuh mahasiswa Unpad lainnya juga turut serta menjadi bagian dari Tim Muhibah Angklung.

Pertunjukan Tari Tim Muhibah Angklung di Amerika (Foto: Dokumen Pribadi | Anisa Nandareta)

Perjalanan Tim Muhibah Angklung untuk memperkenalkan angklung di Amerika memakan waktu selama 33 hari, sejak 3 Juli hingga 4 Agustus lalu. Aen dan Hasna bersama dengan anggota lainnya berhasil mengelilingi beberapa kota, seperti New York, Washington DC, dan San Francisco. Di negeri Paman Sam, penampilan Tim Muhibah Angklung juga dimeriahkan dengan penampilan lainnya, seperti paduan suara dan tarian.

Tim Muhibah Angklung dalam pertunjukannya di USA (Foto: Dokumen Pribadi | Anisa Nandareta

“Jadi, kita selalu melaksanakan journey ini, pasti kita mencari sesuatu. Selain motivasi untuk meng-upgrade diri, mencari makna hidup, ada juga motivasi dari segi angklungnya. Untuk kita yang sangat dekat dengan angklung, angklung benar-benar menjadi salah satu alat musik yang istimewa karena punya filosofi yang banyak di dalamnya,” ungkap Aen. 

Angklung dengan ciri khasnya yang memiliki satu not menunjukkan bahwa pertunjukkan angklung tak dapat dilaksanakan hanya dengan satu orang saja, tetapi membutuhkan puluhan orang lainnya untuk menjadikan musik tersebut harmoni. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa angklung memiliki filosofi yang mengajarkan kepada manusia bahwa manusia tidak mampu hidup sendiri dan tidak dapat menggantungkan hidup kepada diri sendiri. Selain itu, puluhan orang yang bermain angklung tersebut juga mengajari untuk saling percaya satu sama lain dan kekeluargaan yang tinggi.

“Istilahnya seperti ini, kalau kita punya info tentang makanan yang enak di kota A, kita pasti ingin membagikan hal tersebut kepada orang-orang. Sedangkan, di sini ada alat musik yang sangat unik dan sangat bermakna serta banyak hal-hal positif yang ada. Kita ingin orang lain juga merasakan itu,” tambah Hasna.

Tim Muhibah Angklung dalam pertunjukannya di USA (Foto: Dokumen Pribadi | Anisa Nandareta)

Perjalanan Tim Muhibah Angklung dalam misi besarnya di Amerika juga tidaklah mudah. Mereka harus bersama-sama mengemban dua tugas dalam satu waktu, contohnya dengan menjadi teknisi transportasi, konsumsi, akomodasi, dan berita-berita yang muncul di internet atau televisi. Memiliki kesimbangan antara kualitas pertunjukan dengan keberhasilan di bidang teknis menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi. Selain itu, kesulitan dari segi pendanaan serta pandemi yang tiba-tiba muncul semakin menghambat perjalanan ke Amerika. 

“Kita sudah pernah dikecewakan oleh pandemi karena pandemi kita harus off dari 2019 sampai 2020. Jadi, selama aku menjalankan persiapan dari 2021 akhir, aku tidak seberharap itu untuk berangkat ke Amerika karena masih pandemi dan betul-betul masih clueless,” ujar Hasna.

Cara bertahan di negeri orang, pelajaran untuk pasrah akan sesuatu, pencarian makna hidup, dan pelajaran-pelajaran hidup lainnya mereka dapatkan dari perjalanan mereka ke Amerika.

Penulis: Rossie Bifani Putri S.

Editor: Disma Alfinisa

Leave a Reply

Your email address will not be published.